Al-Baqarah ayat 115

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 115by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 115SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 115   وَلِلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ إِنَّ اللّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ [Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.] [And Allah’s is the East and the West, therefore, whither you turn, thither is […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 115

 

وَلِلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ إِنَّ اللّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

[Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.]

[And Allah’s is the East and the West, therefore, whither you turn, thither is Allah’s purpose; surely Allah is Amplegiving, Knowing.]

 

1). Kalau dikaitkan dengan ayat sebelum dan sesudahnya, atau lahir dan batinnya ayat, atau asbabunnuzul (sebab-sebab turunnya) ayat, kita akan menemukan bahwasanya ayat ini berhubungan dengan empat sisi sekaligus. Pertama, berkenaan dengan larangan tokoh-tokoh kafir Quraisy terhadap kaum Muslim bersama Nabi untuk memasuki Masjidil Haram. Kedua, berkenaan dengan alegori Islam sebagai masjid—seperti telah kita bahas cukup panjang pada ayat sebelumnya. Ketiga, berkenaan dengan prinsip-prinsip tauhid dan kesatuan wujud. Keempat, berkenaan dengan hakikat salat. Keempat sisi tersebut harus membentuk satu struktur pandangan dunia (world view) yang utuh yang mencakup wilayah psikologis, kosmologis, dan ideologis sekaligus. “Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Tuhan masyriq (timur) dan maghrib (barat), tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (73:8-9)

 

2). Pertama, berkenaan dengan larangan tokoh-tokoh kafir Quraisy terhadap kaum Muslim bersama Nabi untuk memasuki Masjidil Haram. Demi mendengar berita kedatangan Nabi bersama 1400 orang lainnya untuk melaksanakan Umrah, pihak Quraisy mengirim Khalid bin Walid dan Ikrimah bin Abu Jahal bersama 200-an pasukan berkuda untuk menghentikan langkah Nabi. Dalam pandangan politik mereka, apabila rombongan Nabi yang sebesar itu lolos masuk ke Mekah, niscaya akan menjadi ancaman bagi eksistensi politik mereka. Konstituennya bisa terpengaruh dan mengalihkan simpatinya kepada Muhammad. Maka mereka memprovokasi Nabi untuk berperang agar mereka punya alasan untuk memobilisasi penduduk Mekah guna keluar melawan Nabi, dan sekaligus mencitrakan bahwa Nabi dan kaum Muslim itu memang tukang perang dan tukang bikin onar. Inilah diantara yang dimaksud Allah di ayat sebelumnya (114): “Dan siapakah yang lebih zalim ketimbang orang yang menghalangi (manusia) dari mesjid-mesjid Allah untuk disebut nama-Nya di situ, dan berusaha untuk merobohkannya….?”. Nabi pasti faham betul siasat busuk seperti ini. Nabi dan rombongannya kemudian berkemah di Hudaibiyah. Setelah silih berganti saling mengirim juru runding dan bernegosiasi dengan alot, akhirnya ditandatanganilah Perjanjian Hudaibiyah yang sangat terkenal itu. Isi perjanjian itu benar-benar mengguncang pihak-pihak yang imannya lemah, yang emosinya mengalahkan rasionya, yang buta politik, yang Islamnya simbolis dan tidak ideologis. Betapa tidak, diantara isinya ialah Nabi dan rombongannya harus membatalkan umrahnya dan kembali ke Madinah. Padahal umrah adalah salah satu ibadah ritual penting. Dan lagi mereka telah menempuh perjalanan sejauh 600-an kilometer, sementara tempat umrah tinggal selangkah saja. Kenapa Nabi menerima isi perjanjian yang kelihatan ‘konyol’ itu? Satu, strategi politik yang benar ialah yang perhitungan jangka panjangnya mengalahkan perhitungan jangka pendeknya. Dua, metoda aulawiyāt (skala prioritas) mengatakan, yang ushul harus mengalahkan yang furu’, yang prinsipil harus mengalahkan yang simbolik: “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

 

3). Kedua, berkenaan dengan alegori Islam sebagai masjid—seperti telah kita bahas cukup panjang pada ayat sebelumnya. Masjid sebagai sebuah bangunan memang penting, bahkan sangat penting, apalagi Masjidil Haram. Masjid adalah baytullah, ‘tempat-kediaman’ Allah, yang puncaknya adalah Masjidil Haram. Karena di masjid itulah Nama Allah selalu diingat, disebut, dipelajari. Tanpa tendensi. Tanpa obsesi. Tetapi masjid juga harus menjadi model pelaksanaan Islam sebagai الدِّينِ (ad-dĭyn, aturan hidup), Islam sebagai undang-undang kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan berkomunitas global. Bahwa salat menghadap ke Baytullah atau berhaji ke Masjidil Haram adalah wajib, itu betul. Tetapi lebih wajib lagi berjuang secara maksimal demi tegaknya Islam sebagai الدِّينِ (ad-dĭyn, aturan hidup), karena hanya dengan begitulah kezaliman bisa enyah dan keadilan bisa tegak untuk semua. “Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” (9:19) Dan karena begitu pulalah sehingga Allah menggelari umat Islam sebagai umat yang terbaik. “Kalian adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, (yang tugasnya) menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah….” (3:110) Islam datang bukan untuk mengurusi kiblat salat dan umrah-haji saja. Islam datang untuk mengurusi totalitas dan universalitas kehidupan manusia. “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (2:177)

