Al-Baqarah ayat 158

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 158by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 158SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 158   إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ [Sesungguhnya Shafā dan Marwah adalah sebahagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 158

 

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

[Sesungguhnya Shafā dan Marwah adalah sebahagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Menerima kebaikan, Maha Mengetahui.]

[Behold! Safa and Marwa are among the Symbols of Allah. So if those who visit the House in the Season or at other times, should compass them round, it is no sin in them. And if any one obeyeth his own impulse to good,- be sure that Allah is He Who recogniseth and knoweth.]

 

1). Mengapa tiba-tiba ada satu ayat nengenai haji dan umrah yang terselip di sini? Ini menunjukkan bahwa pembahasan sejauh ini masih belum keluar dari wilayah Masjidil Haram. Dan seperti telah diuraikan sejak ayat 124 bahwa fungsi Masjidil Haram bukan hanya sebagai kiblat shalat, tapi juga pusat tawaf dan tempat i’tikaf (lihat kembali ayat 125). Dan demi tujuan itu pula Allah lantas menugaskan Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail, beserta ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya untuk merenovasi dan menjaga kesucian Rumah Tua itu. Dan terutama tentang ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) keduanya inilah sebetulnya Allah mengantarkan kita berbicara soal shalat dan sabar (ayat 153), yang kemudian Allah hadiahi mereka dengan shalawat dan rahmat, dan menunjuk mereka sebagai الْمُهْتَدُونَ (al-muɦtadŭn, orang-orang yang mendapat hidayah). Shafā dan Marwah masih merupakan bagian tak terpisahkan dari Ka’bah, baik ditilik dari sisi tempat ataupun dari sisi syariat dan sejarah. Kedua bukit kecil itu hanya berjarak beberapa puluh meter dari Ka’bah dan menjadi saksi abadi bagaimana Nabi Ibrahim dan Ahli Bayt-nya, terutama istrinya, Hajar, mempertaruhkan segala-galanya demi tegaknya kembali Agama Tauhid, yang telah dirintis dengan bersusah-payah oleh nabi-nabi sebelumnya. Sa’i (berlari-lari kecil) antara Shafā dan Marwah termasuk jenis tawaf. Dan ini adalah pengulangan dari apa yang telah dilakukan oleh Hajar saat berlari-lari di antara keduanya demi mencari air buat buah hatinya, Islamil. “Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh.” (21:85-86)

 

2). Walaupun Shafā dan Marwah juga adalah tempat tawaf, tetapi di awal ayat ini penekanannya justru pada fungsinya sebagai bagian dari syi’ar-syi’ar Allah. Di dalam al-Qur’an hanya ada 4 ayat yang menyebut frase شَعَآئِر اللّهِ (sya’āirullāɦ, bentuk jamak tidak beraturan dari syi’ar Allah): 2:158, 5:2, 22:32, dan 22:36. Semuanya berkaitan dengan haji dan qurban. Itu sebabnya, dalam Bahasa Arab, manasik haji kadang juga disebut الْحَجِّ شَعَآئِر  (sya’āirul-hajj, syi’ar-syi’ar haji). Tapi tentu tidak berarti bahwa syi’ar Allah hanya terbatas pada haji dan qurban. Kata شعار (syi’ār) sendiri—dalam Babylon Translation (http://www.stars21.com/dictionary/English-Arabic_dictionary.html)—artinya slogan (selogan), catchword (semboyan), counterweight (imbangan berat), watchword (kata pengenal), banner (spanduk), emblem (lambang), device (perangkat), motto (motto), sign (tanda), tag (kartu), brand (merek). Kata شعار (syi’ār) juga seasal kata dengan kata يَشْعُرُونَ (yasy’urŭn, menyadari)—dengan berbagai variannya—yang banyak kita jumpai dalam al-Qur’an. Di dalam Kamus al-Munawwir, شعار (syi’ār) diartikan sebagai “alamat” atau “tanda”. Dari sini kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “siar”—seperti pada frase “siaran radio”. Jadi “siar agama” artinya perangkat atau tanda yang membuat agama menjadi tersiar atau tersebar melampaui sekat wilayah dan labirin masa sehingga kemudian membuatnya menjadi kesadaran umum. Dalam kaitan Shafā dan Marwah, al-Qur’an menyebutnya: مِن شَعَآئِرِ اللّهِ (min sya’āirullāɦ, bagian dari syi’ar-syi’ar Allah). Penyandaran syi’ar pada kata “Allah” menunjukkan bahwa kedua bukit batu bersejarah ini merupakan perangkat dan tanda keagamaan yang memeroleh pengakuan dari Allah sehingga nilainya menjadi sakral dan transenden. Di sana Hajar seakan masih terus berlari dan berlari, mewartakan ke seluruh dunia di sepanjang liku hidup manusia bahwa agama samawi, millah Ibrahim, adalah perlawanan terhadap agama penguasa—agama yang dimanipulasi untuk kepentingan kelanggengan raja-raja—perlawanan terhadap tirani dan Dajjal, sepertimana perlawanan Nabi Ibrahim terhadap Namrut. Dan seruan Hajar itu adalah مِن شَعَآئِرِ اللّهِ (min sya’āirullāɦ, bagian dari syi’ar-syi’ar Allah). “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (22:32)

