Al-Baqarah ayat 179

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 179by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 179SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 179   وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاْ أُولِيْ الأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [Dan bagi kalian dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup, hai orang-orang yang berakal, supaya kalian bertakwa.] [In the Law of Equality there is (saving of) Life to you, o ye men of understanding; that ye may restrain yourselves.]   […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 179

 

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاْ أُولِيْ الأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

[Dan bagi kalian dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup, hai orang-orang yang berakal, supaya kalian bertakwa.]

[In the Law of Equality there is (saving of) Life to you, o ye men of understanding; that ye may restrain yourselves.]

 

1). Bagi sebagian (bahkan mungkin kebanyakan) orang, ayat ini terasa aneh. Bagaimana mungkin di dalam hukum qishash (nyawa dibalas nyawa) ada kehidupan? Untuk memahami ayat ini perlu kiranya kita kutipkan kembali penggalan dari ayat sebelumnya: فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ (faman ‘ufiya laɦu min akhĭɦi syay-un, maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya). Dari sini kita melihat bahwa pada hakekatnya hukum qishash bukanlah hak negara atau hak Tuhan, tetapi hak korban yang diwakili oleh wali atau keluarganya. Andaikata tidak ada sama sekali hak pihak korban di dalamnya (untuk memaafkan pelaku) maka itu bisa dipastikan bahwa hukum qishash benar-benar murni hak Tuhan yang dipaksakan kepada manusia. Tetapi faktanya—berdasarkan penggalan ayat ini—otoritas ada sepenuhnya di tangan wali atau keluarga korban. Jadi hukum qishash pada dasarnya hanya menyalurkan hak wali atau keluarga korban melalui negara sebagai satu-satunya institusi penegak hukum yang berkenaan dengan kepentingan publik. Kalau ini tidak dilakukan, kekacauan sosial akan menyeruak, karena pihak keluarga korban sangat mungkin akan melakukan pembalasan menurut caranya sendiri; dan ini bisa menjadi pembunuhan beruntun dan turun-temurun; bahkan bisa menjadi peperangan antar kelompok. Maka sebenarnya untuk menemukan rasionalitas hukum qishash sangat gampang; yaitu tanyakan kepada wali atau keluarga korban apa kira-kira yang akan mereka lakukan terhadap orang yang membunuh sanak-keluarganya. Pada umumnya manusia akan menjawab, mereka akan menuntut balas terhadap pelaku. Sehingga, dengan begitu, benar-benar pada hukum qishash ada kehidupan.“Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (17:33)

 

2). Itu sebabnya ayat ini dimulai dengan kata: وَلَكُمْ (wa lakum, dan bagi kalian). Huruf “و “ (wawu, dan) di awal ayat menunjukkan bahwa kandungan ayat ini masih merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya, sehingga bisa dipastikan bahwa kata كُمْ (kum, kalian) di sini adalah kata ganti dari الَّذِينَ آمَنُواْ (al-ladzĭna āmanŭ, orang-orang yang beriman), yang merupakan objek atau komunitas yang dipanggil di permulaan ayat 178. Lalu bagaimana kalau kata كُمْ (kum, kalian) kita perluas kepada seluruh manusia; bukankah seluruh manusia memang membutuhkan kehidupan? Bisa juga, tetapi penerapan hukum qishash dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak mungkin dengan serta-merta disetujui oleh mayoritas warga. Perlu diperjuangkan. Konsep dasar dan filosofi hukumnya perlu difahami dan disosialisasikan, sehingga tidak terksan sangar dan menakutkan. Tidak tercitrakan barbarian dan Arabian. Bahwa di dalam hukum qishash ada jaminan akan keberlangsungan حَيَاةٌ (hayātun, kehidupan) yang tenang, damai, dan adil. Dan yang terdepan di dalam memperjuangkannya ialah الَّذِينَ آمَنُواْ (al-ladzĭna āmanŭ, orang-orang yang beriman). Kenapa? Karena asumsi dasarnya, orang-orang yang beriman ialah mereka yang telah menerima dengan “kepala dingin” dan “hati terbuka” bahwa Allah-lah satu-satunya pemilik otoritas hukum di dalam kehidupan ini, termasuk dalam kehidupan antar manusia. “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?…. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) hukum Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.” (5:50 dan 76:24)

 

