Al-Baqarah ayat 132

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 132by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 132SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 132   وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ [Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan berserah diri".] [And […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 132

 

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

[Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan berserah diri".]

[And the same did Ibrahim enjoin on his sons and (so did) Yaqoub. O my sons! surely Allah has chosen for you (this) faith, therefore die not unless you are Muslims.]

 

1). Penekanan ayat ini adalah pada kata وَصَّى [washshā, dia (Ibrahim) berwasiat]. Produk dari perbuatan وَصَّى (washshā, berwasiat) adalah وَصِيَّة (washiyyah, wasiat). Maka “berwasiat” artinya menyampaikan “wasiat” kepada pihak tertentu. Dan dalam ranah bahasa, wasiat biasanya dimaknai sebagai sesuatu yang sakral, luhur, dan suci, yang menyebabkannya lebih tinggi aura fonetik dan morfologinya ketimbang sekedar “pesan”. Adalah benar bahwa di dalam kata “wasiat” terkandung makna “pesan”, hanya saja bukan sekedar “pesan” biasa. Dikatakan “wasiat” apabila pemilik kuasa atas sesuatu memberikan atau memindahtangankan atau mendelegasikan kuasa atas sesuatu itu kepada pihak lain yang dipilihnya secara prerogatif dan otoritatif. Al-Qur’an menjadikan “wasiat” kian berganda keluhurannya setelah dituturlan sebagai perintah Allah, perbuatan nabi dan rasul, dan bahkan perbuatan Allah itu sendiri. Sebagai perintah Allah, al-Qur’an menukil seperti ini: “Diwajibkan atas kalian, apabila seorang di antara kalian kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta, berwasiat untuk ibu-bapa dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa” (2:180). Sebagai perbuatan Allah: “Katakanlah: ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kalian oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kalian mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, dan janganlah kalian membunuh anak-anak ka karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar’. Demikian itu yang diwasiatkan (Allah) kepadamu supaya kalian memahami(nya).” (6:151, liat juga 6:152-153, dan 42:13) Sedangkan ayat yang tengah kita bahas ini (2:132) adalah contoh wasiat nabi dan rasul. Setelah menjadi ketetapan dalam al-Qur’an, maka secara otomatis pelanggaran atas wasiat berkonsekuensi pada hukuman. Firman-Nya: “Maka siapa saja yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (2:181)

 

2). Wasiat Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya menunjukkan betapa semangat keagamaan itu menjadi nafas abadi bagi para nabi dan rasul tersebut. Artinya, para nabi dan rasul betul-betul menunaikan tugas ilahiahnya dalam keadaan tak berjedah hingga titik darah penghabisan. Wasiat ini juga menunjukkan kepada kita bahwa yang paling pertama dan utama yang menjadi sasaran dakwah dan keprihatinan para nabi dan rasul adalah orang-orang dekatnya, anak-anak dan keturunannya, atau Ahlul Bayt-nya. Sejalan dengan pesan Allah dalam al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari (azab) api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah dari apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (66:6). Juga konsisten dengan tugas Imamh Nabi Ibrahim as yang diembankan kepadanya dan kepada ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya di ayat sebelumnya (124). Sehingga dengan melihat sakralitas wasiat itu, bisa disimpulkan bahwa “anggota keluarga nabi dan rasullah yang paling buruk nasibnya di sisi Allah jika menolak wasiat itu, dan anggota keluarga nabi dan rasul pulalah yang paling mulia manakala menunaikan wasiat tersebut.” Renungkanlah ayat ini: “Wahai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah.” (33:30)

 

