Al-Baqarah ayat 168

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 168by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 168SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 168    يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّباً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ [Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi suci dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.] [O ye people! […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 168

 

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّباً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

[Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi suci dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.]

[O ye people! Eat of what is on earth, Lawful and good; and do not follow the footsteps of the evil one, for he is to you an avowed enemy.]

 

1). Ini menarik. Setelah Allah menyuguhkan kepada kita dua rangkaian ayat yang membincang soal hubungan kepengikutan (antara pengikut dan yang diikuti), tiba-tiba Dia meminta kepada seluruh manusia untuk berhati-hati dalam hal makanan. Ini pasti bukan kebetulan. Juga pasti bukan tak punya hubungan dengan ayat-ayat sebelumnya. Kalau kita cermati, Allah punya pesan yang sangat jelas di ayat ini: jikalau hubungan kepengikutan tidak mengikuti akal sehat dan tuntunan Kitab Suci, maka pasti mengikuti tuntunan “perut”. Saat kepengikutan tak lagi memiliki aspek-aspek teologisnya, dengan serta-merta berubah menjadi soal “makanan” dan “piring”. Orang memilih pemimpin atau imam tak lagi berfikir apa konsekuenasi akhiratnya, tetapi apa yang mereka dapat dengan menjadi pengikutnya. Dan para Khalifah Duniawi tahu persis ini, sehingga menjadikannya bahan permainan kekuasaan. Mereka tahu bahwa manusia paling mudah disandra melalui perutnya. Mereka membagikan setetes keuntungan politiknya kepada ‘ulama’ dan ‘mufti’ (pemilik otoritas untuk berfatwa) dalam berbagai bentuk fasilitas yang memungkinkan ‘ulama’ dan ‘mufti’ tersebut hidup layak dan menjadi tokoh ‘panutan’. ‘Ulama’ dan ‘mufti’ inilah nantinya yang menjadi tameng opini bagi Sang Khalifah sehingga serangan publik tak pernah mendarat langsung di wajahnya. Caranya; menyembunyikan ayat-ayat Allah yang berkenaan dengan Khalifah Ilahi yang sesungguhnya seraya ‘memperhalus’ atau bahkan ‘membelokkan’ makna ayat-ayat yang mengecam para Khalifah Duniawi. “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Kitab Suci dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (2:174)

 

2). Dampak selanjutnya dari perbuatan ‘ulama’ dan ‘mufti’ bayaran ini ialah terpecah-belahnya umat ke dalam berbagai kelompok. Penyebabnya; tiap datang Khalifah Duniawi yang baru selalu punya keinginan dan hasrat politik yang berbeda sebagaimana berbedanya gaya kepemimpinan mereka. Sehingga ‘ulama’ dan ‘mufti’ pun “dipaksa” menyesuaikan fatwa dan opini keagamaan mereka masing-masing, kendati subjek bahasannya sama. Setiap jenis fatwa dan opini ini melahirkan komunitas pengikutnya sendiri-sendiri. Lahirlah mazhab-mazhab. Terbentuklah golongan-golongan. Bergemalah suara-suara. Muncullah ketegangan-ketegangan. Bergandalah masjid-masjid. Akibatnya; kekuatan politik umat tercerai-berai menjadi sebanyak langgar-langgar. Sehingga tidak ada lagi kedamaian di surau-surau, yang ada ialah kebisingan pendapat-pendapat. Para Khalifah Duniawi tinggal menebar jala, menuai keuntungan besar, cukup dengan menerapkan manajemen konflik dari kursi goyangnya sambil mengisap cerutu impornya. “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang suci-bersih, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kalian semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.” (23:51-54)

 

