Al-Baqarah ayat 165

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 165by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 165SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 165    وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ [Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 165

 

 وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

[Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).]

[Yet there are men who take (for worship) others besides Allah, as equal (with Allah): They love them as they should love Allah. But those of Faith are overflowing in their love for Allah. If only the unrighteous could see, behold, they would see the penalty: that to Allah belongs all power, and Allah will strongly enforce the penalty.]

 

1). Mari kita pikirkan dengan saksama, mengapa ayat sebelumnya di akhiri dengan sebuah pernyataan aksiomatis: لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ [la-ayātin liqawmin ya’qilŭn, (di situ) pasti ada tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang menggunakan akal]? Karena melalui ayat 164 itu kita bisa melihat bahwa kehadiran Allah dalam kehidupan ini begitu jelas bagi akal, sejelas matahari di siang bolong. Namun, kendati begitu, banyak saja manusia—makhluk berakal ini—yang mengambil tandingan-tandingan bagi-Nya, yang mereka perlakukan sebagaimana atau bahkan melebihi perlakuan mereka terhadap-Nya: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً (wa minan-nāsi man yattakhidzu min dŭnillāɦi andāda, dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah). Mereka mengaku menyembah kepada Allah, tetapi mereka rela mengabaikan ibadah kepada-Nya demi memenuhi keinginannya memperoleh materi. Mereka mengaku beriman kepada Allah, tetapi mereka lebih mengutamakan hukum buatan manusia ketimbang hukum-Nya. Mereka mengaku mengagungkan Allah, tetapi takutnya kepada sesama melebihi takutnya kepada-Nya. Mereka mengaku anti syirik, tetapi tak pernah berani meluruskan rajanya yang jelas-jelas menjadi sekutu tiranik penguasa imperialis yang tiap hari merampas tanah-tanah saudaranya. Semua yang mereka takuti selain Allah itulah yang disebut أَندَاد (andād, bentuk jamak dari nidd yang artinya peer, equal, match, colleague, counterpart). Mereka mencintai أَندَاد (andād, sekutu-sekutu) itu sepertimana mereka mencintai Allah: يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ (yuhibbŭnaɦum kahubbillāɦi, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah).  “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka’.” (39:8)

 

2). Mereka melawan rasionalitasnya sendiri. Mereka mematikan akal fikirannya sendiri. Mereka meruntuhkan sisi kemanusiannya yang paling penting. Itulah ciri orang kafir, orang yang menyembunyikan kebenaran di balik cintanya kepada kehidupan dunia, walaupun penampilannya kelihatan ‘cerdas’ dan uraiannya menggunakan bahasa ‘akademis’. Sementara orang beriman, orang yang berani mempertunjukkan kebenaran (dalam kata dan perbuatan), mencintai Tuhannya melebihi cintanya kepada apapun: وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ (walladzĭna āmanŭ asyaddu hubban lillāɦi, adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah), walaupun penampilannya cuma sederhana  dan bahasnya sangat populis. Mereka ini bukan tidak cinta kepada selain-Nya, tetapi cintanya kepada yang lain hanyalah pantulan dari cintanya kepada Rabb-nya. Itu sebabnya iman, keyakinan, serta ideologi mereka tidak bisa dibeli dengan apapun. Mata kepala mereka tidak hijau melihat tumpukan uang. Mata hati mereka tidak silau dengan pangkat dan jabatan. Hakikat semua itu telah tersingkap di jiwanya, bahwa semua itu tidak punya nilai apapun dibanding dengan-Nya. Tidak ada satu pun yang meng-ada tanpa diadakan oleh-Nya. Tidak ada satu pun yang bergerak tanpa digerakkan oleh-Nya. Yang ada hanya Dia. Maka yang masuk akal untuk dicintai juga hanya Dia. “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: ‘Inilah Tuhanku’. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: ‘Saya tidak mencintai sesuatu yang tenggelam’.” (6:75-76)

