Al-Baqarah ayat 125

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 125by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 125SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 125   وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْناً وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ [Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 125

 

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْناً وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

[Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang I’tikaaf, dan yang ruku’- sujud".]

[And when We made the House a pilgrimage for men and a (place of) security, and: Appoint for yourselves a place of prayer on the standing-place of Ibrahim. And We enjoined Ibrahim and Ismail saying: Purify My House for those who visit (it) and those who abide (in it) for devotion and those who bow down (and) those who prostrate themselves.]

 

1). Kini kita berjumpa dengan kata إِذْ (idz, ketika) yang ketujuhbelas. Sehingga, dari situ bisa difahami bahwa, walaupun satu tema dengan ayat 124 tetapi episode yang dibahas ayat ini lain. Kalau di ayat sebelumnya Allah memperkenalkan kepada kita konsep, dan sekaligus jabatan, imamah yang diemban Nabi Ibrahim dan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya, maka di ayat ini ada tiga subtema yang akan dibahas: satu, tentang Baitullah sebagai tempat berkumpulnya manusia,  dua, tentang maqām Ibrahim, dan tiga, tentang ‘aɦd/janji Nabi Ibrahim dan Ismail berkenaan dengan fungsi spiritual Baitullah. Ketiganya terkait erat dengan prinsip-prinsip yang dibicarakan di ayat 124. Yaitu bahwa kalau di dalam kehidupan bersama seluruh manusia selain harus ada “sosok” yang berperan sebagai ‘pusat’ pertemuan alur biologis dan teologis yang merupakan poros kemanusiaan, yang menjadi basis perwujudan keadilan sosial; maka juga harus ada yang namanya “rumah” yang berperan sebagai ‘medan’ sosiologis dan ideologis yang menjadi basis peleburan—melting pot—seluruh ras dan wangsa manusia, sehingga semuanya menyatu ke dalam persaudaraan global. Harapannya, dari situ, hilanglah semua gradasi supervisial (seperti ras, warna kulit, bangsa, pangkat, jabatan, kekayaan, dsb.) dan digantikan oleh gradasi substansial yang bernama TAKWA. “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (49:13)

 

2). Di sini Allah memperkenalkan kepada kita kosa kata baru, yang belum pernah kita temukan di ayat-ayat sebelumnya. Yaitu kata الْبَيْتَ (al-bayt). Secara harafiah artinya “rumah”.  Tetapi lucunya, yang dimaksud الْبَيْتَ (al-bayt) di sini bukanlah rumah persis seperti yang ada di dalam pikiran kita masing-masing. Rumah yang kita fahami selama ini adalah sebuah tempat yang terdiri dari beberapa bagian atau kamar yang mempunyai fungsi pentingnya masing-masing untuk mendukung keberlangsungan hidup keluarga yang ada di dalamnya. Sedangkan yang dimaksud الْبَيْتَ (al-bayt) di sini—kalau kita fahami dari sisi fisiknya saja—hanyalah sebuah kotak sederhana yang berbentuk segiempat tak terbagi yang tidak punya fasilitas apa-apa yang bisa mendukung kehidupan sebuah keluarga. Yakinlah rumah-rumah kita jauh lebih baik dan lebih arsitektural ketimbang الْبَيْتَ (al-bayt) ini. Sehingga bisa dipastikan bahwa kata الْبَيْتَ (al-bayt) di sini tidaklah cukup dimaknai secara fisik saja. Ada makna yang jauh lebih dalam yang Allah kehendaki untuk kita ungkap di situ…..

