Al-Baqarah ayat 183

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 183by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 183SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 183   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.] [O ye who believe! Fasting is prescribed to you as it was prescribed to those before […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 183

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

[Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.]

[O ye who believe! Fasting is prescribed to you as it was prescribed to those before you, that ye may (learn) self-restraint.]

 

1). Kita sekarang berjumpa dengan kata كُتِبَ (kutiba)—dalam pengertian “diwajibkan”—yang ketiga. Yang pertama (ayat 178) tentang hukum qishash, dan yang kedua (ayat 180) tentang washiat. Yang ketiga sekarang ialah tentang shiyam (puasa). Coba renungkan ketiganya, kendati subjek bahasannya berbeda-beda, tetapi jika kita rangkai menjadi satu kesatuan kita akan menemukan bahwa ketiganya sebetulnya berhirarki-piramida-bersyarat. Yang pertama menjadi syarat bagi yang berikutnya. Dasar piramidanya ialah shiyam, tengahnya washiat, dan puncaknya qishash. Tetapi Allah memulai pembahasannya justru dari puncak piramida, karena Dia hendak mengesankan bahwa yang di puncak akan runtuh manakala struktur tengahnya lemah, dan yang di tengah akan runtuh jikalau yang dasarnya melempem. Qishash, seperti telah diuraikan sebelumnya, adalah untuk mensucikan masyarakat dari anasir-anasir yang dapat merusakannya; yaitu para pelaku kejahatan, yang kehadirannya menteror dan mengintimidasi seluruh anggota masyarakat. Sehingga kodifikasinya begini: Shiyam mengajak kita kepada kesucian kehidupan spiritual; washiat mengajak kita kepada kesucian kehidupan sub-sosial (keluarga); sementara hukum qishash mengajak kita kepada kesucian kehidupan sosial. Dengan demikian, kendati shiyam dibahas paling terakhir, tetapi justru menempati posisi paling prinsip, karena bilamana yang satu ini lemah—tidak mencapai tujuan diwajibkannya—secara otomatis dua yang di atasnya pun lemah. Shiyam mengajarkan kepada kita “ketaatan”, washiat adalah objek sakral yang kepadanya “ketaatan” ditujukan, sedangkan qishas merupakan upaya hukum untuk mengedukasi seluruh anggota masyarakat agar memenuhi standar “ketaatan”. “Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: ‘Sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kalian meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.’ Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: ‘Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.’ Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: ‘Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar’.” (2:249)

 

2). Di ayat ini terbahas semua hal yang berkaitan dengan seluk-beluk penting dari puasa. Satu, pihak yang diseru untuk berpuasa, jelas, yaitu dibatasi pada orang-orang yang beriman saja: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ (yā ayyuɦalladzīna āmanū, hai orang-orang yang beriman). Secara fisik semua orang bisa mengambil manfaat dari puasa karena berpuasa itu mengantarkan pelakunya kepada kesehatan yang prima, tetapi dibatasinya seruan di awal ayat ini menunjukkan bahwa tujuan puasa bukan pada sehatnya raga belaka. Dua, status hukumnya pun jelas, dengan menggunakan kata كُتِبَ (kutiba), yang berarti “diwajibkan”. Konsekuensinya, yang sengaja meninggalkannya dihukumi fāsik (melanggar), yang melaksanakannya disebut thā’ah (patuh). Tiga, puasa pun bukan bid’ah kerasulan yang diada-adakan oleh Nabi Muhammad saw karena dengan tegas dikatakan: كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ (kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian). Empat, tujuannya dengan mudah kita tangkap: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (la’allakum ttaqūn, agar kalian bertakwa). Lapar dan haus (sebagai akibat alamiah dari tidak makan dan tidak minum) hanyalah pintu masuk (entry point) untuk menyelam lebih dalam hingga mencapai tujuan ruhani dari puasa: BERTAQWA. Sehatnya raga hanyalah efek sampingan dan permulaan, yang tak perlu dijadikan tujuan. Coba ingat kembali penutup ayat 179 tentang qishash: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (la’allakum ttaqūn, agar kalian bertakwa). Juga ayat 180 tentang perlunya ber-washiat: حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ (haqqan ‘alal-muttaqīn, sebagai kewajiban atas orang-orang yang bertakwa). Dengan demikian antara qishash, washiat, dan shiyam, tidak saja berhirarki-piramida-bersyarat, tapi juga menjadikan TAQWA sebagai penghubung integral di antara ketiganya. “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (33:35)

 

