Al-Baqarah ayat 119

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 119by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 119SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 119   إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيراً وَنَذِيراً وَلاَ تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ [Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggung-jawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.] [Surely We have sent you with the truth as a bearer of good news and […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 119

 

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيراً وَنَذِيراً وَلاَ تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ

[Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggung-jawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.]

[Surely We have sent you with the truth as a bearer of good news and as a warner, and you shall not be called upon to answer for the companions of the flaming fire.]

 

1). Kalau ayat sebelumnya (118) menjelaskan gugatan para penentang Nabi beserta kondisi psikologis mereka di sepanjang masa, maka ayat ini merupakan jawaban Allah terhadap gugatan tersebut. Penggunaan kata إِنَّا (innā)—yang merupakan gabungan kata إِنَّ (inna, sesungguhnya) dan نَّحْنُ (nahnu, kami)—di depan kata أَرْسَلْنَاكَ (arsalnāka, kami mengutusmu) menegaskan bahwa kenabian bukanlah pengakuan subjektif dari Nabi Muhammad saw sendiri atau siapapun nabinya, melainkan penugasan langsung dari Allah swt. Dan penggunaan kata أَرْسَلْنَاكَ (arsalnāka, kami mengutusmu)—yang berasal dari kata أَرْسَل (arsala, mengutus)—inilah yang menyebabkan Nabi Muhammad sekaligus Rasulullah (Rasul Allah, Utusan Allah) yang bertugas membawa risalah dari Allah untuk manusia. Ini juga yang menunjukkan bahwa risalah dan pembawa risalah adalah satu paket yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Risalah yang dibawa Nabi disebut risalah ilahi karena sumbernya memang dari Allah. Memisahkan keduanya (risalah dan pembawa risalah), entah menegasikan pembawa risalah-nya atau mengadakan senjang di antara keduanya atau mengisolasi yang satu terhadap yang lain, maka sama dengan menyerahkan penafsiran dan pelakasnakan risalah kepada orang atau pihak yang tidak tepat; dan alih-alih menegakkan, mereka bahkan meruntuhkannya, mencerai-beraikan penganutnya menjadi berfirqah-firqah, bermazhab-mazhab, berkelompok-kelompok, dan pada gilirannya mengubah risalah ilahi menjadi risalah duniawi, mengubah pemerintahan ilahi menjadi pemerintahan monarki atau tirani. Bagaimana mungkin risalah ilahi ditegakkaan oleh khalifah duniawi. Ini yang disebut tidak link and match. Tidak singkron. Dan inilah yang membuat agama (Islam) menjadi bahan permainan belaka di tangan orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan penguasa-penguasa arogan. Inilah yang membuat kekayaan negeri-negeri kaum Muslim dirampok tiap saat di depan mata mereka, seraya meninggalkan mereka hidup terlantar, miskin, papa dan terhinakan. Bahkan ini jugalah yang menyebabkan mereka dibunuh setiap hari di berbagai belahan dunia dengan dalaih “memerangi terorisme” tanpa ada satupun yang menolongnya. Satu-satunya pihak yang menjadi kaya-raya di sana ialah para penguasa dan kaum loyalisnya. Maka dari itu, siapa saja yang menyebabkan, baik secara faktual ataupun secara konseptual, pindahnya estafeta risalah ilahi ke tangan penguasa duniawi, kelak harus bertanggungjawab di hadapan Allah swt. Padahal inilah tugas risalah itu: “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama (aturan hidup) yang benar untuk dimenangkan atas semua agama (aturan hidup), walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai” (9:33 dan 61:9).

 

2). Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara membuktikan bahwa yang bersangkutan benar-benar utusan Allah? Jawabannya, totalitas AJARAN yang dibawanya adalah KEBENARAN: بِالْحَقِّ (bil-haq, dengan kebenaran). “Katakanlah: ‘Apakah di antara sekutu-sekutu kalian ada yang (bisa) menunjuki (jalan) kepada kebenaran?’ Katakanlah: ‘Allah-lah yang (bisa) menunjuki (jalan) kepada kebenaran’. Maka apakah yang menunjuki (jalan) kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) ia diberi petunjuk? Mengapa kalian (berbuat demikian)? Bagaimanakah kalian memutusan (soal ini)?” (10:35).

