Al-Baqarah ayat 136

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 136by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 136SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 136   قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ [Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, serta apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 136

 

قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

[Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, serta apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, kepada Isa, dan apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya berserah diri kepada-Nya".]

[Say: We believe in Allah and (in) that which had been revealed to us, and (in) that which was revealed to Ibrahim and Ismail and Ishaq and Yaqoub and the tribes, and (in) that which was given to Musa and Isa, and (in) that which was given to the prophets from their Lord, we do not make any distinction between any of them, and to Him do we submit.]

 

1). Di tengah-tengah serunya perseteruan klaim di antara Yahudi dan Nashrani, serta kekukuhan mereka mengajak pengikut Muhammad untuk menjadi penganut ajaran agama mereka masing-masing, Allah tiba-tiba datang mendemonstrasikan cara dan prinsip beragama yang benar. Yaitu, bahwa keberagaman nabi dan ajaran langit yang mereka bawa, bukanlah untuk dipluralisasi dan diparalelisasi. Karena setiap nabi yang datang selalu dalam rangka melanjutkan dan atau menyempurnakan ajaran langit sebelumnya. Betapa tidak, prinsip mereka semuanya sama: TAUHID (kesatuan); mulai dari kesatuan penciptaan, kesatuan realitas, kesatuan wujud, kesatuan insani, kesatuan ilahi, kesatuan sumber nabi-nabi, sampai kepada kesatuan ajaran para nabi. Maka sudah pasti semua kemungkinan yang membuka peluang terjadinya dualisme—apalagi pluralisme—telah ditutup oleh Sang Sumber Tunggal tersebut. Karena setiap peluang seperti itu selalu menjadi pintu masuknya perbuatan SYIRIQ (lawan dari tauhid). Dan agar itu tidak terjadi, yang selalu harus dipegang ialah yang terakhir, selama meyakini bahwa yang terakhir ini adalah kontinyuasi dari sebelumnya. Sehingga, prinsip inilah yang benar: “Katakanlah: ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, serta apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, kepada Isa, dan apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya berserah diri kepada-Nya.” (3:84)

 

2). Perhatikan urutan ayat! Ada empat komponen utama yang membentuk struktur ayat ini: آمَنَّا بِاللّهِ (āmannā billahi, kami beriman kepada Allah);  مَا أُنزِلَ(mā unzila, apa yang diturunkan); لاَ نُفَرِّقُ (lā nufarriqu, kami tidak mmebeda-bedakan); لَهُ مُسْلِمُونَ (laɦu muslimŭn, kepada-Nya berserah diri). Penggunaan kata kerja perintah jamak قُولُواْ (qŭlŭw, katakanlah) sendiri di awal kalimat sudah merupakan indikasi bahwa kandungan ayat ini memuat hal-hal yang sangat prinsipil dan fundamental. Kata kerja perintah jenis ini tidak banyak kita temukan dalam al-Qur’an. Totalnya hanya ada 12 kata dan ayat. Sementara di ayat yang nyaris sama, 3:84, Allah menggunakan kata kerja perintah bentuk tunggal. Seakan-akan Allah hendak mengatakan kepada penerima perintah bahwa “Bangunlah pondasi agama kalian dengan menggunakan prinsip….”

