Al-Baqarah ayat 181

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 181by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 181SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 181   فَمَن بَدَّلَهُ بَعْدَ مَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ [Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui.] [If anyone changes the bequest after hearing it, the guilt shall be […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 181

 

فَمَن بَدَّلَهُ بَعْدَ مَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

[Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui.]

[If anyone changes the bequest after hearing it, the guilt shall be on those who make the change. For Allah hears and knows (All things).]

 

1). Pada pembahasan ayat 180 poin 1 telah dikatakan bahwa washiat merupakan kebutuhan seluruh umat manusia. Tetapi kendati demikian, di poin 6 ditegaskan bahwa washiat terutama menjadi kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa: حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ (haqqan ‘alal-muttaqīn). Bagi selain orang-orang yang bertakwa, washiat bisa saja mereka pandang sebagai sesuatu yang sangat penting di dalam kehidupan, tetapi di tangan orang-orang bertakwalah perintah itu menemukan bobot teologis dan sosiologisnya sekaligus. Sehingga perbuatan ber-washiat menjadi suatu tindakan sosial yang harus diertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena di antara ciri-ciri orang bertakwa ialah: (a). Perbuatan sosialnya selalu ditandai oleh sikapnya yang adil (5:8); (b). Tindakan-tindakannya selalu bermuara ke Hari Akhirat (59:18); (c). Selalu membawa yang benar dan membenarkan yang benar (39:33); (d). Mengagungkan hukum-hukum Allah (22:32); (e). Mempunyai semangat berkorban dengan harta dan jiwanya (22:37, 9:44); (f). Mengisi tabung jiwanya dan amalan hari-harinya dengan kebajikan yang sempurna (2:177); (g). Mudah memaafkan (2:237); (h). Memenuhi janjinya secara sempurna walau kepada orang musyrik sekalipun (9:4); (i). Tidak berbuat semena-mena dan melakukan kerusakan di muka bumi (28:83); (j). Menjadikan Alqur’an sebagai sumber pelajaran (69:48). Dengan sifat-sifat ketakwaan seperti itu harapannya washiat benar-benar menjadi sumber kebajikan dan kemaslahatan bagi semua pihak, dan bukan sebaliknya. “Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mu’min, dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka (orang-orang mukmin) berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (48:26)

 

2). Berdasarkan 5:106-108 (yang telah dikutip pada poin 3 ayat 180) washiat—lisan ataupun tulisan—harus disaksikan oleh dua orang yang adil. Keadilan mereka didasarkan pada pengetahuan umum masyarakat. Sebelum bersaksi, mereka juga diambil sumpahnya. Keadilan saksi ini penting sebab washiat adalah masalah harta benda atau sesuatu yang bernilai sehingga sifatnya sangat sensitif. Kalau ada yang salah, alih-alih mendatangkan kebajikan dan kemaslahatan bagi semua pihak, washiat tersebut bahkan bisa menjadi sumber kekisruhan dan perseteruan. Secara manusiawi, kendati saksi telah diakui keadilannya, tetapi bukan berarti tertutup sama sekali pintu kejahatan baginya. Sebagai manusia biasa, saksi masih tetap bisa menciptakan alibi dan dalih sebagai celah untuk suatu saat menyalahi kesaksiannya. Di sinilah pentingnya sakralitas washiat, sehingga para pihak yang terlibat di dalamnya merasa bahwa tindakan-tindakannya itu benar-benar disaksikan juga oleh Allah. Sakralitas itu menemukan bentuknya setelah washiat diadopsi oleh Kitab Suci. Sehingga kalimat ancaman berikut ini bukan lagi diungkapkan oleh pemberi washiat (al-Mushī), tetapi oleh Allah sebagai pembuat syariat: فَمَن بَدَّلَهُ بَعْدَ مَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ (faman baddalaɦu ba’da mā sami’aɦu fainnamā itsmuɦu ‘alālladzīna yubaddilūnaɦu, maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya). Saksilah yang terutama menjadi objek dari ancaman ini. Untuk itu, manakala seseorang telah pernah sekali saja melakukan tuduhan palsu maka tidak pantas lagi diterima sebagai saksi yang adil. “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kalian menerima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (24:4)

 

