Al-Baqarah ayat 151

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 151by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 151SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 151   كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَ [Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepada kalian seorang rasul dari kalanganmu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan mensucikan kalian dan mengajarkan kepadamu Kitab Suci dan Hikmah, serta […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 151

 

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَ

[Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepada kalian seorang rasul dari kalanganmu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan mensucikan kalian dan mengajarkan kepadamu Kitab Suci dan Hikmah, serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kalian ketahui.]

[Even as We have sent among you a Messenger from among you who recites to you Our communications and purifies you and teaches you the Book and the wisdom and teaches you that which you did not know.]

 

1). Ayat ini dimulai dengan kata كَمَا (kamā, sebagaimna atau sepertimana). Dalam kaidah Bahasa Arab kata كَمَا (kamā) di dalam ayat ini bermakna ta’lil (berfungsi sebagai sebab atau alasan); yakni “kata” atau “kalimat” yang datang setelahnya menjadi ‘illat (sebab atau alasan) terhadap “kata” atau “kalimat” sebelumnya. Karena ayat ini datang setelah beberapa ayat sebelumnya yang berbicara soal pemindahan kiblat ke Masjidil Haram, maka melalui kata كَمَا (kamā) ini Allah hendak mengatakan bahwa: “Allahlah yang punya otoritas dan hak prerogatif dalam menentukan kiblat manusia sebagaimana otoritas dan hak prerogatif Dia dalam mengutus rasul yang Dia angkat dari tengah-tengah manusia.” Artinya, dalam hal kemaslahatan dan ke-SATU-an manusia, mutlak Allah yang menentukan atau menunjuk. Bukan oleh manusia. Alasannya sederhana: satu, manusia secara bersama-sama tidak bisa menemukan satu hal dan atau satu sosok yang padanya tersimpul seluruh kemaslahatan mereka; dua, manusia secara bersama-sama tidak pernah bisa bersepakat dalam menentukan satu urusan kemaslahatan bersama—kendati mereka bermusyawarah untuk itu. “Diwajibkan atas kalian berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (2:216)

 

2). Di ayat 143 dijelaskan bahwa alasan pemindahan kiblat (dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram) ialah: “Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (dan supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot.” Persoalannya, kenapa harus mengikuti Rasul dan tidak boleh membelot daripadanya? Jawabannya, karena Rasul datang tidak dalam rangka memperjuangkan kepentingan dirinya dan keluarganya; sebaliknya, dia datang mengorbankan dirinya dan keluarganya demi mengeluarkan manusia dari kegelapan (14:1, 65:11) dengan kurikulum yang jelas dan dengan materi yang amat esensial bagi kemaslahatan manusia. Kurikulum itu mengandung 4 (empat) macam materi pokok. Dan 3 (tiga) diantaranya telah disebutkan di ayat 129. “Ya Tuhan kami, dan bangkitkanlah di tengah-tengah mereka seorang Rasul dari kalangan mereka (sendiri), yang akan menelaahkan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci dan Hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (2:129)

 

3). Materi kurikulum di ayat 129 terungkap dalam bentuk doa. Yaitu doa Nabi Ibrahim as dan putra pertamanya, Nabi Ismail as, ketika sedang sibuk-sibuknya merenovasi dan memugar Ka’bah. Di sini kita melihat korelasi teologis antara Masjidil Haram dengan Ka’bahnya dan Muhammad sebagai Rasul Allah—yang merupakan buah dari doa keduanya (Nabi Ibrahim as dan nabi Ismail as)—dengan Kitab Suci yang dibawanya. Di sini juga kita melihat urgensi penggunaan kata كَمَا (kamā) di awal ayat ini. Sehingga, dengan demikian, melalui penggunaan kata كَمَا (kamā) tersebut, kita tidak saja disuguhi hubungan sebab-akibat di antara keduanya (pemugaran Ka’bah dan kerasulan Muhammad serta perintah untuk berkiblat kepadanya), tapi sekaligus menjelaskan kesatuan teologis di antara keduanya, sehingga menafikan yang satu sama dengan menafikan yang lainnya; membelot dari yang satu sama dengan membelot dari yang lainnya. Bahkan bilamana kita menarik hubungan itu lebih ke belakang lagi, ke kandungan ayat 124 [tentang imamah yang berasal dari ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim as], niscaya kita akan menemukan tautan singkronis dan kesatuan harmonis tiga rusuk dari sebuah segitiga sama sisi: Imamah, Ka’bah, dan Rasulullah saw. Memisahkan atau mendikotomikan ketiganya sama saja dengan menghancurkan agama Ibrahimik. Sebaliknya, di dalam kesatuan itulah letaknya kemenangan dan kesejahteraan orang-orang beriman. “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini. Dan jika kalian khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (9:28)

 