 

3). Orang beriman tidak melihat lagi di sekelilingnya kekuatan selain kekuatan Allah. Baginya, semua energi adalah energi-Nya. Semua kuasa adalah kuasa-Nya. Dialah yang berada di balik penciptaan langit dan bumi, perputaran malam dan siang, gerakan bahtera di lautan, dan hembusan angin yang menggiring awan ke daratan. Sedangkan mayoritas orang mengakui kekuatan, energi dan kuasa-Nya nanti di akhirat, setelah menyaksikan di depan mereka azab yang menggetarkan: وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً [walaw yarāl-ladzĭna zhalamŭ idz yarawnal ‘adzāba annal quwwata lillāɦi jamĭ’an, dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui (seperti) ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat, niscaya mereka pun mengakui) bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya]. Artinya, pada akhirnya tidak ada satu orang pun yang tidak akan mengakui kuasa-Nya. Hanya saja orang beriman mengakuinya saat masih di dunia. Karena pengakuannya bukan berdasar keterpaksaan (ketika tak punya pilihan lain selain mengakuinya), bukan berdasarkan ancaman (azab neraka). Pengakuannya berdasar kejernihannya menggunakan akal. Pengakuannya berdasarkan perenungan akan sesuatu yang berada di balik yang tampak. Pengakuannya bersifat sukarela. “Adapun kaum ‘Ăd maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: ‘Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?’ Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami.” (41:15)  

 

4). Kalau orang beriman mendemonstrasikan betapa dahsyatnya cintanya kepada Allah, maka orang kafir akan mempertunjukkan betapa dahsyatnya azab-Nya nanti di akhirat. Banyak orang yang protes pernyataan ini: وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ (wa annallāɦa syadĭdul ‘adzābi, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya). Bagi mereka, Allah tidak mungkin memiliki azab sedahsyat itu karena bertentangan dengan sifat-sifat pemaaf dan pemurah-Nya. “Bukankah rahmat Allah melebihi murka-Nya?” Kilahnya. Betul sekali. Untuk itu, penalaran dari pernyataan itu ialah, azab yang dahsyat itu jauh lebih sedikit dibanding dengan rahmat yang diterima oleh mereka yang menjadi penghuni surga. Sebab kata “melebihi” menunjukkan adanya, dan bukan tiadanya. Kalau memang azab Allah—betapa pun dahsyatnya—jauh lebih ringan disbanding dengan rahmat-Nya, lalu apa makna kata شَدِيدُ (syadĭdu, amat berat) di situ? Maknanya, Allah bermaksud mengingatkan kepada mereka yang melakukan keingkaran dan kezaliman dengan menyembunyikan kebenaran yang datang dari-Nya setelah mendapatkan bayaran tertentu—yang dengan bayaran itu mereka bersenang-senang—bahwa sehebat apapun kesenangan itu pada hakikatnya tidak ada apa-apanya dibanding azab Allah kelak di akhirat. Jadi azab Allah akan jauh lebih berat mereka rasakan ketimbang akumulasi semua kesenangan duniawi itu. Sehingga kelak mereka akan menyesali perbuatan mereka itu beserta kesenangan yang mereka dapatkan. “Dan ikutilah dengan sebaik-baiknya apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kalian tidak menyadarinya. Supaya jangan ada orang yang mengatakan: ‘Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah)’.” (39:55-56)

 

5). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى عَنِ الْمِنْهَالِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَكَانَ أَبِي يَسْمُرُ مَعَ عَلِيٍّ فَكَانَ عَلِيٌّ يَلْبَسُ ثِيَابَ الصَّيْفِ فِي الشِّتَاءِ وَثِيَابَ الشِّتَاءِ فِي الصَّيْفِ فَقِيلَ لَهُ لَوْ سَأَلْتَهُ فَسَأَلَهُ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ إِلَيَّ وَأَنَا أَرْمَدُ يَوْمَ خَيْبَرَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي رَمِدٌ فَتَفَلَ فِي عَيْنِي وَقَالَ اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنْهُ الْحَرَّ وَالْبَرْدَ فَمَا وَجَدْتُ حَرًّا وَلَا بَرْدًا بَعْدُ قَالَ وَقَالَ لَأَبْعَثَنَّ رَجُلًا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَيُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَيْسَ بِفَرَّارٍ قَالَ فَتَشَرَّفَ لَهَا النَّاسُ قَالَ فَبَعَثَ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

[Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ibnu Abu Laila dari al-Minhal bin ‘Amru dari Abdurrahman bin Abu Laila berkata; bapakku berbincang-bincang dengan Ali pada malam hari, dan Ali selalu memakai pakaian musim panas pada saat musim dingin, dan memakai pakaian musim dingin pada saat musim panas. (Kejadian itu menggelitik) seseorang untuk berkata; “Andai saja kau tanyakan kepadanya.” Maka seseorang menanyakan kepadanya dan dia (Ali) menjawab; “Rasulullah saw pernah mengutusku pada Perang Khaibar, pada saat itu saya sedang sakit mata, maka saya berkata; ‘Wahai Rasulullah, mataku sakit.’ Lalu beliau meludahi mataku dan membaca; ALLAHUMMA ADZHIB ‘ANHUL-HARRA WAL-BARD (ya Allah, hilangkanlah panas dan dingin darinya). Maka semenjak itu saya tidak merasakan lagi panas dan dingin. Dan (pada waktu itu) beliau bersabda: ‘Sungguh saya akan mengutus seseorang yang Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya serta tidak lari (dari peperangan)’.” Abdurrahman berkata; “Lantas orang-orang mengajukan diri untuk memperoleh tugas tersebut sebagai penghormatan, tetapi beliau mengutus Ali ra.”] (Musnad Ahmad no.1062. Lihat juga Shahih Bukhari no. 3425 dan 3426, Shahih Muslim no. 4423 dan 4423)

 

حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ مُوسَى الْفَزَارِيُّ ابْنُ بِنْتِ السُّدِّيِّ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ أَبِي رَبِيعَةَ عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي بِحُبِّ أَرْبَعَةٍ وَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ يُحِبُّهُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ سَمِّهِمْ لَنَا قَالَ عَلِيٌّ مِنْهُمْ يَقُولُ ذَلِكَ ثَلَاثًا وَأَبُو ذَرٍّ وَالْمِقْدَادُ وَسَلْمَانُ أَمَرَنِي بِحُبِّهِمْ وَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ يُحِبُّهُمْ

 [Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa al-Fazari cucu as-Suddi telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari ayahnya dia berkata; Rasulullah saw bersabda; “Sesungguhnya Allah memerintahkan aku untuk mencintai empat orang, dan Dia mengabarkan kepadaku bahwa Dia telah mencintai mereka.” Dikatakan; “Wahai Rasulullah! Sebutlah nama mereka kepada kami!” Beliau bersabda: “Ali termasuk diantara mereka—beliau menyebutkan hal itu tiga kali—lalu Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Dia memerintahkan aku agar mencintai mereka dan Dia juga mengabarkan kepadaku bahwa Dia mencintai mereka.”] (Sunan Tirmidzi no. 3652)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Cinta adalah karunia terbesar yang Allah anugrahkan kepada diri manusia setelah akal. Maka cinta yang paling masuk akal ialah mencintai Pemberi cinta. Sangat disayangkan, setelah manusia merasakan indahnya cinta, mereka justru lebih mencintai sesamanya dan dunianya ketimbang Sang Pemberi cinta. Mereka, dengan begitu, tiba-tiba menjadi pengkhianat cinta. Orang beriman, cintanya kepada Sang Pemberi cinta melebih cintanya kepada apapun dan siapapun juga.

Related Posts

Leave a Reply