Dan kebenaran selalu sejalan dengan akal sehat. Maka bacalah totalitas al-Qur’an, seraya menggunakan akal sehatnya, kalau mau membuktikan kebenaran Islam, kebenaran ajaran yang dibawah oleh Nabi Muhammad saw. Yang namanya totalitas ialah bahwa tiap-tiap ayatnya tidak boleh dilepaskan pengertiannnya dengan ayat-ayat yang lain, baik ayat-ayat sebelum dan sesudahnya maupun ayat-ayat di tempat lain di surah yang sama atau di surah yang lain. Itu pengertian pertama. Pengertian kedua dari kebenaran risalah Nabi ialah bahwa ajarannya sejalan dengan kebutuhan asasi manusia, dimanapun dan kapapun. Semua kecenderungan bawaan yang ada pada jiwa manusia ada juga di dalamnya. (Catata: defenisi paling generik dari “kebenaran” ialah, segala sesuatu yang sejalan dengan fithrah manusia). Islam adalah “jalan” yang membimbing dan memfasilitasi manusia untuk menggapai puncak kecenderungan-kecenderungan alamiahnya. Karena hanya di puncak kecenderungan itulah letaknya “kesempurnaan”. Setiap jalan selain dari “jalan” Islam akan menyimpangkan manusia dari safari hidupnya menuju ke puncak kesempuraannya, sadar atau tidak sadar. “Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kalian bertakwa” (6:153).

 

3). Rasulullah mengemban tugas risalah-nya tersebut dengan penuh kesabaran dan dedikasi yang tinggi melalui dua sayap kenabiannya: بَشِيراً وَنَذِيراً (basyĭyran wa nadzĭyran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan). Menurut al-Baghawiy, بَشِيراً  (basyĭyran) bermakna “memberi kabar gembira kepada para kekasih Allah dan ahli ketaatan dengan imbalan yang mulia”. Sedangkan نَذِيراً (nadzĭyran) bermakna “memberi peringatan kepada musuh-musuh Allah dan ahli maksiat dengan azab yang pedih.” Seperti pernah kita bahas di ayat 108 (poin 3) bahwa matriks pilihan yang Allah tawarkan kepada manusia cuma ada dua kolom (baik dan buruk, hak dan batil, adil dan zalim, dst.). Tugas Nabi sebagai بَشِيراً  (basyĭyran) bekerja di kolom sebelah kanan (kolom positif), dengan mengabari manusia bahwa kalau mereka melewati hari-harinya sambil mengisi kolom sebelah kanannya (kolom positifnya) secara sungguh-sungguh, maka mereka akan menjadi Golongan Kanan dan safari hidupnya kelak akan berakhir di Surga dan di dalam keredhaan Allah. Sementara tugasnya sebagai نَذِيراً (nadzĭyran) bekerja di kolom sebelah kiri (kolom negatif) dengan mengingatkan manusia bahwa kalau mereka menghabiskan usianya sambil memenuhi kolom sebelah kirinya (kolom negatifnya) tanpa bertobat, maka akan menjadi Golongan Kiri dan pertualangan hidupnya kelak akan berakhir di Neraka dan di dalam kemurkaan Allah. Dua sayap kenabian Rasulullah ini pulalah yang sekaligus menjawab dua klaim Bani Israil dan Ahli Kitab di Madinah. Pertama, “dan mereka (kaum Yahudi) berkata: ‘Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.’ (2:80). Allah menjawabnya: “(Bukan demikian), yang benar (ialah), siapa saja melakukan keburukan dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, (dan) mereka kekal di dalamnya.” (2:81) Inilah fungsi نَذِيراً (nadzĭyran)-nya Nabi. Kedua, “Dan mereka (Yahudi dan Nashrani) berkata: ‘Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nashrani’.” (2:111). Allah menjawabnya: “(Tidak demikian) bahkan (yang benar ialah) siapa saja yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, dan  ia berbuat baik, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (2:112). Inilah peran nabi sebagai بَشِيراً  (basyĭyran). Kedua kelompok ayat tersebut menjelaskan bagaimana mengisi dua kolom matriks pilihan. “Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.” (33:45-47)

 