 

4). Ketiga, berkenaan dengan prinsip-prinsip tauhid dan kesatuan wujud. Ketika kita percaya bahwa Allah itu Esa, Tunggal, baik dalam Wujud ataupun Zat-Nya, maka konsekuensi logisnya kita juga harus percaya bahwa segala sesuatu yang ada, yang terinderai ataupun yang tidak, adalah pasti bersumber dari-Nya. Karena mustahil ada sumber lain. Kalau ada sumber lain berarti proposisi kepercayaan kita tadi salah. Sehingga tidak ada alternatif lain. Sumber segala sesuatu itupun harus Esa dan Tunggal: وَلِلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ (wa lillaɦil-masyriqu wal-maghribu, dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat).  Pertanyaannya, kalau sumbernya hanya Dia, maka darimanakah gerangan bahan dasar dari semua warna-warni, aneka bentuk-rupa, dan berbagai macam benda (hidup dan mati) ini? Dari Zat-Nya? Mustahil. Karena yang kita saksikan ini sifatnya majemuk, kompleks, dan tersusun dari bagian-bagian, sementara Zat-Nya Tunggal—sederhana dan tidak tersusun. Jawaban yang mungkin, semua yang kita saksikan ini hanyalah fenomena belaka saja yang tidak punya wujud hakiki. Yang kita saksikan hanyalah kontinyuitas, gradasi, dan pluralitas perubahan berdasarkan ‘posisi’ ruang-waktunya masnig-masing. Hakikat dibalik kontinyuitas, gradasi, dan pluralitas perubahan itu ialah Wajah-Nya, yang justru tidak terkena hukum perubahan. فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ (fa-aynamā tuwallŭw fa-tsamma wajɦullaɦ, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah). Sehingga fenomena yang tertangkap oleh alat-alat indera kita menunjukkan adanya kesatuan wujud yang merupakan ‘jelmaan’ dari Wujud-Nya yang Tunggal. Fahaman inilah yang mengantarkan kita kepada Tauhid Rububiyah—bahwa alam semesta beserta pluralitas penampakannya ini diciptakan, dididik, dan dipelihara oleh Zat yang Tunggal. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang menggunakan aklnya.” (2:164)

 

5). Keempat, berkenaan dengan hakikat salat. Secara lahiriah salat menghadap ke Kakbah. Tetapi secara hakikiah Allah tidak bertempat tinggal, sehingga tidak bisa kita melokalisasi keberadaan-Nya di suatu tempat tertentu. Allah Mahameliputi segala-galanya, karena Dia Yang Awal, Dia Yang Akhir, Dia Yang Zhahir, Dia Yang Bathin. Tidak ada satu jenjang dan hirarki tanpa kehadiran-Nya. “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (58:7) Berdasarkan asbabunnuzul (sebab-sebab turunnya) ayat ini, ketika seseorang salat di kendaraannya—seperti di perahu misalnya—dan kendaraannya berputar haluan kesana-kemari maka tidak membatalkan salatnya. Atau keberatan orang-orang Bani Israil terhadap pemindahan kiblat salat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, sama sekali tidak beralasan, sebab pemindahan itu sama sekali tidak melanggar prinsip-prinsip ke-Esa-an Allah, prinsip-prinsip tuhid, prinsip-prinsip agama Ibrahimik yang monoteistik itu. Hakikat salat ialah “mengingat Allah”. “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (20:14) Itu sebabnya ayat 115 ini ditutup dengan klausa yang sangat penting: إِنَّ اللّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (innallaɦa wāsi’un ‘alĭym, sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui).

 

 

AMALAN PRAKTIS

Allah adalah Sumber segala-gala-Nya. Konsekuensi logisnya, apa saja yang kita saksikan pada hakikatnya berasal dari Diri-Nya. Semuanya ‘menjelma’ dari Diri-Nya yang Tunggal. “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui”. Sehingga kita tidak mungkin lari dari kepungan-Nya.

Related Posts

One Response

  1. MyWifeBebyChaesara2013-08-02 at 7:25 pmReply

    Hello muslim brothers and sisters,I need your help despirately as i cannot see my family break right infront of my eyes.A buzurgh told us that my own sister who is really greedy and wants control over my father and wants to kick my mother out as she is in great greed for her wealth,he told us that she has placed to ‘taweez’ somewhere in our house and if not removed then they could cause my parents to seperate and our family to break into pieces,he also tols us that she is getting black magic done on my elder sister’s children who live with us as my sister passed away and they are 2 brothers and sisters one is 7 and the other is eleven,god knows why she is capturing them,they are just kids! Please,i need your help as i really care for my family…i am unable to find the talisman and that buzurgh told us that it is hidden under great weight and the other one near something that keeps moving all day long,so brothers and sisters,can somebody tell me where are the possibilities of hidding it?
    thankyou,
    this is Fatima.

Leave a Reply