3). Dari pembahasan di poin 1 dan 2, kita bisa memahami makna dari kata حَلاَلاً طَيِّباً (halālan thayyiban, yang halal lagi suci). Yang halal sudah jelas; statusnya: boleh. Lawannya, haram; statusnya: terlarang. Lalu yang thayyibah masuk dimana? Kalau kita artikan thayyibah itu “yang baik”, bukankah yang halal itu secara otomatis juga “baik”? Sehingga mengartikan thayyibah itu “yang baik” hanya akan mengacaukan pengertian halal—muncul kesan bahwa tidak semua yang halal itu baik. Padahal mana mungkin Allah meng-halal-kan sesuatu kalau sesuatu itu mengandung unsur-unsur yang “tidak baik”. Firman-Nya: “… menghalalkan bagi mereka segala yang baik (at-thayyibāt) dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk (al-khabāits)...” (7:157) Juga: “Mereka menanyakan kepadamu: ‘Apakah yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah: ‘Dihalalkan bagimu segala yang baik (at-thayyibāt)…’.” (5:4) “Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik (at-thayyibāt)….” (5:5) Dari ayat-ayat itu jelas bahwa yang halal sudah pasti juga “baik”. Kalau begitu apa itu thayyibah? Ayat berikut ini bisa membantu kita: “Wanita-wanita yang khabĭtsah (buruk) adalah untuk laki-laki yang khabĭts (buruk), dan laki-laki yang khabĭts (buruk) adalah buat wanita-wanita yang khabĭtsah (buruk), dan wanita-wanita yang thayyibah (baik) adalah untuk laki-laki yang thayyib (baik)  dan laki-laki yang thayyib (baik) adalah untuk wanita-wanita yang thayyibah (baik). (Bila) mereka (yang dituduh berzina) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh), (maka) baginya ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (24:26) Kalau begitu thayyibah itu bermakna “bersih dari dosa (dalam hal perbuatan) atau najis (dalam hal makanan)”. “Dan tanah yang baik (at-thayyib), tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang buruk (khabutsa), tanaman-tanamannya tidak tumbuh kecuali dalam keadaan merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (7:58)

 

4). Dengan demikian bekerja di bawah pemimpin yang melakukan (atau mendukung pelaku) kejahatan terhadap kemanusiaan atau menentang ayat-ayat Allah, maka pendapatan yang diterima tidak lagi berkategori حَلاَلاً طَيِّباً (halālan thayyiban, yang halal lagi suci), karena secara tidak langsung membantu mereka melakukan perbuatan buruk tersebut. Bekerja pada mereka sendiri (tanpa berani melakukan teguran sepertimana Musa lakukan terhadap Fir’aun dan Ibrahim terhadap Namrut) sudah menjastifikasi secara halus tindakan-tindakan mereka. Mereka seakan menemukan kekuatan moral di balik keterlibatan ‘ulama’ dan ‘mufti’ di dalam pemerintahan mereka. Itu sebabnya, bagian akhir ayat ini berbunyi: وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ (wa lā tattabi’ŭ khuthuwātis-syaythāni innaɦu lakum ‘aduwwun mubĭn, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu). Allah menyebut mereka sebagai عَدُوٌّ مُّبِينٌ (‘aduwwun mubĭn, musuh yang nyata) karena orang awam pun dengan mudah mengenali mereka. Kalau syaitan yang dimaksud di sini ialah yang berkelebat-kelebat dalam kegelapan dan di rumah-rumah hantu, tentu itu tidak مُّبِينٌ (mubĭn, nyata). “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorangpun dari kalian bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (24:21)

 

5). Hadits Nabi saw.:

أَخْبَرَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ بَهْدَلَةَ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ تَلَا { وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

[Telah mengabarkan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami 'Ashim bin Bahdalah dari Abu Wa`il dari Abdullah bin Mas'ud ia berkata: "Pada suatu hari Rasulullah saw membuat sebuah garis lurus untuk kami, kemudian beliau bersabda: 'Ini adalah jalan Allah', kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya, seraya bersabda: 'Ini adalah jalan-jalan lain (yang tersedia), di setiap jalan tersebut ada syaitan yang mengajak untuk mengikutinya (jalan tersebut). Lalu beliau membaca ayat: ‘Inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan tersebut. Dan, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain. Jika kalian mengikuti jalan-jalan tersebut, niscaya kalian semua akan terpisah dari jalanNya’.”] (Sunan Darimi no. 204)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Sebagai makhluk biologis, manusia sangat tergantung pada makanan dan minuman. Lalu muncul terma lain yang disebut “pendapatan”. Apabila manusia tersandera oleh perutnya maka mereka akan melakukan apa saja untuk mengenyangkannya, termasuk dengan ‘mejual’ ayat-ayat Allah kepada para (pemimpin dan atau pendukung atas) pelaku kejahatan terhadap kemusiaan. Orang yang memakan dari pendapatan seperti itu, maka makanannya tidak lagi berkategori halālan thayyiban (yang halal lagi suci).

Related Posts

Tinggalkan Balasan