Al-Baqarah ayat 146

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 146by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 146SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 146   الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءهُمْ وَإِنَّ فَرِيقاً مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ [Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Kitab Suci (Taurat dan Injil) mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.] [Those whom We have […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 146

 

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءهُمْ وَإِنَّ فَرِيقاً مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

[Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Kitab Suci (Taurat dan Injil) mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.]

[Those whom We have given the Book recognize him as they recognize their sons, and a party of them most surely conceal the truth while they know (it).]

 

1). Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa tiap orang akan menghadapkan wajahnya kepada kiblat yang telah dipilihnya berdasarkan ilmunya, dan tidak akan ada yang bisa memalingkannya kendati memperlihatkan kepadanya semua mukjizat atau tanda kebesaran Allah. Begitu hebatnya yang namanya kepercayaan (belief, iman). Tetapi harus segera disampaikan bahwa kepercayaan mempunyai dua sisinya: positif dan negatif. Kepercayaan pada sisinya yang positif melahirkan keyakinan (yaqĭn, convinced). Kepercayaan pada sisinya yang negatif melahirkan kebencian (baghdlāa, aversion). Kepercayaan pada sisinya yang negatif inilah yang membutakan jiwa seseorang dari kebenaran, sehingga akan terus percaya kepada ‘ilmu’-nya walaupun sudah terbukti sebaliknya. Orang-orang yang termasuk bagian dari kaum yang telah diberi Kitab Suci (seperti Yahudi dan Nasrani), melalui Kitab Suci tersebut, mereka mengenal sosok dan karakter Muhammad saw, tetapi mereka menolaknya, mengingkarinya, bahkan memperolok-olokkannya, karena kepercayaannya bertengger pada sisi yang negatif. (Lebih kanjut tentang mereka ini, kaitannya dengan sosok Rasulullah, baca kembali komentar ayat 89). “Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. Mereka mengetahui nikmat Allah (Kenabian Muhammad), kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir. Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) mereka dibolehkan meminta maaf.” (16:82-84)

 

2). Kebencian, bila sudah menguasai diri seseorang, akan membuat hambar seluruh pengetahuan yang ada padanya, andaipun pengetahuannya tersebut sudah sampai pada taraf: يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءهُمْ [ya’rifŭnaɦu kamā ya’rifŭna abnāaɦum, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri]. Mengenal suatu objek pengetahuan hingga pada tingkat sama dengan menganal anak-anak sendiri, menunjukkan pengenalan yang tinggi—walaupun memang belum mencapai tingkat yang paling tinggi (sempurna). Karena tidak ada yang paling mengenal seorang anak selain orang tuanya sendiri. Begitulah mereka mengenal sosok Muhammad saw, secara konseptual (seperti tersebut di dalam Kitab Suci terdahulu) ataupun secara faktual (seperti kenyataan yang mereka saksikan sehari-hari). Tetapi kebencian jualah yang menghalangi mereka mengambil manfaat dari ajaran-ajaran suci yang dibawa beliau. “Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab Suci kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah). Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.” (6:20-21)

 

3). Lalu kenapa pengenalan orang tua kepada anak-anaknya belum dianggap sebagai taraf pengenalan yang paling tinggi (sempurna)? Pembahasan ini sedikit bercorak epistemologi: Yaitu bahwa bagaimanapun dekatnya orang tua kepada anak-anaknya, tetap ada jarak spasio-temporal di antara keduanya. Dan karenanya ada ranah subjek-objek di sana. Subjek (yang coba untuk mengetahui) meniscayakan adanya perabot (pancaindra beserta alat-alat bantunya) dan metodologi (cara dan aturan) untuk mengenal objek. Kesalahan atau cacat pengenalan selain bisa terjadi pada subjek (misalnya, motif dan atau presisi penggunaan perabot dan metodologi), bisa juga terjadi pada perabot dan metodologi itu sendiri. Ruang probabilitas inilah yang memberi tempat untuk eksisnya sisi negatif dari kepercayaan, yakni kebencian. Maka pengenalan yang tarafnya paling tinggi (sempurna) hanya akan tercapai apabila subjek dan objek menjadi satu: yang mengenal dan yang dikenal adalah satu. Yaitu apabila redaksi ayatnya kita rubah menjadi: يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَنْفُسَهُمْ [ya’rifŭnaɦu kamā ya’rifŭna anfusaɦum, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal diri mereka sendiri]. Sayangnya bunyi ayatnya tidak seperti itu. Itu sebabnya kebencian masih bercokol di balik pengenalan mereka kepada Nabi Muhammad saw. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian ambil menjadi teman sejiwa orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkanmu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kalian memahaminya.” (3:118)

 

4). Kebencian itulah yang menyebabkan kebenaran disembunyikan: وَإِنَّ فَرِيقاً مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (wa inna farĭqan minɦum layaktumŭnal-haqqa wa ɦum ya’lamŭn, dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui). Kenapa cuma sekedar “disembunyikan”? Karena kebenaran tidak bisa dirubah menjadi kebatilan. Maka usaha maksimal untuk menghalang-halangi orang lain bersentuhan dengannya ialah dengan menyembunyikannya dari perhatian publik. Bisa dengan menciptakan kegaduhan opini, bisa juga dengan mengintimidasi orang-orang yang mulai mendekati kebenaran tersebut. Dan usaha-usaha busuk seperti ini hanya bisa dilakukan secara sistematis dan konspiratif. Itu makanya Allah menggunakan kata فَرِيقاً (farĭqan, sebahagian) di ayat ini, untuk menunjukkan bahwa pelakunya ialah sekelompok orang, yang melakukannya dengan sadar dan sengaja: وَهُمْ يَعْلَمُونَ (wa ɦum ya’lamŭn, padahal mereka mengetahui). Diriwatkan oleh Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda: “Jauhilah oleh kalian perasangka, sebab perasangka itu adalah ungkapan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari aib orang lain, jangan pula saling menebar kebencian dan jadilah kalian orang-orang yang bersaudara….” (HR. Bukhari, no. 4747)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Berpengetahuan artinya subjek (yang mengetahui) mengenal objek (yang diketahui). Senjang antara subjek dan objek menyisakan ruang yang memungkinkan munculnya “kebencian”. Maka, hindarilah kebencian dan fitnah kepada pihak lain dengan menyadari bahwa pengenalan Anda kepadanya tidak pernah mencapai derajat sempurna. Kalau tidak, maka Anda bukan saja berpeluang untuk benci, tapi sekaligus akan menyembunyikan kebenaran yang ada padanya.

Related Posts

Tinggalkan Balasan