3). Poros penggalan ayat فَمَن بَدَّلَهُ بَعْدَ مَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ (faman baddalaɦu ba’da mā sami’aɦu fainnamā itsmuɦu ‘alālladzīna yubaddilūnaɦu, maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya) ialah pada kata إِثْم (itsmun, dosa). Defenisi kata ini telah kita bahas di ayat 173 poin ke-4. Kata إِثْم (itsmun, dosa) di ayat 181 ini sudah yang ketiga setelah sebelumnya di ayat 85 dan 173. Di ayat 85, kata إِثْم (itsmun, dosa) ditujukan kepada Bani Israil yang bahu-membahu melakukan perbuatan dosa dan permusuhan: تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِم بِالإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ (tzhāɦarūna ‘alayɦim bil-itsmi wal-‘udwān). Sementara di ayat 173 kata إِثْم (itsmun, dosa) berkaitan dengan makanan-makanan haram: فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ [fa-mani-dlthurra ghayra bāghin wa lā ‘ādin fa-lā itsma ‘alayɦi, tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya]. Maka sesiapa yang mengubah atau mengingkari kesaksiannya dalam hal washiat, Allah menyematkan kepada mereka sifat Israiliat, yang suka mengingkari perjanjian (2:84-86) dan memakan makanan-makanan haram (5:42). Terhadap orang seperti itu Allah sebetulnya tak sekedar mengancamnya dengan dosa, tapi juga dengan kutukan dari langit. “Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: ‘Masuklah kalian ke nagari ini (Baitul Maqdis), dan makanlah daripadanya di mana saja yang kalian sukai sepuasnya, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: ‘Bebaskanlah kami dari dosa’, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik’. Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah (atau wasiat) dengan (wasiat lain) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik.” (2:58-59)

 

4). Manusia bisa dikibuli tapi Allah tidak. Karena إِنَّ اللّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (innallāɦ samī’un ‘alīm, sesungguhnya Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui). Kita mungkin bisa mengambil keuntungan materi dari usaha kita mengubah isi washiat, tetapi dengan keuntungan yang sedikit itu tidak akan mungkin melepaskan diri kita dari murka dan azab-Nya. Karena tidak ada satupun dari gerak tubuh dan gerak hati kita yang luput dari pendengaran dan pengetahuan-Nya. Semuanya terekam pada sebuah Kitab Induk yang ada di sisi-Nya. Murka dan azab-Nya tidak saja kita rasakan nanti di Akhirat, melainkan juga di dunia, lahir dan batin. Sebab kata إِثْم (itsmun, dosa) sendiri merujuk kepada hati yang ternoda. Dan hati yang ternoda akibat perbuatan kita, secara akumulatif, akan menggelapi jiwa hingga kehidupan ini berasa sumpek dan menyesakkan. Keputusan-keputusan hidup akan kacau-balau dan saling berbenturan. Yang kita sangka air ternyata padang pasir yang menghampar se kolong langit. Yang berkesusahan tak berkesudahan. “Jika kalian dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kalian tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kalian mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah, Tuhannya; dan janganlah kalian (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (2:283)

 

5). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنَا الصَّلْتُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ عَنْ رَوْحِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ

{ وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ }

الْآيَةَ قَالَ كَانَ رَجُلَانِ مِنْ قُرَيْشٍ وَخَتَنٌ لَهُمَا مِنْ ثَقِيفَ أَوْ رَجُلَانِ مِنْ ثَقِيفَ وَخَتَنٌ لَهُمَا مِنْ قُرَيْشٍ فِي بَيْتٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ أَتُرَوْنَ أَنَّ اللَّهَ يَسْمَعُ حَدِيثَنَا قَالَ بَعْضُهُمْ يَسْمَعُ بَعْضَهُ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَئِنْ كَانَ يَسْمَعُ بَعْضَهُ لَقَدْ يَسْمَعُ كُلَّهُ فَأُنْزِلَتْ

{ وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ }

الْآيَةَ

Telah menceritakan kepada kami as-Shalt bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zura’i dari Rauh bin al-Qasim dari Manshur dari Mujahid dari Abu Ma’mar dari Ibnu Mas’ud mengenai firman Allah: “Kalian sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu, bahkan kalian mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kalian kerjakan.” (41:22). Ada dua orang Quraisy salah dan seorang lagi dari Tsaqif, atau dua orang dari Tsaqif sedangkan satu lagi dari Quraisy disisi Ka’bah. Salah seorang mereka berkata kepada yang lainnya; “Apakah menurut kalian Allah mendengar perkataan kita ini?” Sebagian berkata: “Dia mendengar sebagian saja.” Sebagian yang lain berkata; “Jika Dia mendengar sebagiannya pasti Dia mendengar semuanya.” Maka turunlah ayat; “Kalian sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu, bahkan kalian mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kalian kerjakan.” (41:22). (Shahih Bukhari no. 4442)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Tahukan Anda kenapa begitu banyak orang yang mudah mengubah atau mengingkari kesaksiannya, baik di tengah-tengah masyarakat ataupun di pengadilan? Jawabannya: Karena mereka telah kehilangan pijakan teologis di segala tindakannya, lahir dan batin. Mereka yakin hanya mereka sajalah yang mengetahui tindakannya tersebut. Mereka lupa bahwa seluruh bagian-bagian tubuh manusia kelak akan bersaksi di hadapan Tuhannya, Allah swt, Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Related Posts

Leave a Reply