Al-Baqarah ayat 139

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 139by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 139SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 139   قُلْ أَتُحَآجُّونَنَا فِي اللّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ [Katakanlah: "Apakah kalian memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kalian; bagi kami amalan kami, bagi kalian amalan kalian, dan kami ikhlas kepada-Nya.] [Say: Do you dispute with us about […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 139

 

قُلْ أَتُحَآجُّونَنَا فِي اللّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ

[Katakanlah: "Apakah kalian memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kalian; bagi kami amalan kami, bagi kalian amalan kalian, dan kami ikhlas kepada-Nya.]

[Say: Do you dispute with us about Allah, and He is our Lord and your Lord, and we shall have our deeds and you shall have your deeds, and we are sincere to Him.]

 

1). Defenisi Tuhan dalam al-Qur’an sangat jelas, sejelas apa yang difahami oleh akal dan ditulis di dalam Kitab-Kitab Suci samawi sebelumnya. Maka siapa saja yang melakukan perenungan yang mendalam tentang hakikat Tuhan niscaya akan sampai kepada kesimpulan yang sama. Tuhan adalah puncak kesempurnaan segala kebaikan. Pilihlah salah satu kebaikan atau sifat positif apa saja, pasti juga ada pada Tuhan, dalam bentuknya yang sempurna. Dan kalau semua kebaikan-kebaikan atau sifat-sifat positif itu berkumpul di dalam DIRI Tuhan, maka semuanya akan menyatu tak terpisahkan—seperti berkas-berkas sinar yang kembali ke sumber cahayanya—lalu membentuk satu terma yang melingkupi semuanya. Dalam Bahasa Arab—dan juga masih digunakan di dalam Agama Nashrani—terma itu bernama: ALLAH (artinya: Yang pantas disembah). Dengan demikian, secara definisi, Tuhan tidak perlu diperdebatkan. Pernyataan Allah di ayat ini sangat kuat: وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ (wa ɦuwa rabbunā wa rabbu kum, dan Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kalian). Perhatikanlah betapa Allah sendiri sama sekali tidak bermaksud mengeluarkan hamba-hamba-Nya dari wilayah ke-Tuhanan-Nya. Sehingga, betapapun seseorang menentang eksistensi-Nya, namun dia sungguh tidak akan bisa mengeluarkan dirinya dari wilayah ke-Tuhanan-Nya. Simaklah dialog Nabi Musa dan Fir’aun di ayat-ayat berikut ini. “Fir’aun bertanya: ‘Siapa Tuhan semesta alam itu?’ Musa menjawab: ‘Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya; (itulah Tuhanmu), jika kalian meyakini-Nya’. Berkata Firaun kepada orang-orang sekelilingnya: Apakah kalian tidak mendengarkan?Musa berkata (lagi): Tuhan kalian dan Tuhan nenek-nenek moyang kalian yang dahulu. Firaun berkata: Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kalian benar-benar orang gila. Musa meneruskan: Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kalian mempergunakan akal.” (26:23-28)

 

2). Kendati tak seorang pun yang kuasa mengeluarkan dirinya dari wilayah ke-Tuhanan-Nya, namun bukan berarti Tuhan membelenggu mereka di dalam satu pilihan. Allah memberi manusia pilihan-pilihan. Dan setiap orang diberi kebebasan untuk menganut pilihannya masing-masing, dengan catatan, juga masing-masing bertanggungjawab atas pilihan tersebut. Maka beramallah menurut keyakinan masing-masing. Saling menghormatilah di dalam pengamalan tersebut sebagaimana Allah sendiri menghormatinya. Toh setiap orang bertanggungjawab kelak di hadapan-Nya atas amalan-amalan tersebut. Prinsip ini bukan hanya berlaku di dalam lintas agama, tetapi juga di antara sekte-sekte atau mazhab-mazhab di dalam satu agama yang sama. Di sinilah al-Qur’an memperlihatkan nilai kemuliannya. Betapa tidak, di ayat sebelumnya (138), Allah menekankan bahwa hanya ada satu صِبْغَةَ (shibghah) yang benar, yaitu صِبْغَةَ اللّهِ (shibghah Allah), karena hanya inilah yang sejalan dengan فِطْرَة (fithrah) manusia. Tetapi di ayat ini (139), Allah menekankan bahwa kendati hanya ada satu صِبْغَةَ (shibghah) yang benar, namun tetaplah manusia diperintah untuk saling menghargai. Terhadap perbedaan keyakinan, Allah menyuruh kita mengatakan:  لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ(lanā a’māluna wa lakum a’mālukum, bagi kami amalan kami, bagi kalian amalan kalian). Luar biasa. Kalau semua pihak—paling tidak di internal umat Islam sendiri—menghayati ayat ini dengan sebaik-baiknya, yakinlah hidup ini menjadi harmonis, seharmonis kemajemukan bunga-bunga di dalam taman yang indah.  “Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: ‘Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kalian. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kalian. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kalian amal-amal kalian. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kalian, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah (kita akan) kembali’.” (42:15)

