Al-Baqarah ayat 154

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 154by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 154SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 154   وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاء وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ [Dan janganlah kalian mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kalian tidak menyadarinya.] [And do not speak of those who are slain in Allah’s way […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 154

 

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاء وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ

[Dan janganlah kalian mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kalian tidak menyadarinya.]

[And do not speak of those who are slain in Allah’s way as dead; nay, (they are) alive, but you do not perceive.]

 

1). Pertanyaan yang paling sering muncul: Apakah sabar itu ada batasnya? Jawabannya: Ada. Batas pertama: Pertolongan Allah. Karena sabar adalah instrument teologis yang Allah berikan kepada hamba-Nya maka tentu Dia juga yang paling tahu rahasia di balik sabar itu. Dan, menurut pengakuan-Nya sendiri di dalam Kitab Suci-Nya, Dia memerintahkan hamba-Nya untuk bersabar sebab Dia bermaksud memberikan pertolongan kepadanya setelah melewati berbagai macam proses—yang sejalan dengan hukum sebab-akibat. Setelah berbagai macam proses itu terlampaui, barulah Allah mendatangkan pertolongan-Nya. Contohnya, pada saat dirinya akan ditangkap dan dibunuh oleh Fir’aun beserta bala tentaranya, Nabi Musa dan Bani Israil melarikan diri, karena hanya itulah pilihan yang paling rasional baginya—bukan justru memasang badan seraya mengandalkan kenabiannya. Nabi Musa tidak punya senjata untuk melawan, sementara Bani Israil adalah para budak yang kekurangan gizi. Nabi Musa pun tidak sembarang lari; dia lari menuju ke tempat penyemberangan untuk meninggalkan Tanah Mesir, meninggalkan wilayah kekuasaan Fira’un. Ketika pelariannya mentok di Laut Merah karena tidak menemukan tempat dan kendaraan untuk menyeberang, barulah Nabi Musa sampai ke puncak tawakkalnya kepada Allah. Dengan tetap bersikap tenang, Nabi Musa berseru kepada para pengikutnya yang sudah mulai panik karena takut akan tersusul: “Musa menjawab: ‘Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku’.” (26:61-62) Dan Nabi Musa as ternyata benar. Alhasil, laut kemudian terbelah oleh tongkat Nabi Musa, sehingga menyeberanglah mereka dan tenggelamlah Fir’aun bersama bala tentaranya. “(Ingatlah), ketika kamu (Muhammad) mengatakan kepada orang mukmin: ‘Apakah tidak cukup bagi kalian Allah membantumu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?’ Ya (cukup). (Tapi) jika kalian ber-sabar dan bertakwa dan mereka datang menyerangmu dengan seketika itu juga, (maka) niscaya Allah menolong kalian dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.” (3:124-125) Dengan begitu, salah satu puncak sabar ialah “pertolongan Allah”. Inilah maksud dari ayat berikut ini: “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.” (6:34)

 

2). Batas kedua: Syahadah (gugur sebagai syahid di jalan Allah) dan kematian. Artinya, betapapun beratnya suatu cobaan, berapapun banyaknya masalah yang datang, kita toh pada akhirnya akan meninggal jua. “Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya.” (16:61) Apabila kematian telah datang kepada seseorang maka tentu secara otomatis masalah-masalah tadi ditinggalkannya. Tetapi kematian yang paling menyenangkan ialah syahid (terbunuh di jalan Allah oleh musuh-musuh kebenaran). Sampai-sampai Allah mengatakan tentang mereka ini: وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاء (wa lā taqŭlŭ liman yuqtalu fĭ sabĭlillaɦi amwātun bal ahyāun, dan janganlah kalian mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup). Huruf لاَ (la) yang ada di awal ayat ini disebut لاَ nāɦĭ (la larangan), yang menunjukkan bahwa Allah melarang kaum mukmin berkata atau berfikir bahwa orang yang gugur di jalan-Nya itu “mati”. Mereka tidak mati. Bahkan mereka itu “hidup”. “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (3:169)

 