Allah sendiri menyebut الْبَيْتَ (al-bayt) di ayat ini sebagai rumah pertama yang dibangun untuk manusia. “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” (3:96). Dan karenanya Allah menggelarinya sebagai الْبَيْت الْعَتِيق  (al-bayt al-‘atĭyq) yang bisa diartikan sebagai “Rumah Antik” atau “Rumah Tua” (22:29 dan 33). Sementara الْبَيْتَ (al-bayt) yang ada di sisi Allah, digelarinya dengan الْبَيْت الْمَعْمُور (al-bayt al-ma’mŭwr) yang bisa kita artikan sebagai “Rumah Kemakmuran” (52:4). Dengan demikian seakan Allah ingin memesankan bahwa penghuni الْبَيْتَ (al-bayt) pertama di ‘langit’ adalah Diri-Nya sendiri yang ‘menempati’ الْبَيْت الْمَعْمُور (al-bayt al-ma’mŭwr), sementara penghuni الْبَيْتَ (al-bayt) pertama di ‘bumi’ adalah Nabi Adam yang menempati الْبَيْت الْعَتِيق  (al-bayt al-‘atĭyq). Ketika Rumah Tua itu sudah lama ditinggal dan terlantar, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim, Nabi Kesayangan-Nya, untuk menghidupkan kembali الْبَيْت الْعَتِيق  (al-bayt al-‘atĭyq) itu. Menariknya, saat menyapa keluarga Nabi Ibrahim, Allah—melalui lisan malaikat—mengatakan begini: “…. Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul Bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (11:73) Hal yang sama terjadi berkenaan dengan keluarga Nabi Musa: “… Maukah kalian aku tunjukkan kepadamu Ahlul Bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” (28:12) Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa Allah sendiri adalah Ahlul Bait pertama di ‘langit’, keluarga Nabi Adam adalah Ahlul Bait pertama di ‘bumi’, keluarga Nabi Ibrahim adalah Ahlul Bait  pertama yang menghidupkan kembali tradisi tauhid di الْبَيْت الْعَتِيق  (al-bayt al-‘atĭyq) setelah ditinggal begitu lama, keluarga Nabi Musa adalah Ahlul Bait pertama yang meruntuhkan hegemoni (Kerajaan Mesir dan Firaunnya) dan membangun dasar-dasar pemerintahan ilahi yang lebih kompleks. Kemudian keluarga Nabi Muhammad adalah Ahlul Bait yang menjadi samudra tempat bermuaranya semua Ahlul Bait itu, sehingga tepat untuk berperan sebagai penutup dan penyempurna atas semuanya. “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (33:33)

 

3). Begitulah dalam dan pentingnya makna الْبَيْتَ (al-bayt) ini sehingga Allah mendeklarasikannya begini: وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْناً [wa idz ja’alnāl-bayta matsābatan linnāsi wa amnā, dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman]. Kata مَثَابَةً (matsābatan) yang diterjemahan tadi diartikan dengan “tempat berkumpul”, sebetulnya mempunyai arti yang luas. Kamus al-Mawrid mengartikannya dengan “like, as similar to; tantamount to, equivalent to”, sehingga sepertinya tidak bisa diartiakn sebagai sekedar “tempat berkumpul” biasa. Tetapi “tempat berkumpul” yang meleburkan semua identitas, simbolitas, sosialitas, dan nasionalitas, yang menyebabkan runtuhnya semua bentuk klaim primordial, dan yang ada hanya satu: ألنَّاس (an-nās, manusia). Inilah melting pot yang sesungguhnya. Sehingga nilai satu orang sama dengan semua. Menyakiti satu orang sama dengan menyakiti semuanya. Membunuh satu orang sama dengan membunuh semuanya. Menyelamatkan satu orang sama dengan menyelamatkan semuanya (5:32). Inilah kemanusiaan yang sesungguhnya, yang pros biologis dan teologisnya ada pada Nabi Ibrahim, yang poros sosiologis dan ideologisnya ada pada الْبَيْت (al-bayt) yang suci itu. Itu sebabnya الْبَيْتَ (al-bayt) ini disebut juga Masjidil Haram karena semua orang harus bersujud, merendah di hadapan-Nya dan saling memuliakan satu sama lain. Kondisi itulah yang disebut أَمْناً (amnā, tempat yang aman), yang memberi jaminan keamanan kepada semuanya, kepada manusia dan kemanusiaan, tanpa melihat latar belakang sosial dan kebangsaannya. Maka pihak yang hanya bersikap pasif, apalagi mendukung, terhadap pembunuhan dan pengusiran orang-orang tidak berdosa dari kampung-kampung halamannya, pada dasarnya telah kehilangan kemanusiannya, walaupun yang bersangkutan  mondar-mandir bahkan tinggal di sekitar atau menjadi pelayan Masjidil Haram. Karena Nabi Ibrahim adalah Sayyidut Tauhid dan الْبَيْت (al-bayt) adalah simbol tauhid, maka orang-orang seperti itu pada dasarnya sudah terjerembab ke dalam perbuatan syiriq; yaitu menduakan Tuhan dengan hawa nafsunya, dengan kepentingan material dan temporalnya. “Tidaklah mungkin orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka menyadari bahwa mereka sendiri ingkar (terhadap kepentingan agama Allah). Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.” (9:17) “…. dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasai (Masjidil Haram). Orang-orang yang berhak menguasai(nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Salat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan (belaka). (Kepada mereka dikatakan) maka rasakanlah (kelak) azab disebabkan kekafiranmu itu.” (8:34-35)