Kita mulai dari yang pertama. Klausa آمَنَّا بِاللّهِ (āmannā billahi, kami beriman kepada Allah), bukan hanya pantas menempati posisi sebagai prinsip pertama, tapi sekaligus sebagai prinsip paling utama. Karena dari sinilah bermula semuanya. Prinsip-prinsip berikutnya menjadi tidak bernilai tanpa yang satu ini. Dasar penilaian kita terhadap nabi-nabi beserta ajaran-ajaran yang mereka bawa harus bertumpu ke sini. Apabila ini salah, maka secara otomatis turunan-turunannya pasti salah. Apabila ini keliru, maka cara kita memandang kenabian dan silih bergantinya mereka, pun akan keliru. Misal, kita percaya Tuhan itu Maha Pengasih, Maha Penyayang. Harusnya kitapun percaya kalau Dia mengutus nabi. Kalau tidak, lantas bagaimana kita percaya bahwa hujan dan cahaya matahari Dia turunkan sebagai bukti cinta dan kasih-Nya kepada kehidupan di bumi? Artinya, kalau Tuhan menurunkan hujan dan cahaya matahari untuk menghidupkan tubuh manusia, selayaknya Dia pun menurunkan nabi dan rasul untuk menghidupkan jiwa manusia. Dan kalau hujan dan cahaya matahari yang jelas-jelas bersifat fisikal tak bisa dipluralisasi, lalu bagaimana mungkin nabi dan ajaran-ajarannya yang jelas-jelas metafisikal bisa dipluralisasi? Sementara, apabila Tuhan dipersepsi oleh semua orang dengan akal secara sempurna, niscaya akan sampai pada kesimpulan yang sama. “Allah-lah yang menjadikan malam untukmu supaya kalian beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka bagaimanakah kalian dapat dipalingkan? Seperti itulah dipalingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah. Allah-lah yang menjadikan bumi bagimu (sebagai) tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kalian lalu membaguskan rupamu serta memberimu rezki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (40:61-65)

 

3). Yang kedua,  مَا أُنزِلَ(mā unzila, apa yang diturunkan). Kata ini setara dan semakna dengan kata مَا أُوتِيَ (mā ŭtiya, apa yang diberikan). Dalam kaidah Bahasa Arab, fungsi mim-mad (مَا) di sini berfungsi sebagai isim maushŭl (kata benda sambung) terhadap kata kerja آمَنَّا (āmannā, kami beriman), dengan menempati posisi “wahyu” atau “Kitab Suci” yang mengandung “ajaran” yang “diturunkan” atau “diberikan” kepada para nabi tersebut. Penyebutan serentetan nama-nama nabi di situ menunjukkan bahwa mereka semuanya menerima “ajaran” yang sumbernya sama, yaitu Allah Rabbul Alamin, yang disebutkan pertama kali sebagai objek dari kata kerja آمَنَّا (āmannā, kami beriman). Dan karena sumbernya sama, maka sudah barang tentu inti ajarannya pun sama. Kecuali bahwa yang belakangan mengalami perluasan dan penyempurnaan, sesuai dengan pertumbuhan jumlah dan perkembangan kemampuan manusia dan masyarakatnya. Apabila ajaran-ajaran itu tidak diletakkan pada sebuah garis lurus kontinyitas, maka setidaknya ada dua masalah besar yang akan muncul. Satu, akan muncul pluralitas dan paralelitas ajaran yang akan membingungkan manusia. Pada gilirannya, manusia menjadi ‘korban’ turun-temurun dari perebutan kepentingan dari para ‘pengurus’ ajaran tersebut. Dan ‘korban’ tersebut bisa berganda-ganda apabila Penguasa Duniawi sudah turut campur di dalamnya dengan menggunakan ajaran tersebut sebagai instrumen politik demi mempertahankan kelanggengan dinasti dan kekuasaannya. Dua, akan ada banyak ajaran yang kadaluarsa dan tidak sejalan lagi dengan perkembangan kemampuan manusia. Dan, seperti makanan, ajaran yang kadaluarsa, alih-alih mendorong manusia dan masyarakatnya menuju ke kesempurnaannya, bahkan hanya akan meracuni tatanan kehidupannya. “Dan bahwa (yang Aku perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kalian bertakwa.” (6:153)

 

