Al-Baqarah ayat 126

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 126by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 126SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 126   وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ [Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berikanlah rezki kepada penduduknya dari […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 126

 

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

[Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berikanlah rezki kepada penduduknya dari (berbagai macam) buah-buahan, (yaitu penduduknya) yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” Allah berfirman: "Dan siapa yang kafir maka Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku memaksanya menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali".]

[And when Ibrahim said: My Lord, make it a secure town and provide its people with fruits, such of them as believe in Allah and the last day. He said: And whoever disbelieves, I will grant him enjoyment for a short while, then I will drive him to the chastisement of the fire; and it is an evil destination.]

 

1). Kini kita berjumpa dengan kata إِذْ (idz, ketika) yang kedelapanbelas. Dan yang ketiga dalam rangkaian ayat tentang Nabi Ibrahim dan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya. Berarti di sini ada penekanan lain lagi di samping dua penekanan sebelumnya (ayat 124 tentang Imamah dan 125 tentang Ahlul Bait). Penekanan ayat ini ialah pada doa Nabi Ibrahim yang dipanjatkan kepada Tuhan yang telah melantiknya menjad Imam untuk seluruh manusia dan mengamanahkan padanya الْبَيْت (al-bayt) sebagai مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْناً (matsābatan linnāsi wa amnā, tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman). Redaksi lengkap doa Nabi Ibrahim: رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ [rabbij’al ɦādza balada āminan warzuq aɦlaɦu minats-tsamarāti man āmana minɦum billāɦi wal-yawmil ākhiri, Ya Tuhanku, jadikanlah negeri (Mekah) ini negeri yang aman, dan berikanlah rezki kepada penduduknya dari (berbagai macam) buah-buahan, (yaitu penduduknya) yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian]. Kalau kita perhatikan kandungan doa ini, sepertinya lebih merupakan pesan ketimbang permohonan. Yang Nabi Ibrahim minta ialah buah-buahan, padahal ini sudah terkandung dalam kata مَثَابَةً (matsābatan, tempat berkumpul), sebab bagaimana mungkin suatu tempat menjadi tempat berkumpul manakala kebutuhan-kebutuhan orang yang akan berkumpul tidak terpenuhi? Begitu juga dengan keamanan, jelas sudah terkandung di dalam kata أَمْناً (amnā, tempat yang aman). Apalagi dengan mengingat bahwa fungsi الْبَيْت (al-bayt) sebagai مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْناً (matsābatan linnāsi wa amnā, tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman) adalah fungsi yang ditetapkan sendiri oleh Allah, bukan oleh Nabi Ibrahim, sehingga seharusnya tidak perlu meminta lagi hal-hal yang berkaitan dengannya—Allah pasti menyertakan bersamanya. Belum lagi dengan fakta dimana banyak ayat yang menyebutkan bahwasanya buah-buahan dan keamanan akan Allah berikan dengan sendirinya apabila seseorang atau suatu komunitas benar-benar beriman kepadanya, tanpa diminta (7:96, 65:3). Tidak mungkin Nabi Ibrahim yang merupakan Sayyidut Tauhid tidak mengerti soal ini. “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepada kalian dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (29:60)

Lagi, kalau kita mengartikan itu sebagai doa benaran, maka coba simak dengan saksama doa Nabi Ibrahim berikut ini: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (14:35) Tetapi faktanya, pada saat kedatangan Nabi Muhammad saw, negeri itu (Mekah) telah berubah menjadi pusat penyembahan berhala di Jazirah Arab. Apakah dengan begitu berarti doa Nabi Ibrahim tidak diijabah? Tentu bukan begitu maksudnya. Doa itu adalah pengumuman penting Nabi Ibrahim ke seluruh manusia hingga Hari Kiamat bahwa ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya yang telah melakukan penyembahan berhala, tidak pantas dan tidak sah lagi menjadi pelanjut imamahnya, tidak pantas lagi menjadi penanggungjawab atau pelayan Tanah Haram. Karena Tanah itu adalah tanah yang disucikan, maka yang bisa membawahi kekuasaannya, yang bisa menjadi pelayanannya, haruslah ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya yang suci pula.

 