4). Setelah Nabi mengepakkan sayap kenabiaannya di sepanjang usia penugasannya, maka Nabi kemudian berlepas diri dari para pendosa. Artinya, perbuatan mereka, serta konsekuensi perbuatannya nanti di akhirat, menjadi tanggung jawab mereka masing-masing. وَلاَ تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ [wa lā tus’alu ‘an ash’hābil jahĭym, dan kamu (Muhammad) tidak akan diminta (pertanggung-jawaban) tentang penghuni-penghuni neraka]. Lalu bagaimana dengan masyarakat atau generasi yang tidak berjumpa dan tidak sezaman dengan Nabi? Bukankah yang dijumpai oleh Nabi hanya bagian sangat-sangat kecil dari total wangsa manusia yanag menjadi umatnya? Perlu diperhatikan bahwa yang disebut umat Nabi Muhammad ialah manusia yang sezaman dengannya (terhitung sejak di-bi’tsah atau ‘dilantik’ jadi nabi) hingga manusia terakhir (sebelum kiamat). Mereka ini nantinya kelak akan mengajukan gugatan tentang tidak sampainya risalah kepada mereka. Lalu bagaimana Nabi bisa berlepas tangan terhadap mereka begitu saja? Di sinilah urgensi ketakbolehberpisahan risalah dan pelaksana risalah. Kalau kita merasa cukup dengan menunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah, pertanyaannya, bukankah justru mereka-mereka yang mengaku telah berpegang teguh kepada keduanya yang kini saling berseteru sama salain, saling membid’ahkan, saling menyesatkan, saling menegasikan dalam peran-peran sosial dan politiknya, bahkan saling meminggirkan di masjid-masjid? Satu berdemo anti-Israil, yang satunya menfatwakan demo seperti itu haram. Yang satu menjadi loyalis para tiran dan diktator, yang satu berhasrat menumbangkannya demi tegaknya keadilan. Yang satu menganggap ikut demokrasi adalah bagian dari jihad (perjuangan), yang satu menganggap itu bid’ah dan warisan orang kafir. Yang satu menganggap organisasi penting dalam dakwah, yang lain menganggap tidak ada hizb (organisasi) dalam Islam. Bukankah apabila kita saling membid’ahkan berarti sudah sama dengan saling menyesatkan, dan berarti sama juga dengan saling mengirim masuk ke neraka? Apakah masih pantas itu disebut masalah khilafiyah (perselisihan kcil)? Waktu kita habis di situ sehingga setelah 1400 tahun, risalah tak kunjung sampai juga ke seluruh umat manusia. Dan, lagi, bagaimana mereka (umat manusia) mau bersimpati kepada kebenaran (Islam) kalau kita (kaum Muslim) sendiri hanya menjadi komunitas pecundang di dalam negaranya masing-masing. Begitu juga negara-negara kita hanya menjadi pecundang di antara bangsa-bangsa besar di dunia? Kalau Nabi kelak dimintai pertanggungjawaban oleh Allah, Nabi pasti akan berbalik ke kita untuk meminta petanggungjawaban kita. “Dan demikianlah, Kami menjadikan kalian (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (2:143). Yang dibutuhkan di sini sebetulnya cuma satu: KEJUJURAN. “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (5:8)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Di dalam suasana demokrasi kapitalistik kini, sangat sulit rasanya menemukan pemimpin yang muncul ke permukaan tanpa pamrih. Karena untuk “muncul” sendiri butuh dana yang besar. Tetapi Rasulullah datang kepada kita benar-benar tanpa pamrih. Bahkan seluruh miliknya, hidup pribadi dan keluarganya habis untuk mengemban risalahnya, untuk keselamatan hidup kita dunia dan akhirat. Lalu apa yang telah kita berikan kepada Rasulullah???

Related Posts

4 Responses

  1. Rampok2013-08-02 at 8:31 pmReply

    salam

    ane mau tanya hubungan antar mazhab dalam pandangan pa ustat

    trims

  2. Lindsay2013-08-02 at 8:40 pmReply

    I read surah al baqarah…and I know that it is the second plus longest surah in the quran however, there is soo much to know in the surah that I got confused:/

    I know that Prophet Musa (pbuh) told the Jews that they have to sacrifice a cow because that was wat Allah (swt) commanded from them..however, they kept asking prophet questions how they cow has to look like…

    so they didn’t sacrifice a cow because they worshipped a cow in the absence of prophet musa when he went away..

    My question there was a murder of a man in the surah and it had to do with a flesh of a cow…but i’m not exactly sure what happened?

    Also, if you can just give in overall explanation of the surah that would be great!!

    For those who answer,
    may Allah bless you and your family

  3. bagus amran2013-08-07 at 7:39 pmReply

    menurutku alquran ini sangat complicated alias RIBET !!
    sebab kitab suci original itu tidak perlu membutuhkan ahli tafsir krn kitab suci itu mudah dipelajari semua orang dan tidak dipersulit oleh penciptanya.

    so, knp alquran harus dipersulit dan tidak semua umatnya bisa berhak mempelajarinya?

    ANEH !!

    • Bugroho B.2013-08-07 at 8:01 pmReply

      Itu sebabnya alqur’an dinamakan kitab suci,gak bisa dipahami oleh orang2 kafir seperti anda!

Tinggalkan Balasan