3). Kataصِيَام (shiyām, puasa) muncul 8 (delapan) kali di dalam Alqur’an. Daripadanya, 2 (dua) yang berkenaan dengan puasa Ramadhan (2:183 dan 2:187), 3 (tiga) yang merupakan substitusi dari pembebasan budak; karena membunuh (4:92), karena men-zhihar istri (58:4), dan karena pelanggaran sumpah (5:89), dan 3 (tiga) lagi yang berkaitan dengan hukuman atas pelanggaran dalam pelaksanaan haji dan umrah: ihram (2: 196 dan 5:95) dan mencukur rambut (2:196). Baik puasa Ramadhan ataupun puasa kifarat (hukuman atas pelanggaran), bentuk, kaidah, dan tatacaranya sama. Berbeda dengan ibadah-ibadah lain yang bentuknya selalu afirmasi, صِيَام (shiyām, puasa) justru dalam bentuk negasi. Jadi, yang namanya berpuasa selalu didahuli oleh kata “tidak”: tidak makan, tidak minum, dan tidak bercampur dengan suami atau istri. Tujuannya, agar para pengamal puasa “menegasi” kebergantungannya kepada seluruh eksistensi biologisnya seraya menegaskan eksistensi ruhanianya. Bahwa ketinggian derajat manusia dibanding dengan rivalnya dikalangan hewan-hewan adalah pada eksistensi ruhaniahnya, bukan pada biologisnya. Karena itu, orang yang ingin mencapai Puncak Eksistensi, yang ingin mencapai hakikat Manusia Sejati, harus membebaskan diri dari penjara biologisnya. Dengan niat, para pecandu rokok bisa menanggalkan kebiasaannya. Dengan niat, para pengemil dengan serta-merta berhenti mengunyah. Dengan niat, para pengumbar birahi bisa mengandangkan hasratnya. Dengan niat, mereka yang tidak biasa bangun dini hari bisa dengan mudah melakukannya seara rutin. Dan dengan niat pula, para gossipers (tukang gunjing) menjadi lemah terkulai tak berdaya. Ternyata, hanya dengan niat, semua sumber kerusakan ruhani bisa bertekuk lutut. Karena “niat” (berkehendak) adalah substansi dari ruh. Karena hewan-hewan tidak memiliki eksistensi ruhaniah maka mereka juga tidak bisa berkehendak (ber-“niat”). Berpuasa artinya menghadirkan “niat” di seluruh lini kehidupan. Itu sebabnya puasa tidak punya amalan ritual tertentu (umpamanya berdiri-rukuk-sujud dalam salat dan berkomat-kamit saat berzikir atau baca Qur’an). Berpuasa artinya berkehidupan rutin dan normal, hanya saja meletakkan niat sebagai panglima. “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir itu (hanya) bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang ternak. Dan neraka adalah tempat tinggal (yang pantas bagi) mereka.” (47:12)

 

4). Selain puasa dalam pengertian صِيَام (shiyām), Alquran juga mewartakan jenis puasa yang disebut صَوْم (shawm)—perhatikan baik-baik tulisan dan bacaannya. Sepintas sama, tapi sebetulnya berbeda. Puasa dalam pengertian صَوْم (shawm) Allah perkenalkan melalui kisah Maryam saat wanita suci ini berada di saat-saat yang genting dan penting, menanti kelahiran putranya di suatu tempat yang jauh dari keramaian. “Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: ‘Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan’. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: ‘Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar puasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.” (19:22-26) Dari sini kita lihat bahwa dalam صَوْم (shawm) Maryam tetap minum dari air yang mengalir di bawahnya dan memakan buah kurma yang berguguran kepadanya. Satu-satunya yang dia negasikan ialah, “aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini. Jadi صَوْم (shawm) ini adalah “menahan diri (puasa) untuk tidak berbicara dengan siapapun”. Tentu amalan puasa jenis ini tidak tercakup di dalam puasa jenis صِيَام (shiyām). “Dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.” (66:12)

 

5). Di ayat ini Allah mengatakan bahwa puasa yang diwajibkan itu juga telah diwajibkan kepada agama-agama sebelumnya: كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ (kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian). Apakah benar bahwa umat-umat terdahulu itu (terutama dari rumpun agama samawi) juga ada ibadah puasa baginya? Ternyata memang ada, berdasarkan sumber-sumber berikut ini yang diambil baik dari Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru: Ezra 8:21 dan 10:6 (yang diserukan dan dilakukan oleh Nabi Ezra), Ester 4:16 (yang diserukan dan dilakukan oleh Ratu Ester dan orang Yahudi Susan), II Tawarikh 20 (yang diserukan oleh Raja Yosafat kepada kepada seluruh Yehuda), Daniel 10:2-3, dan Injil Matius 6:16-18. Mari kita kutip Ezra 8:21; “Lalu di pinggir Sungai Ahawa itu aku mengumumkan bahwa semua harus berpuasa dan merendahkan diri di hadapan Allah. Kami berdoa supaya Allah memimpin kami dalam perjalanan itu, serta melindungi kami, anak-anak kami dan segala milik kami.” Di sini jelas kelihatan bahwa puasa merupakan wahana spiritual untuk merendahkan diri di hadapan Allah (takwa). “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab Suci (yaitu): ‘Hendaklah kalian menerangkan isi Kitab Suci itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.’ Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima.” (3:187)

 

6). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

[Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Fudlail berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu".] (Shahih Bukhari no. 37)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Inti kemanusiaan manusia ialah pada “kehendak bebas”-nya. Dan yang namanya “kehendak” pasti bukan materi, bukan bagian dari raga. Masalahnya kemudian, apakah “kehendak” yang menguasai raga atau—sebaliknya—raga yang menguasai “kehendak”? Untuk membuktikannya gampang. Berjanjilah kepada Tuhan untuk ber-“kehendak” menghentikan kebutuhan raga Anda. Puasa. Kalau sukses niscaya Anda akan merasakan kebahagiaan yang tak bisa disuplai oleh raga.

Related Posts

Tinggalkan Balasan