2). Lalu apa pesan yang Nabi Ibrahim hendak sampaikan melalui doanya (di ayat 126) tersebut? Kedua kandungan doa tersebut masing-masing mempunyai makna lahir dan batin-nya. Kita mulai dari makna lahir-nya. Kata آمِناً (āmina) bermakna, Nabi Ibrahim berpesan kepada generasi ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya yang datang kemudian untuk tetap memelihara negeri Mekah tersebut sebagai negeri yang aman: aman dari imperialisme ekonomi, aman dari kekacauan, aman dari penyembahan berhala. Siapa saja diantara mereka yang tidak melakukan salah satu dan atau lebih dari pesan tersebut maka pertanda telah mendurhakai wasiat moyangnya, sebagaimana yang Bani Israil lakukan. Kata الثَّمَرَاتِ (ats-tsamarāt) bermakna seluruh jenis makanan dan buah-buahan yang menjadi tumpuan kehidupan bilogis manusia. Melalui doanya ini, Nabi Ibrahim memesankan bahwa siapa saja yang mempersempit, bahkan menutup, atau memboikot, akses penduduknya terhadap الثَّمَرَاتِ (ats-tsamarāt), maka bukan saja melawan Nabi Ibrahim dan Ahlul Bait-nya, tapi sekaligus melawan Tuhan; karena melalui doa Nabi Ibrahim tersebut—seperti juga doanya tentang keterjagaan anak-keturunannya dari menyembah berhala-berhala (14:35)—bisa difahami bahwa Allah sebetulnya telah memberi jaminan kecukupan الثَّمَرَاتِ (ats-tsamarāt) kepada warganya, sebagaimana Allah telah memancarkan air zamzam kepada Ahlul Bait Nabi Ibrahim (Ismail dan Hajar). “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (19:54)

Sekarang makna batin-nya. Kata آمِناً (āmina) satu asal kata dengan kata أَمْناً (amnā, tempat yang aman)—yang telah kita bahas di ayat 125—dan kata آمَنَ (āmana, yang telah beriman)—yang ada di ayat ini dan akan kita bahas pada poin selanjutnya. Yang bisa kita fahami dari ketiga bentuk kata tersebut ialah bahwa keamanan yang sesungguhnya hanya akan terwujud apabila dimotori oleh orang-orang beriman (juga dalam arti yang sesungguhnya) dan dikendalikan dari tempat yang aman. Dan karena doa Nabi Ibrahim tersebut menyebut secara khusus هَـَذَا بَلَداً (ɦādza balada, negeri ini)—yang bisa dimaknai sebagai negeri tempat dimana الْبَيْت (al-bayt) atau Baitullah berada—maka bisa dipastikan bahwasanya keamanan atau kedamaian atau keadilan hanya akan tegak bilamana negeri tersebut diatur oleh orang-orang yang beriman; yaitu orang-orang yang jiwanya hanya aman, tenang, damai, bersama Allah. Seperti ketetapan Allah dalam firman-Nya: “Hanyasaja yang (bisa) memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (9:18) Apabila yang mengatur negeri tempat Masjidil Haram tersebut berada adalah orang atau pihak yang jiwanya lebih takut kepada kekuasaan manusia daripada kekuasaan Allah maka jangan pernah berpikir kalau هَـَذَا بَلَداً (ɦādza balada, negeri ini) akan menjadi tempat yang aman, tempat menyatunya nilai-nilai suci kemanusiaan. Tidak mungkin. Nabi Ibrahim berdoa: “Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (Yaitu) hari ketika harta dan anak-anak lelaki tidak (lagi) berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang damai.” (26:87-89)

Kata الثَّمَرَاتِ (ats-tsamarāt, buah-buhan) paling sering disebut sebagai hidangan ahli surga. Barangkali karena orang yang masuk ke dalam surga adalah orang yang menikmati “buah” dari usaha iman dan amal-ibadahnya di dunia. Dengan begitu bisa dimaknai, melalui doa Nabi Ibrahim ini, bahwa yang bisa menuai “buah” imannya nanti di akhirat hanyalah mereka yang bersedia menjadi ‘penduduk’ Baitullah dibawah imamah ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim yang tidak (pernah) melakukan kezaliman. “Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang beriman dan beramal sholeh, bahwa bagi mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Setiap kali mereka diberi rezeki dari buah-buahan di dalamnya, mereka mengatakan: Inilah (buah) yang pernah diberikan kepada kami dahulu (di dunia). Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan baginya di dalamnya ada pasangan-pasangan yang suci, serta mereka kekal di dalamnya” (2:25).

 