4). Materi yang belum dijelaskan di ayat 129 ialah: وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَ (wa yu’allimukum mā lam takŭnŭ ta’lamŭn, serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kalian ketahui). Untuk memahami ayat ini, mari kita bandingkan dengan ayat berikut ini (96:5): عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (‘allamal insāna mā lam ya’lam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya). Kedua ayat ini menggunakan bentuk kalimat yang sama—yakni kalimat fi’liyah (dimulai dengan kata kerja)—dan dengan pilihan serta susunan kata-kata yang juga hampir sama. Perbedaannya: satu, 2:151 menggunakan bentuk mudlāri’ (present continuous, sekarang dan akan datang), sementara 96:5 menggunakan bentuk mādli (past tense, lampau). Dua, di 2:151 ini pelakunya ialah Rasulullah saw, sementara di 96:5 pelakunya ialah Allah swt. Tiga, objek الْإِنسَانَ (al-insān,manusia) di 96:5 diganti dengan dlamĭr (kata ganti)  كُم(kum, kalian) di 2:151. Empat, 2:151 menggunakan bentuk kāna (ada, menjadi)—perhatikan kata تَكُونُواْ (takŭnŭ, ada pada kalian)—sementara di 96:5 bentuk ini tidak muncul. Apa maksud dari semua ini? Menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Rasulullah saw dan pelanjut-pelanjutnya hanyalah meneruskan atau menyampaikan apa yang telah Allah ajarkan kepada manusia “melalui” mereka. Hakikat seluruh pengetahuan diajarkan oleh Allah, namun di 2:151 ini menekankan bahwa Rasul datang khusus mengajarkan manusia apa yang tidak mungkin diperolehnya melalui alat-alat cerapan pengetahuannya: مَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَ (mā lam takŭnŭ ta’lamŭn, apa yang belum kalian ketahui). Misalnya, manusia tidak mungkin menemukan tata-cara beribadah kepada-Nya; manusia tidak mungkin menemukan ideologi dan sistem pemerintahan yang berkeadilan—manusia hanya mampu membincang secara akademis mengenai teori-teori keadilan dan bereksperimentasi tentang itu (lihatlah, ideologi-ideologi dan pemerintahan-pemerintahan buatan manusia rontok satu persatu seiring dengan waktu setelah memakan korban yang tidak sedikit). “Dan hendaklah kamu (Muhammad) memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah hendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (5:49-50)

 

5). Hadits Nabi:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا السَّرِيُّ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا الْحَسَنُ عَنْ الْأَسْوَدِ بْنِ سَرِيعٍ وَكَانَ رَجُلًا مِنْ بَنِي سَعْدٍ قَالَ وَكَانَ أَوَّلَ مَنْ قَصَّ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي الْمَسْجِدَ الْجَامِعَ قَالَ

غَزَوْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعَ غَزَوَاتٍ قَالَ فَتَنَاوَلَ قَوْمٌ الذُّرِّيَّةَ بَعْدَمَا قَتَلُوا الْمُقَاتِلَةَ فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَلَا مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَتَلُوا الْمُقَاتِلَةَ حَتَّى تَنَاوَلُوا الذُّرِّيَّةَ قَالَ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَلَيْسَ أَبْنَاءُ الْمُشْرِكِينَ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ خِيَارَكُمْ أَبْنَاءُ الْمُشْرِكِينَ إِنَّهَا لَيْسَتْ نَسَمَةٌ تُولَدُ إِلَّا وُلِدَتْ عَلَى الْفِطْرَةِ فَمَا تَزَالُ عَلَيْهَا حَتَّى يُبِينَ عَنْهَا لِسَانُهَا فَأَبَوَاهَا يُهَوِّدَانِهَا أَوْ يُنَصِّرَانِهَا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far berkata, telah menceritakan kepada kami As Sari bin Yahya telah menceritakan kepada kami Al Hasan dari Al Aswad bin Sari’ dia adalah seorang laki-laki dari Bani Saad berkata, dan dia adalah orang yang pertama kali menceritakan Masjid Jami’ ini, ia berkata, saya berperang bersama Rasulullahi Shallallahu’alaihiwasallam sebanyak empat kali peperangan. (Al Aswad bin Sari’) berkata, lalu orang-orang menyerang anak-anak dan para wanita (rakyat sipil) setelah membunuh prajurit musuh. Kasus ini sampai kepada Rasulullah saw, lalu beliau bersabda: “Atas dasar apa suatu kaum membunuh para prajurit hingga juga mereka bunuh rakyat sipil (anak-anak dan para wanita)?” (Al Aswad bin Sari’) berkata, lalu ada seorang laki-laki yang berkata, Wahai Rasulullah, bukankan mereka adalah anak-anak orang musyrik? (Al Aswad bin Sari’) berkata, lalu Rasulullah saw bersabda: “Apa alasan kalian (membunuh mereka) hanya karena mereka adalah anak orang musyrik? Tidak ada jiwa yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan akan tetap seperti itu sampai lidahnya mengikrarkannya. Lalu kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan dia Yahudi atau menjadikan Nasrani“. (Musnan Ahmad no. 15713)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Kenapa Allah yang menetapkan secara sepihak kiblat manusia sebagaimana juga Dia mengutus Rasul secara sepihak? Karena hanya Allah-lah yang tahu—dengan ke-Mahatahuan-Nya—kemaslahatan seluruh manusia sebagaimana Dia tahu sosok manusia (Rasul) yang padanya tersimpul seluruh kemaslahatan itu. Maka membiarkan manusia biasa—yang tak terpilih oleh Allah—mengurus agama sama saja dengan membiarkan agama langit menjadi agama bumi.

Related Posts

One Response

  1. Isnamel2013-08-02 at 8:24 pmReply

    What ayat or stories speak of withcraft and those who use the devil to send shayateen to people.

Tinggalkan Balasan