 

3). Itulah prinsip toleransi yang benar. Toleransi yang sehat bukanlah berangkat dari kepercayaan bahwa semua agama dan keyakinan yang berbeda itu sama dan semuanya benar. Sebaliknya, toleransi yang rasional adalah yang bertolak dari kepercayaan bahwa hanya ada satu yang benar, yaitu yang kita yakini. Kemudian bersungguh-sungguh menghormati keyakinan orang atau pihak lain. Dalam pengertian, memberi ruang yang seluas-luasnya kepada orang atau pihak tersebut untuk mengelaborasi dan mengejawantahkan keyakinannya. Dengan cara begini kita bukan berarti membenarkan keyakinannya, tapi mengakui dan menjunjung tinggi hak mereka untuk berkeyakinan seperti itu—walaupun menurut kita salah. Toleransi macam ini menumbuhkan kepercayaan diri yang tinggi dan menghilangkan anomali-anomali. Toleransi macam inilah yang akan menumbuhsuburkan argumentasi-argumentasi, dan bukan agitasi-agitasi. Toleransi harus mendorong semangat manusia untuk terus mencari kebenaran, karena semangat pencarian kebenaran itulah yang membuat manusia mengembangkan kebudayaan dan peradabannya dari waktu ke waktu. Toleransi bukanlah permisifme relijius, tapi toleransi adalah dinamisme sosial. “Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian (pun) bukanlah penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku’.” (109:1-6)

 

4). Setelah berbicara tentang adanya kebenaran tunggal yang disebut صِبْغَةَ اللّهِ (shibghah Allah), ayat 138 ditutup dengan pernyataan: وَنَحْنُ لَهُ عَابِدونَ (wa nahnu laɦu ‘ābidŭn, dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah). Kemudian setelah berbicara mengenai Allah sebagai Tuhan bersama dan Pusat pertanggungjawaban amal menurut keyakinan masing-masing, ayat 139 ini ditutup dengan pernyataan: وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ (wa nahnu laɦu mukhlishŭn, dan kami ikhlas kepada-Nya). Allah seakan hendak mengesankan bahwa Tuhan itu bukan sebagai ornamen peribadatan belaka. Tuhan bukan hanya salah satu variabel dalam beragama. Tuhan tak cukup ditempatkan di puncak menara-menara untuk kemudian kita seru-seru. Tapi Tuhan harus dituju dalam peribadatan dan keberagamaan itu. Dituju dalam pengertian “sebagai sasaran gerak: gerak intelektual, gerak spiritual, dan gerak sosial”. Jika ketiga gerak ini (intelektual, spiritual, sosial) mencapai Dia, maka ketiganya pun menyatu dan melebur ke dalam Diri-Nya, sehingga yang ada hanya Dia. Makanya, seluruh tujuan-tujuan sekunder (apalagi tujuan semu) itu harus disingkirkan. IKHLASH. “Katakanlah: ‘Tuhanku menyuruh menegakkan keadilan’. Dan (katakan pula): ‘Luruskanlah wajah (jiwa) kalian di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agamamu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kalian pada permulaan (demikian pulalah) kalian akan kembali kepadaNya’.” (7:29)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Anda tidak akan pernah beribadah dengan benar kalau Anda sendiri tidak meyakini bahwa agama Anda benar. Maka beragama haruslah berangkat dari keyakinan bahwa agama yang Anda anut itu BENAR. Tetapi Anda pun harus berkeyakinan bahwa orang lain juga punya HAK untuk mengakui kebenaran agamanya. Setelah itu berkatalah kepadanya: bagi kami amalan kami, bagi kalian amalan kalian.

Related Posts

Leave a Reply