3). Klausa مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ [man āmana minɦm billāɦi wal-yawmil ākhir, (yaitu penduduknya) yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian] adalah kanal yang Allah dan Nabi Ibrahim pesankan. Yakni bahwa keamanan, kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan material di هَـَذَا بَلَداً (ɦādza balada, negeri ini) adalah untuk orang-orang yang beriman. Apakah ini diskriminasi? Apakah ini bertentangan dengan konsep مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْناً (matsābatan linnāsi wa amnā, tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman)? Tentu tidak. Karena setiap bentuk kebaikan (seperti keamanan, kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan material) tidak akan mungkin terlaksana dengan sendirinya, di tingkat personal apalagi di tingkat komunal. Setiap kebaikan selalu ada “pelaku”-nya. Tidak ada kebaikan tanpa “pelaku” kebaikan, walaupun keduanya bisa diidentifikasi secara terpisah. “Kebaikan” adalah perbuatannya, sementara “pelaku” adalah person yang melaksanakan perbuatan “kebaikan” tersebut. Pertanyaan mendasarnya kini ialah, di tingkat komunal, siapakah gerangan yang mau mengambil risiko untuk menjadi pelopor “pelaku” kebaikan tersebut dengan mengorbankan kepentingan diri dan keluarganya demi terwujudnya kebaikan komunal—kebaikan massal yang mewarnai suatu komunitas? Jawabannya: tentu mereka yang telah kehilangan ego dirinya dan tenggelam ke dalam Ego Tuhannya. Yaitu orang-orang yang beriman dalam pengertian sejatinya, orang-orang yang telah mematroni penyerahan diri Nabi Ibrahim dan Ahlul Bait-nya. Itu sebabnya Nabi Ibrahim menyebut mereka dalam doanya. Karena kalau alat-alat keamanan dan sumber-sumber keuangan jatuh ke tangan mereka, itu artinya akan menyebar secara adil ke seluruh manusia. Sementara kalau jatuh ke yang lain, akan sangat mungkin digunakan untuk melakukan kejahatan kepada kemanusiaan: penangkapan dan pemenjaraan tanpa proses peradilan, pembunuhan karakter, pengisolasian, pemboikotan, pelarangan eksistensi, perampasan harta benda, pemutusan hak-hak finansial, hingga pembunuhan yang sesungguhnya. Dalam keadaan normal, mereka menampakkan sikap peduli, tapi bilamana kepentingan pribadi dan kelompoknya mulai terancam, mereka akan melakukan apa saja. Maka melepaskan kendali keamanan dan sumber-sumber ekonomi di ‘sekitar’ Mekah kepada orang-orang yang tidak beriman, apalagi kepada Bani Israil, adalah suatu pelanggaran atas doa Nabi Ibrahim di ayat 126 ini. “Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kalian orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang dari (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka; dan orang-orang zalim hanya bermewah-mewah dengan apa yang ada pada mereka, dan mereka adalah pelaku kejahatan.” (11:116)

 

4). Dan kemungkinan lepasnya kendali keamanan dan sumber-sumber ekonomi di ‘sekitar’ Mekah kepada orang-orang yang tidak beriman, ada. Hal itu bisa dilihat dari respon Allah kepada doa Nabi Ibrahim tersebut: قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (qāla wa man kafara faumatti’uɦu qalĭylan tsummadhtharruɦu ilā ‘adzābin-nār wa bi’sal-mashĭyr, Allah berfirman: ‘Dan siapa yang kafir maka Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku memaksanya menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali’). Bentuk dan susunan ayat ini sama dengan ayat 124. Sehingga jawaban Allah di ayat ini sama bentuknya dengan jawaban Allah di ayat 124. Sama-sama negasi terhadap permintaan Nabi Ibrahim. Di ayat 124 Allah menerima permintaan Nabi Ibrahim agar ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nyalah yang akan menjadi pelaksana tugas Imamah selanjutnya hingga detik-detik terakhir kehidupan manusia, tetapi menolak ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya yang zalim. Di ayat ini, Allah pun menerima permintaan Nabi Ibrahim agar negeri Mekah terjaga keamanan dan sumber daya ekonominya untuk kemaslahatan hidup orang-orang yang beriman, tetapi menolak keterlibatan orang kafir seraya mengancamnya dengan azab neraka. Karena doa Nabi Ibrahim ini bersifat pesanan atau wasiat untuk generasi-generasi yang datang sesudahnya hingga kiamat, maka bukan berarti negasi itu tidak mungkin terjadi. Pilihan kata فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً (faumatti’uɦu qalĭylan, maka Aku beri kesenangan sementara), menunjukkan adanya saat dimana negeri Mekah atau negeri dimana الْبَيْت (al-bayt) atau Baitullah berada, jatuh ke tangan orang-orang yang tidak berhak. Hanyasaja Allah memastikan bahwa mereka semua tidak akan bertahan selamanya. Mereka akan datang silih berganti, saling memfitnah, saling menggulingkan, saling membunuh satu sama lain. Setelah itu jejak-jejak keturunan mereka pun hilang bagai di telan bumi: كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ (faumatti’uɦu qalĭylan tsummadhtharruɦu ilā ‘adzābin-nār, maka Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku memaksanya menjalani siksa neraka). Firman-Nya pula: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang akan terputus (keturunannya).” (108:1-3)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Ada dua unsur penting dalam kehidupan ini: jaminan keamanan dan suplai kebutuhan hidup. Secara natural Allah telah menyiapkan keduanya. Tetapi untuk mendapatkannya harus diusahakan. Maka dalam mengusahakan semua itu, orang beriman melibatkan Allah, karena mereka yakin semua itu Allah berikan sebagai bekal untuk menuju ke alam akhirat, dan bukan dalam rangka menetap di dunia ini. Siapa yang menikmati berian itu dalam keadaan ingkar kepada-Nya, Allah akan membiarkan hidupnya penuh dengan derita.

Related Posts

Tinggalkan Balasan