Al-Baqarah ayat 155

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 155by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 155SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 155   وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ [Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.] [And We will most certainly try you with somewhat of fear and hunger and […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 155

 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

[Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.]

[And We will most certainly try you with somewhat of fear and hunger and loss of property and lives and fruits; and give good news to the patient.]

 

1). Di ayat 153, Allah menekankan pentingnya ber-isti’ānah dengan “sabar” dan “salat”. Di ayat 154, Allah membeberkan bahwa orang yang hidupnya berakhir dengan syahadah (terbunuh di jalan-Nya) tidak “mati” tapi “hidup”. Dari sisi kehidupan duniawi, apa manfaat praktis yang bisa kita dapatkan dari sikap isti’ānah dan syahadah tersebut? Di ayat 155 ini, Allah memaklumatkan bahwasanya hidup ini bukanlah sebuah danau kecil yang airnya tenang tak berombak. Sebaliknya, hidup ini bagai samudra nan luas tak bertepi yang ombaknya bisa menenggelamkan kapal raksasa sekalipun. Pengumuman-Nya: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ (wa lanabluwannakum bi syay’in, dan sungguh Kami akan menguji kalian). Ombak kehidupan pasti ada: ada yang terhempas dan karam; ada yang terkurung, berenang, dan selamat; ada yang berselancar, menciptakan gerakan indah, mengikuti irama gelombang, sambil bersiul-siul. Dalam kehidupan yang diantara sifatnya ialah progresif, bertingkat-tingkat, berderajat-derajat, mengikuti alur waktu, maka ujian menjadi hal yang musti. Kalau tidak, lantas atas pertimbangan apa progresifitas itu diukur? Huruf وَ (wawu) di awal kalimat—sepertimana juga di awal ayat 154—menunjukkan bahwa ayat ini masih bagian dari seruan Allah kepada orang-orang beriman di awal ayat 153. Ada apa gerangan? Agar orang beriman menapaki jenjang progresifitas di sepanjang terowongan ruang dan waktu yang membawanya ke the door of no return (pintu kematian). Agar orang beriman tidak membiarkan dirinya terkubur dalam liang pasifitas amal saleh yang membuatnya jadi sampah sejarah dan barang tertawaan peradaban. Dengan ujian demi ujian itu, orang beriman juga diharapkan menjadi petarung yang tangguh. “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian; dan (juga) akan menguji (baik buruknya) hal-ihwal kalian.” (47:31)

 

2). Hebat. Lalu apa saja materi ujian yang (seharusnya) membuat seseorang menjadi empu kehidupan itu? Satu, الْخَوفْ (al-khawf, rasa takut atau khawatir). Kata ini sudah pernah kita kupas alakadarnya di ayat 38, ayat 62 dan ayat 112. Adanya ujian “ketakutan” atau “kekhawatiran” ini menunjukkan bahwa sifat ini memang bawaan di dalam diri manusia. Kalau tidak, tentu tidak mungkin bisa muncul rasa takut atau khawatir itu. Kalau eksis, lalu apa tujuannya? Sederhana: “Agar manusia tidak kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya.” Sehingga rasa takut bisa kita sebut sebagai mekanisme pertahanan diri. Itu sebabnya ketakutan itu berbanding lurus dengan “harga” dari sesuatu itu. Semakin tinggi “harga” atau “nilai” sesuatu semakin besar pula ketakutan kita (kehilangan) padanya. Kita pasti jauh lebih takut kehilangan uang 100 juta daripada 100 perak. Lantas sedemikian berhargakan anjing gila sehingga kita takut padanya? Sejujurnya bukan anjing gila yang kita takuti, tapi betis kita. Alam bawah sadar kita mengatakan bahwa manakala anjing itu menyerang kita, betis kita akan menjadi santapan empuknya; dan karenanya kita lari terbirit-birit menyelamatkan diri. Ketakutan seperti ini positif (karena rasa takut mengenai masa depan anaknyalah yang menyebabkan orang tua berjibaku menyekolahkan anak-anaknnya, misalnya), namun—pada tingkat tertentu—bisa juga melahirkan gejala psikosomatik (ketidakstabilan emosi atau mental yang mengganggu kesehatan fisik) dan phobia. “Mereka (itu) bakhil kepadamu. Tetapi apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati; dan apabila ketakutan itu telah hilang, mereka (kembali) mencaci-maki kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (33:19)