 

3). Sebagai bagian dari syi’ar-syi’ar Allah, maka kemuliaan Shafā dan Marwah tidak berkurang sedikit pun dengan ditempatkannya patung berhala di sana oleh kaum jahiliyah. Maka ketika tidak sedikit sahabat Nabi yang enggan melakukan sa’i di antara keduanya—karena pada masa Jahiliyah mereka menempatkan banyak patung di sana untuk mereka sembah sambil berlari-lari kecil di antara keduanya—maka Allah lalu menyahutinya dengan kata-kata: فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا  (falā junāha ‘alayhi an yathawwafa biɦimā, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya). Artinya, andai mereka dulu menempatkan lebih banyak lagi patung di sana, tetap tidak bisa merendahkan kesucian dan keagungan kedua tempat bersejarah tersebut. Bahkan setelah melewati masa berabad-abad, pada kahirnya kemenangan berpihak jua pada pihak yang suci nan agung. Karena apa saja yang Allah telah sucikan dan agungkan niscaya tidak akan ada apapun dan siapapun yang kuasa menodai dan menghinakannya. Begitu juga sebaliknya, siapa saja yang telah Allah hinakan maka tidak akan ada yang mampu memberi kemuliaan kepadanya. “Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya..” (10:27)

 

4). Karena sa’i antara Shafā dan Marwah pada dasarnya adalah berusaha menyerap energi ruhani dari Hajar, maka siapa yang melakukan itu dengan niat yang benar, niscaya Allah akan memenuhi harapannya, melimpahkan kepadanya energi ruhani tersebut. Sekali lagi: “dengan niat yang benar”. Sebagaimana yang Dia tegaskan: وَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ (wa man tathawwa’a khairan fa innallāɦa syākirun ‘alĭm, dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Menerima kebaikan, Maha Mengetahui). Kata تَطَوَّعَ (tathawwa’a, melakukan sesuatu dengan kerelaan hati) hanya ada dua dalam al-Qur’an. Yaitu, ayat ini (158) tentang sa’i antara Shafā dan Marwah dan (juga Surat al-Baqarah) ayat 184 tentang puasa Ramadhan: فَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ (faman tathawwa’a khairan faɦuwa khairun laɦu wa antashŭmŭ khairun lakum in kuntum ta’lamŭn, barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kalian mengetahui). Jadi penekanannya di sini ialah “kerelaan hati”, keikhlasan, tanpa tekanan dan kepentingan-kepentingan superfisial lainnya. Apabila niatnya benar, maka di situ Allah menyebut diri-Nya: شَاكِرٌ عَلِيمٌ (Maha Menerima kebaikan, Maha Mengetahui). “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kalian bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Menerima (kebaikan), Maha Mengetahui.” (4:145-147)

 

5). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ قَالَ سَأَلْنَا ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَجُلٍ طَافَ بِالْبَيْتِ فِي عُمْرَةٍ وَلَمْ يَطُفْ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ أَيَأْتِي امْرَأَتَهُ فَقَالَ قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطَافَ بِالْبَيْتِ سَبْعًا وَصَلَّى خَلْفَ الْمَقَامِ رَكْعَتَيْنِ فَطَافَ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ سَبْعًا لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ وَسَأَلْنَا جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقَالَ لَا يَقْرَبَنَّهَا حَتَّى يَطُوفَ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ

[Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru bin Dinar berkata: “Kami pernah bertanya kepada Ibnu Umar ra tentang seseorang yang thawaf di Ka’bah Baitullah keetika melaksanakan umrah namun belum melakukan sa’i antara bukit Shafā dan Marwah, apakah dia boleh berhubungan dengan isterinya?“. Dia menjawab: “Nabi pernah datang ke Baitullah untuk haji, Beliau thawaf di Baitullah tujuh kali putaran kemudian shalat dua raka’at di belakang Maqam (Ibrahim) lalu melakukan sa’i antara bukit Shafā dan Marwah tujuh kali. (Sungguh bagi kalian ada suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah, 33:21)”. Dan kami pernah pula bertanya kepada Jabir bin Abdullah ra tentang hal ini. katanya: “Janganlah orang itu mendekati isterinya hingga dia melaksanakan sa’i antara bukit Shafā dan Marwah.”] (Shahih Bukhari, no.1536)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Secara biologis dan sosiologis, Hajar mungkin tidak punya nilai lebih. Tetapi karena penyerahan dirinya yang total kepada Tuhannya, maka perbuatannya antara Shafā dan Marwah menjadi bagian dari syi’ar Allah di muka bumi yang dilakoni oleh berjuta-juta orang dari generasi ke generasi. Perbuatan Hajar kelihatannya sederhana. Tapi justru dalam kesederhanaan itulah lahir sebuah revolusi emansipatoris sepanjang masa.

Related Posts

Leave a Reply