3). Bila orang yang jelas-jelas mati dikatakan masih hidup, lalu, kalau begitu, apa makna “hidup” dan “mati” yang sesungguhnya? Hidup dan mati sebetulnya hanyalah perubahan substansial atas sesuatu tanpa meniadakan eksistensinya. Sesuatu dikatakan hidup manakala substansi hayatinya masih ada. Untuk entitas biologis, substansi hayatinya ialah “tumbuh dan berkembang”. Sebuah pohon atau seekor hewan dikatakan hidup kalau mekanisme “tumbuh dan berkembang”-nya masih bekerja. Dikatakan “mati” kalau mekanisme itu tidak bekerja lagi, kendati pohon atau hewan itu masih eksis. Beda dengan tumbuhan dan hewan, manusia mempunyai 3 (tiga) substansi pada dirinya (ruh, jiwa, dan badan), maka kematian pada substansi hayati biologisnya (yang bekerja pada badan-nya) tidak dengan serta-merta juga mematikan 2 (dua) substansi yang lain (ruh dan jiwa). Sehingga sangat mungkin seseorang sudah mati (secara biologis) tetapi ruh dan jiwa-nya masih hidup. Karena Allah pada Diri-Nya ialah Dzat yang Mahahidup, maka sangat masuk akal manakala orang-orang yang terbunuh (karena berjuang) di jalan Allah, di jalan Dzat yang Mahahidup, pasti masih akan tetap hidup—kendati badan-nya sudah mati. Dan kepastian ini tidak bisa kita berikan kepada mereka yang mati secara biasa, karena yang bisa kita hukumi terbatas pada apa yang terpapar di depan panca indera. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (9:111)

 

4). Karena kehidupan mereka (yang terbunuh di jalan Allah) itu terjadi pada sisi ruh dan jiwa-nya, maka perabot-perabot inderawi kita tidak sanggup menjangkaunya: وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ (wa lākin lā tasy’urŭn, tetapi kalian tidak menyadarinya). Dan, seperti telah menjadi pahaman bersama, bahwa sesuatu yang tidak masuk ke dalam wilayah kesadaran kita juga tidak selamanya menunjukkan negasi keberadaannya. Sesuatu yang keberadaannya jelas namun tak kita sadari, biasanya justru menunjukkan kelalaian (gaflah) kita atasnya. Yang lalai siapa? Yang lalai ialah jiwa kita. Jiwa yang lalai terhadap sesuatu—secara defenisi—pada dasarnya telah “mati” terhadap sesuatu itu. Karena ruh dan jiwa orang yang syahid itu tidak mati, maka tidak mungkin mereka lalai terhadap kehadiran kita—orang-orang yang masih hidup ini. “Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring dan seorang malaikat penyaksi. Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (50:20-22)

 

5). Hadits Nabi saw:

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَوْفٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

[Telah menceritakan kepada kami Abdu bin Humaid ia berkata; telah mengabarkan kepadaku Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d telah menceritakan kepada kami ayahku dari ayahnya dari Abu Ubaidah bin Muhammad bin ‘Ammar bin Yasir dari Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf dari Sa’id bin Zaid ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya maka ia syahid, barangsiapa yang terbunuh karena membela agamanya maka ia syahid, barangsiapa yang terbunuh karena membela darahnya (jiwanya) maka ia syahid dan barangsiapa yang terbunuh karena membela keluarganya maka ia syahid.”]. (Sunan Tirmidzi no. 1341, Shahih menurut Syaikh Albani)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Salah satu naluri bersama makhluk-makhluk hidup ialah “ingin-tetap-hidup”. Itu sebabnya masing-masing mereka dipersenjatai alat-alat untuk survive. Sayangnya kebanyakan manusia tidak menyadari kalau dalam dirinya ada tiga hal: ruh, jiwa, dan badan. Sehingga mereka hanya menggunakan naluri “ingin-tetap-hidup”-nya untuk badan-nya saja seraya membiarkan mati ruh dan jiwa-nya. Orang yang bercita-cita untuk syahid menyadari bahwa dengn syahadah maka ruh dan jiwa-nya akan tetap hidup.

Related Posts

Leave a Reply