 

3). Dua, الْجُوعِ (al-jŭ’, rasa lapar). Ini juga aslinya positif. Karena kalau kita tidak memilikinya, bisa dipastikan kematian akan dengan segera menjemput kita. Rasa lapar (jasmani dan ruhani) membuat kita merasakan nikmatnya santapan (jasmani dan ruhani). Tetapi apabila santapan itu tiada, rasa lapar (jasmani dan ruhani) bisa juga membuat seseorang kehilangan kendali akal sehatnya. Yang bersangkutan bisa stress dan depresi berat, bahkan bisa melakukan perbuatan yang paling fatal: membunuh. Tiga, وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ (wa naqshin minal-amwāli wal-anfusi wats-tsamarāt, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan)—catatan: kehilangan jiwa maksudnya kematian salah seorang yang kita cintai. Kalau lapar masih bersifat pribadi murni, berkaitan dengan perut sendiri, maka harta, jiwa dan buah-buahan sudah berkaitan dengan sesuatu yang di luar sana, yang merambat ke samping ke atas berputar-putar menggapai-gapai menyinggung-nyinggung pihak lain, bahkan alam secara keseluruhan. Sehingga semua itu bisa mengurung kita ke dalam tungku pengap tak berpori. Kalau pertahanan batin tidak cukup kuat, sizophrenia dan bunuh diri bisa menjadi ending ceritanya. Alasannya? Karena harta, jiwa dan buah-buahan banyak dipersepsi sebagai simbol-simbol kesuksesan dan kemuliaan. Sehingga kehilangan semuanya seakan-akan lantas runtuh pula seluruh lapis langit kemanusiaan kita. “Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah bagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (18:45-46)

 

4). Empat: وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (wa basysyiris-shābirĭn, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar). Maksud ayat ini jelas: yang bisa mengemudikan bahtera kehidupannya menyeruak dari ombak ke ombak, menembus gulungan badai, menciptakan harmoni gerak yang indah, bagai peselancar ulung, ialah orang-orang sabar. Sebabnya, karena orang sabar adalah orang yang takutnya bukan lagi pada kehilangan betisnya, bukan kekurangan harta, bukan ditinggal oleh orang-orang yang dicintai, juga bukan takut pada kehabisan bahan pangan dan buah-buahan. Takutnya orang sabar adalah pada kehilangan hal yang paling berharga baginya, yang paling dicintainya: Allah ‘Azza wa Jall. Orang sabar ialah orang yang cita-cita hidupnya menggapai rahmat dan redla Rabb-nya, bersatu dan menyatu dengan-Nya. Itu sebabnya orang sabar memiliki kekuatan yang luar biasa, yang berlipat kali dibanding dengan orang yang ingkar. “Hai Nabi, kobarkanlah semangat kaum mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu orang-orang kafir, disebabkan karena orang-orang kafir itu adalah kaum yang tidak mengerti.” (8:65)

 

5). Hadits Nabi:

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ هِشَامٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْأَنْصَارِ إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي وَمَوْعِدُكُمْ الْحَوْضُ

[Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Basysyar telah bercerita kepada kami Ghundar telah bercerita kepada kami Syu’bah dari Hisyam berkata, aku mendengar Anas bin Malik ra berkata; Nabi saw berkata kepada kaum Anshar: “Sepeninggalku nanti, akan kalian jumpai sikap atsarah (sikap egoisme, individualis, orang yang mementingkan dirinya sendiri). Maka bersabarlah kalian hingga kalian berjumpa denganku, dan tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah telaga al-Haudl (di surga)”.] (Shahih Bukhari no. 3509)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Kehidupan ini, bagi manusia, adalah masalah. Karenanya kita hidup di tengah-tengah samudra masalah. Kata Tuhan, di tengah-tengah masalah itulah letaknya ujian, agar manusia bisa mengukur kadar kemampuan jiwanya. Maka sadarilah bahwa sesungguhnya masalah itu positif bagi perkembangan ruhani Anda. Jangan lari daripadanya. Terjanglah. Taklukanlah. Di puncak gunung masalah itulah letaknya maqam (kedudukan) orang-orang sabar.

Related Posts

Leave a Reply