3). Dengan merujuk kepada pembahasan di poin-1, maka dapat dikatakan bahwa panggilan يَاْ أُولِيْ الأَلْبَابِ (yā ŭlil-albābi, hai orang-orang yang berakal) merupakan pengulangan maknawi dari يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ (hai orang-orang yang beriman). Kalau toh kita hendak melakukan takhshish (pengkhususan), maka أُولِيْ الأَلْبَابِ (ŭlil-albābi, orang-orang yang berakal) harus difahami sebagai yang lebih khusus (lebih sempit wilayahnya) daripada orang-orang yang beriman, baik dari sisi bahasa ataupun dari sisi makna. Dari sisi bahasa, panggilan يَاْ أُولِيْ الأَلْبَابِ (yā ŭlil-albābi, hai orang-orang yang berakal) terletak di dalam rangkaian kalimat yang dimulai dengan يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ (hai orang-orang yang beriman) sehingga sebutan أُولِيْ الأَلْبَابِ (ŭlil-albābi, orang-orang yang berakal) tentu hanya terbatas pada الَّذِينَ آمَنُواْ (al-ladzĭna āmanŭ, orang-orang yang beriman) saja. Artinya, hanya orang-orang yang beriman yang bisa ‘naik pangkat’ menjadi dan dipanggil sebagai أُولِيْ الأَلْبَابِ (ŭlil-albābi, orang-orang yang berakal). Dari sisi makna, أُولِيْ الأَلْبَابِ (ŭlil-albābi, orang-orang yang berakal), ya, orang-orang yang beriman. Karena Allah sendiri yang berfirman: “…maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal, (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu.” (65:10) Tetapi orang-orag yang beriman seperti apa? “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (39:9) Pantas kalau hanya أُولِيْ الأَلْبَابِ (ŭlil-albābi, orang-orang yang berakal) yang bisa memahami bahwa di dalam pelaksanaan hukum qishash itu ada jaminan akan keberlangsungan حَيَاةٌ (hayātun, kehidupan).

 

4). Apakah sudah benar manakala أُولِيْ الأَلْبَابِ (ŭlil-albāb) diartikan dengan “orang-orang yang berakal”? Ada benarnya tapi tidak sepenuhnya benar. Ada benarnya, karena أُولِيْ الأَلْبَابِ (ŭlil-albāb) memang adalah orang yang berakal. Tetapi tidak semua orang yang berakal pantas disebut أُولِيْ الأَلْبَابِ (ŭlil-albāb). Hanya orang berakal yang menggunakan akalnya dengan benar pada hirarki wujud kemudian menindaklanjuti fahaman akalnya itu dengan amalan nyata yang berhak menyandang predikat أُولِيْ الأَلْبَابِ (ŭlil-albāb). Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi أُولِيْ الأَلْبَابِ (ŭlil-albāb, orang-orang yang berakal). (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (3:190-191) Itu sebabnya, di dalam terjemahan Bahasa Inggeris ayat ini, Yusuf Ali, Shakir, dan Pickthal sama-sama mengartikannya dengan “men of understanding” (orang yang memahami). Istilah qishash berasal dari kata qashsha yang berarti “to cut, divide and differentiate” (memotong, membagi, dan membedakan). Sejatinya, orang yang berakal ialah orang yang bisa memotong, membagi, dan membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang makruf dan mangkar, antara Khalifah Duniawi dan Khalifah Ilahi. Hukum qishash bermakna memotong atau mengamputasi person-person yang mengganggu kelangsungan hidup yang tenang dan damai. Kehidupan yang membawa anak-anaknya kepada kebenaran. Sehingga, harapannya, semua individu di dalam masyarakat “bergerak menuju ke puncak hirarki wujud”: bertakwa. “Katakanlah: ‘Tidak sama (antara) yang buruk dan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal, agar kalian mendapat keberuntungan’.” (5:100)

 

5). Penempatan frase لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (la’allakum tattaqŭn, supaya kalian bertakwa!) di akhir ayat menjelaskan adanya kesatuan makna antara hukum qishash dan puasa ramadhan. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, supaya kalian bertakwa!” (2:183) Maknanya, tujuan hukum qishash sama dengan tujuan puasa ramadhan. Sama-sama bermuara kepada “takwa”. Kalau puasa membebaskan orang per orang dari sifat ammarah (yang didorong oleh nafsu hewani), maka hukum qishash membebaskan masyarakat dari pemilik sifat ammarah. Hukum qishash dan ibadah puasa, keduanya membawa manusia ke dalam naungan rahmat Allah. “Dan (kata Yusuf) aku tidak (sanggup) membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafs (jiwa hewani) itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafs (jiwa ilahi) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (12:53)

 

6). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدٍ الْخُزَاعِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى عَنْ حُمَيْدٍ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسًا قَالَ ح و حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ زُرَارَةَ حَدَّثَنَا زِيَادٌ قَالَ حَدَّثَنِي حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