 

4). Demi tercapainya fungsi sosiologis dan ideologis dari الْبَيْت (al-bayt) itulah sehingga Allah mengamanatkan: وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى (wattakhidzŭw min maqāmi ibrāɦima mushallā, dan jadikanlah maqam Ibrahim tempat shalat). Secara harafiah maqām ibrāɦim artinya “tempat berdirinya Nabi Ibrahim”. Beragam pendapat ulama mengenai masalah ini. Al-Baghawi dalam tafsirnya—yang terbilang serba singkat itu—memberi porsi yang sangat banyak saat membincang soal ini. Yang paling masyhur kita dengar ialah suatu tempat di sekitar Ka’bah atau الْبَيْت (al-bayt) yang ada jejak (yang dipercaya sebagai) tapak kaki Nabi Ibrahim yang padanya atau di dekatnya diperintahkan untuk melakukan salat sunnat dua rakaat seusai tawaf. Kita tidak bermaksud menyanggah pendapat-pendapat itu. Kita hanya ingin menyampaikan perpektif yang lain agar pendapat-pendapat tersebut semakin kaya. Jika kita perhatikan ayat 124 berkenaan dengan jabatan Imamah Nabi Ibrahim dan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya, maka pengertian maknawi yang paling mungkin dikandung oleh kata maqām ialah posisi, level, tingkatan, state; dalam hal ini ialah posisi teologis Nabi Ibrahim sebagai Insan Kamil (Manusia Sempurna), Imam dan Sayyidut Tauhid. Melalui penggalan ayat ini, Allah memerintahkan kita untuk menjadikan posisi atau maqām ibrāɦim itu sebagai tempat shalat, dalam pengertian stepping stone (titik anjak) dari niat shalat kita.  Bahwa kita shalat itu ialah dalam rangka untuk ‘menjadi’ Ibrahim, sosok yang berhasil menyerahkan seluruh totalitas hidupnya kepada Tuhannya, yang mengangkatnya menjadi Insan kamil, menjadi Imam bagi seluruh manusia, seperti tergambar dalam ayat yang berisi pengakuan tulus kita saat membaca doa iftitah salat: “….Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (6:162-163) Pengakuan tulus dan penyerahan diri kita di awal shalat ini merupakan “pernyataan sikap” atau “baiat” untuk menjadi ma’mŭm (pengikuti seorang Imam) dari ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim. Maka dari itu, sebaik-baik shalat fardhu ialah shalat fardhu yang dilaksanakan secara berjamaah dipimpin oleh seorang Imam. Seorang jamaah yang berada di dalam shaf (barisan) seperti ini tidak akan mungkin mau mendengarkan aba-aba, perintah, atau provokasi dari ‘imam’ yang lain selain dari Imam-nya karena akan membatalkan shalat jamaahnya. Coba simak kembali ayat ini: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku” (2:43).