4). Yang ketiga, لاَ نُفَرِّقُ (lā nufarriqu, kami tidak mmebeda-bedakan). Yaitu bahwa sifat nabi beserta kenabiannya sama. Dari sisi sifat, secara biologis, semuanya sama: manusia biasa. Bukan jin bukan malaikat. Bukan tuhan bukan anak tuhan. Bukan dewa bukan dewi. Mereka tercipta dari tanah dan terlahir di bumi. Mereka makan dengan apa yang manusia makan, minum dengan apa yang manusia minum. Seluruh kebutuhan dan sifat ragawi yang ada pada semua manusia, juga ada pada mereka. Klausa yang paling sering terulang dalam al-Qur’an berkenaan dengan nabi ialah “min anfusikum” (dari jenis kalin sendiri). Maka dari itu, mereka semua bisa digugu, bisa diteladani. Kalau ada satu saja di antara mereka yang kita anggap sebagai anak tuhan dan yang lain bukan, berarti kita telah membeda-bedakan mereka.

Begitu juga dari sisi kenabiannya. Mereka semua dipilih dan diangkat oleh Allah, tanpa campur tangan manusia sedikit pun. Mereka semua pun telah mencapai suatu tingkat ketinggian ruhanian dan keindahan akhlak yang sedemikian sehingga pantas menjadi patron bagi manusia lainnya. Baik itu terjadi setelah mencapai usia dewasa [seperti Nabi Yusuf (12:22) dan Nabi Musa (28:14)] ataupun ketika masih anak-anak [seperti Nbi Yahya (19:12) dan Nabi Isa (19:29)]. Karena dalam menjalankan tugas kenabiaannya, bukan usia biologisnya yang penting, tapi kematangan spiritual dan akhlaknya. Bukankah banyak manusia yang usianya sudah sangat dewasa tapi akhlaknya masih kekanak-kanakan? Begitu juga sebaliknya. “Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya’, dan mereka mengatakan: ‘Kami dengar dan kami taat’. (Mereka berdoa): ‘Wahai Tuhan kami, Ampunan-Mulah yang kami harap dan kepada-Mulah tempat (kami) kembali’.” (2:285)

 

5). Yang keempat, لَهُ مُسْلِمُونَ (laɦu muslimŭn, kepada-Nya berserah diri). Titik tekan dari poin ini ialah pada kata ganti orang ketiga tunggalnya: هُ (ɦu, Nya), yang bukan mengganti posisi nabi, juga bukan posisi ajaran, tapi posisi Allah. Sehingga penyerehan diri setiap umat nabi dan setiap penganut ajaran nabi, bukan kepada nabinya, bukan kepada ajarannya. Tapi kepada Allah, Tuhannya—yang pertama dan utama dari semuanya. Manakala penyerahan diri itu kepada nabi dan ajarannya, niscaya tak terhindarkan lagi munculnya pluralitas dan paralelaitas ajaran agama. Garis lurus atau kontinyuitas ajaran para nabi hanya akan terjaga manakala penyerehan diri ditujukan kepada Sang Pengutus nabi dan Pemberi ajaran. Kehendak-Nyalah yang seharusnya juga menjadi kehendak pengikut para nabi dan penganut ajarannya. Ketika Dia berkehendak mengutus nabi baru dan mendatangkan ajaran yang disempurnakan, maka selayaknya semua pengikut nabi dan penganut ajaran agamanya menyesuaikan diri dengan kehendak itu. Jika tidak, maka penyerahan dirinya bukan lagi kepeda Allah, dan itu adalah SYIRIQ.

Komponen-komponen inilah yang menjadi jawaban Allah terhadap tawaran pluralisme agama yang disodorkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani di ayat sebelumnya (ayat 135). “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (3:83)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Tidak ada agama kalau tidak ada nabi atau orang suci yang membawanya. Dan setiap nabi atau orang suci tersebut, dipercaya oleh semua agama, diutus oleh Tuhan, Pencipta alam semesta. Pun dipercaya bahwa orientasi setiap ajaran agama adalah berserah diri secara total kepada-Nya. Hingga para penganut ajaran agama tersebut menyatukan kehendaknya dengan kehendak-Nya. Pilihan hidupnya adalah pilihan-Nya. Agamanya adalah agama-Nya.

Related Posts

Tinggalkan Balasan