غَابَ عَمِّي أَنَسُ بْنُ النَّضْرِ عَنْ قِتَالِ بَدْرٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ غِبْتُ عَنْ أَوَّلِ قِتَالٍ قَاتَلْتَ الْمُشْرِكِينَ لَئِنْ اللَّهُ أَشْهَدَنِي قِتَالَ الْمُشْرِكِينَ لَيَرَيَنَّ اللَّهُ مَا أَصْنَعُ فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ أُحُدٍ وَانْكَشَفَ الْمُسْلِمُونَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعْتَذِرُ إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ هَؤُلَاءِ يَعْنِي أَصْحَابَهُ وَأَبْرَأُ إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ هَؤُلَاءِ يَعْنِي الْمُشْرِكِينَ ثُمَّ تَقَدَّمَ فَاسْتَقْبَلَهُ سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ فَقَالَ يَا سَعْدُ بْنَ مُعَاذٍ الْجَنَّةَ وَرَبِّ النَّضْرِ إِنِّي أَجِدُ رِيحَهَا مِنْ دُونِ أُحُدٍ قَالَ سَعْدٌ فَمَا اسْتَطَعْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا صَنَعَ قَالَ أَنَسٌ فَوَجَدْنَا بِهِ بِضْعًا وَثَمَانِينَ ضَرْبَةً بِالسَّيْفِ أَوْ طَعْنَةً بِرُمْحٍ أَوْ رَمْيَةً بِسَهْمٍ وَوَجَدْنَاهُ قَدْ قُتِلَ وَقَدْ مَثَّلَ بِهِ الْمُشْرِكُونَ فَمَا عَرَفَهُ أَحَدٌ إِلَّا أُخْتُهُ بِبَنَانِهِ قَالَ أَنَسٌ كُنَّا نُرَى أَوْ نَظُنُّ أَنَّ هَذِهِ الْآيَةَ نَزَلَتْ فِيهِ وَفِي أَشْبَاهِهِ

{ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ }

إِلَى آخِرِ الْآيَةِ وَقَالَ إِنَّ أُخْتَهُ وَهِيَ تُسَمَّى الرُّبَيِّعَ كَسَرَتْ ثَنِيَّةَ امْرَأَةٍ فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْقِصَاصِ فَقَالَ أَنَسٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا تُكْسَرُ ثَنِيَّتُهَا فَرَضُوا بِالْأَرْشِ وَتَرَكُوا الْقِصَاصَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ مَنْ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ

[Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Sa'id al-Khuza'iy telah bercerita kepada kami Abdul A'laa dari Humaid berkata; Aku bertanya kepada Anas. Dia berkata; dn diriwayatkan pula, telah bercerita kepada kami Amru bin Zurarah telah bercerita kepada kami Ziyad berkata telah bercerita kepadaku Humaid ath-Thowil dari Anas ra berkata: "Pamanku, Anas bin an-Nadhar tidak ikut Perang Badar kemudian dia berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku tidak ikut saat pertama kali Tuan berperang menghadapai kaum musyrikin. Seandainya Allah memperkenankan aku dapat berperang melawan kaum musyrikin, pasti Allah akan melihat apa yang akan aku lakukan’. Ketika terjadi perang Uhud dan Kaum Muslimin ada yang kabur dari medan pertempuran, dia berkata: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh mereka, yakni para sahabat Nabi saw (yang lari dari medan perang), dan aku berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh mereka yakni kaum musyrikin’. Maka dia maju ke medan pertempuran lalu Sa'ad bin Mu'adz menjumpainya. Maka dia berkata kepadanya: ‘Wahai Sa'ad bin Mu'adz, demi Robbnya an-Nadhar, aku menginginkan surga. Sungguh aku mencium baunya dari balik bukit Uhud ini’. Sa'ad berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku tidak sanggup untuk menggambarkan apa yang dialaminya’. Anas berkata: "Kemudian kami temukan dia dengan luka tidak kurang dari delapan puluh sabetan pedang atau tikaman tombak atau terkena lemparan panah dan kami menemukannya sudah dalam keadaan terbunuh dimana kaum musyrikin telah mencabik-cabik jasadnya sehingga tidak ada satupun orang yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya yang mengenali jarinya". Anas berkata: "Kami mengira atau berpedapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan dia dan orang yang serupa dengan dia. ("Dan diantara Kaum Mu'minin ada orang-orang yang membuktikan janji mereka kepada Allah") sampai akhir ayat QS. al-Ahzab ayat 23. Dan Anas berkata: "Bahwa saudaranya yang dipangil dengan ar-Rubbai' pernah memecahkan gigi seri seorang wanita lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan agar dilaksanakan hukum balas (qishosh). Maka Anas berkata; "Demi Dzat Yang mengutus Tuan dengan hak, janganlah dibalas dengan mematahkan gigi serinya". Akhirnya mereka setuju dengan pembayaran tembusan dan membatalkan qishosh. Maka Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah ada hamba yang bila bersumpah atas nama Allah pasti akan dilaksanakannya".] (Shahih Bukhari  no. 2595)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Setiap makhluk hidup disertakan pada dirinya naluri untuk memperthankan hidupnya. Pada manusia, kemampuan mempertahankan diri tidak saja melekat pada nalurinya tapi juga pada akal pikirannya. Kombinasi dari keduanya tersimpulkan dalam hukum qishash. Sehingga hukum qishash memenuhi tuntutan naluri dan akal sekaligus. Bangsa dan negara yang ingin menjaga kelangsungan hidup warganya harus menegakkan hukum qishash. Sayangnya, hukum yang berkeadilan hanya bisa tegak jikalau para ulul albab bahu-membahu memperjuangkannya. Andakah orangnya?

Related Posts

Tinggalkan Balasan