 

5). Subtema terakhir ialah tentang ‘aɦd/janji Nabi Ibrahim dan Ismail berkenaan dengan fungsi spiritual الْبَيْت (al-bayt). Firman-Nya: وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ (wa ‘aɦidnā ilā ibrāɦima wa ismā’ila an thaɦɦirā baytiya liththāifĭyna wal-‘ākifĭyna war-rukka’is-sujŭwd, dan Kami telah membuat janji kepada Ibrahim dan Ismail (yaitu): “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang I’tikaaf, yang ruku’ dan sujud”). Di sini Allah memunculkan kembali kata عَهْد (‘aɦd, janji) dalam bentuk kata kerjanya. Artinya ‘aɦd/janji Allah kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berkenaan dengan kesucian Baitullah adalah bagian integral dengan ‘aɦd/janji di ayat 124 untuk mengangkat Nabi Ibrahim dan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya yang suci sebagai Imam. Yakni bahwa Imamah dari ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berhulu dan sekaligus berhilir di Baitullah. Kalau hulunya adalah Nabi Ibrahim dan Ahlul Bait-nya, maka hilirnya adalah Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Sosok dari alur biologis dan teologis merekalah yang menerima ‘aɦd/janji dari Allah untuk mensucikan بَيْتِي (baytĭy, rumah-Ku)—kata Allah seraya meng-Aku-i الْبَيْت (al-bayt) secara eksklusif sebagai Rumah-Nya. Selain mereka, fungsi spiritual الْبَيْت (al-bayt)—sebagai tempat tawaf, i’tikaf, dan shalat (ruku’-sujud)—akan tercemari, misalnya dengan berubahnya fungsinya menjadi pusat komersial. Kalau ini benar-benar terjadi maka الْبَيْت (al-bayt) yang suci itu hanya akan menjadi noktah hitam di tengah-tengah kepungan tempat-tempat perbelanjaan mewah. Sehingga tawaf di tempat-tempat perbelajaan akan jauh lebih ramai dan lebih menggairahkan ketimbang tawaf di sekeliling الْبَيْت (al-bayt). Dan oarang-orang Islam yang kembali dari sana bukannya semakin spiritualistik gaya hidupnya, melainkan semakin materialistik. Cerita yang akan mereka bawa pulang ke kampaung-kampung halamannya bukan lagi cerita-cerita kenabian, tetapi cerita-cerita keduniaan. “… Sesungguhnya raja-raja apabila menguasai suatu negeri, niscaya mereka akan merusakkannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.” (27:34)

   

6). Coba renungkan pembahasan ayat ini kaitannya dengan ayat sebelumnya. Kalau perlu baca ulang ayat 124 tersebut. Andai kita boleh menyimpulkannya, maka kesimpulannya akan seperti ini: Ayat 124 mengandung gagasan biologis dan teologis tentang Imamah, sementara ayat 125 ini mengandung gagasan tentang Ahlul Bait, yang keduanya (Imamah dan Ahlul Bait) berpusat di Baitullah. Artinya, yang bisa memakmurkan Baitullah sebagai مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْناً (matsābatan linnāsi wa amnā, tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman) dalam maknanya yang sejati hanyalah sistem Imamah dari Ahlul Bait. Dan itulah yang dimaksud “maqām ibrāɦim”. Kenapa? Karena الْبَيْت (al-bayt) atau Baitullah bukan sembarang rumah. Rumah itu diklaim sebagai Rumah-Nya. Simaklah baik-baik kandungan doa Nabi Ibrahim di ayat berikutnya (ayat 126).

 

 

AMALAN PRAKTIS

Hampir semua orang percaya bahwa rumpun manusia semuanya satu dan karenanya bersaudara. Tetapi faktanya sejauh ini gagasan untuk menjadikan bumi ini sebagai our planet (planet kita bersama) untuk kita huni dengan senasib sepenanggungan sepertinya masih sebatas cita. Mesin persenjataan masih lebih dominan ketimbang mesin persaudaraan. Allah mewartakan bahwa cita itu hanya akan terwujud bila Baitullah sudah kembali kepada pewaris yang sesungguhnya.

Related Posts

Tinggalkan Balasan