3). Lalu apa gerangan isi wasiat Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub tersebut? Jawabannya ada pada huruf هَا (ɦā, nya)—yang merupakan kata ganti—dalam klausa وَوَصَّى بِهَا (wa washshā biɦā). Kata atau kalimat yang digantikan oleh huruf هَا (ɦā, nya) itulah yang menjadi isi dari wasiat tersebut. Dan karena ayat ini dimulai dengan huruf وَ (wawu ‘athaf, wawu sambung), maka bisa dipastikan kalau merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya. Di situ (ayat 131) disebutkan ketika Allah berfirman—dalam bentuk perintah—kepada Nabi Ibrahim as: أَسْلِمْ (aslim, berserahdirilah!). Agaknya, perintah Allah kepada dirinya (Nabi Ibrahim) inilah yang dia sampaikan kepada anaknya, terus kepada cucunya, Nabi Ya’qub, yang kemudian selanjutnya kepada anak-anaknya lagi. Begitu seterusnya sehingga kata أَسْلِمْ (aslim, berserahdirilah!) ini membentuk mata rantai wasiat Nabi Ibrahim kepada ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya yang datang kemudian. Dan ciri ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim yang benar ialah mereka yang menjawab lantang:  أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (aslamtu lirabbil-‘ālamĭyn, aku berserah diri kepada Tuhan semesta alam). Dengan begitu keberlangsungan مِّلَّة (millah)-nya terjamin berjalan ajek, tanpa friksi dan diskontinyu, persis seperti sebuah garis lurus. Sebegitu pentingnya wasiat ini, sehingga Nabi Nibrahim dan Nabi Ya’qub berpesan kepada anak-anaknya: فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (falā tamŭwtunna illa wa antum muslimŭwn, maka janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan berserah diri). Bisa dimaknai bahwa “penyerahan diri secara total kepada Allah” adalah syarat kematian bagi anak-anak keduanya. Kalau keturunan Nabi Ibrahim melalui Nabi Ya’qub menjadikan penyerahan diri ini sebagai syarat kematiannya, maka senyatanya tidak mungkin ada masalah dengan keturunan Nabi Ibrahim melalui Nabi Ismail. Karena dua yang terakhir ini juga berdoa bersama-sama saat merekonstruksi bangunan Baitullah, dimana kandungan doanya sama dengan wasiat tadi: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu dan (jadikanlah juga) di antara anak keturunan kami satu umat yang berserah diri kepada-Mu….” (2:128). Maka apabila Bani Israil menentang kenabian dan kerasulan Muhammad saw, bisa dipastikan, di sana ada pelanggaran terhadap wasiat moyang mereka, Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub as. Dan juga berarti pelanggaran terhadap مِّلَّة (millah)-nya: “Dan tiada yang benci millah Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (2:130)

 

4). Kenapa Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub menjadikan perintah peneyerahan diri sebagai wasiat kepada anak-anak mereka? Karena hakikat agama adalah “penyerahan diri”. Dan agama “penyerahan diri” inilah yang Allah pilihkan buat mereka. Di sini kita berjumpa kembali dengan kata اصْطَفَى (isthafā, memilih) setelah sebelumnya kita berjumpa di ayat 130. Bedanya, di ayat 130 yang menjadi al-Musthafa-nya adalah sosok Nabi Ibrahim, sementara di ayat ini al-Musthafa-nya adalah dĭn atau agama Nabi Ibrahim. Dengan demikian, baik sosok nabinya ataupun agamanya, harus sama-sama bergelar al-Musthafa (yang terpilih oleh Allah). Karenanya akan sangat ganjil—dan pasti bertentangan dengan مِّلَّة (millah)—manakala agamanya pilihan Allah tapi sosok pelaksana agama tersebut justru pilihan manusia. Ini juga menunjukkan dengan jelas bahwa antara sosok dan agama adalah dua oknum yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Agama tidak mungkin eksis tanpa sosok ilahi, sebagaimana sosok ilahi tidak mungkin eksis tanpa agama. “Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang terpilih lagi paling baik. Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa’ dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” (38:45-48)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Wasiat memiliki makna yang luhur dan sakral. Diantara tujuannya, supaya pemberi wasiat menjaga penerima wasiat dari ketergelinciran dalam hidup dan kehidupannya. Wasiat termulia seorang tua kepada anak-anaknya ialah agar mereka jangan berpisah dengan kehidupan dunia ini sebelum benar-benar menjadi Muslim sejati, yaitu orang yang benar-benar berserah diri kepada Tuhannya. Sebagai orang tua, sudahkah kita melakukan itu kepada anak-anak kita?

Related Posts

Tinggalkan Balasan