Al-Baqarah ayat 109

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 109by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 109SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 109   وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, karena […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 109

 

وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

[Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.]

[Many of the followers of the Book wish that they could turn you back into unbelievers after your faith, out of envy from themselves, (even) after the truth has become manifest to them; but pardon and forgive, so that Allah should bring about His command; surely Allah has power over all things.]

 

1). Untuk memahami dengan baik ayat 109 ini, coba perhatikan terlebih dahulu bagian awal ayat 105:

مَّا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلاَ الْمُشْرِكِينَ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْكُم مِّنْ خَيْرٍ مِّن رَّبِّكُمْ

Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya suatu kebaikan kepada kalian (kaum Mukmin) dari Tuhanmu….”  

Perhatikan kata di awal kedua ayat (105 dan 109) tersebut. Kata يَوَدُّ (yawaddu) sama artinya dengan وَدَّ (wadda), yaitu “menginginkan”. Bedanya hanya pada soal waktu; kata يَوَدُّ (yawaddu) dalam bentuk mudhāri’ (present, sekarang), sedang kata وَدَّ (wadda, menginginkan) dalam bentuk mādhi (past, lampau). Ayat 105 dimulai dengan negasi, dengan huruf مَّا () nafi. Sementara ayat 109 dimulai dengan kata sambung, huruf وَ (wawu) ‘athaf. Sehingga, ayat 105 menjelaskan apa yang Ahli Kitab dan orang Musyrik “tidak inginkan”, sedangkan ayat 109 menjelskan apa yang mereka “inginkan”. Jadi bisa difahami bahwa subyek bahasan di ayat 109 ini merupakan kelanjutan dari subyek bahasan di ayat 105. Yakni ketidakinginan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani)  akan “diturunkannya suatu kebaikan kepada kalian (kaum Mukmin) dari Tuhanmu.” Mereka sulit menerima kenyataan bahwa kenabian telah berpindah ke Bangsa Arab Bani Ismail. Kemudian keinginan mereka ialah “agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” Maksudnya, mereka berusaha untuk mendeligitimasi kenabian Muhammad dan ajaran agama yang dibawanya, seraya memperkenalkan bahwa agama yang punya legitimasi hanyalah agama mereka (Yahudi dan Nashrani). Inilah yang dimaksud “agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman”. Sekarang menjadi jelas bahwa serangan mereka terhadap konsep النَّسْــخ  (an-naskh)—ayat 106—dan ajuan mereka atas berbagai jenis pertanyaan dan permintaan kepada Nabi (ayat 108) adalah bagian dari upaya tersebut. “Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kalian, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.” (3:69)

 

2). Apabila kita mengartikan bahwa syaitan itu adalah suatu kekuatan yang berupaya untuk menggelincirkan manusia dari jalan yang lurus, maka di sini kita melihat bahwa syaitan itu bukanlah dari kalangan jin yang tak kelihatan itu saja. Ahli Kitab dan siapa saja yang berusaha “mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman” jelas telah menjadi syaitan. “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (6:112) Menipu manusia dari mana? Menipu manusia dari سَوَاء السَّبِيلِ (sawā’as-sabĭyl, jalan yang lurus). Perhatikan kata “menipu”; artinya bahwa orang yang keluar dai سَوَاء السَّبِيلِ (sawā’as-sabĭyl, jalan yang lurus) itu tidak merasa kalau mereka itu sedang tertipu. (Karena siapa yang tahu dirinya sedang ditipu, maka tentu tidak mungkin tertipu). Orang yang tertipu justru masih merasa berada di “jalan yang lurus” dan mendapat petunjuk. “Sebahagian Dia (Allah) beri petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka (yang tersesat itu) menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.” (7:30)

 

3). Di ayat ini, kita bertemu satu lagi penyakit jiwa: حَسَد (hasad, dengki). Berarti sejauh pembahasan kita di seputar Bani Israil dan penolakan mereka kepada Nabi Muhammad dan Kitab Suci yang dibawanya, kita sudah bertemu dua jenis penyakit jiwa. Yang pertama kita temukan di ayat 90; yaitu kata بَغْي (baghyun, iri hati).  Jadi semakin jelas kini bahwa penolakan manusia terhadap kebenaran bukan karena kebenaran itu kabur, samar, dan tidak jelas, melainkan kerena di dalam jiwa mereka ada penyakit بَغْي (baghyun, iri hati) dan حَسَد (hasad, dengki). Kebenaran itu jelas, terang-benderang seperti matahari di siang bolong. “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” Justru karena nyata dan terang-benderangnya kebenaran itulah yang membuat mata mereka silau sehingga membangkitkan penyakit jiwanya untuk mengembalikan para pengikut Nabi dan penganut al-Qur’an kepada kekafiran. Mereka tidak ingin orang lain memiliki kebenaran itu. Mereka ingin agar kebenaran itu milik ekslusif diri dan kelompoknya saja. Mereka lupa bahwa dengan memeliharan penyakit jiwa tersebut, mereka sebetulnya telah keluar dari kebenaran. Mereka lupa bahwa kebenaran tidak bisa diperjuangkan dengan cara ketidakbenaran. Mereka tertipu, bukan oleh orang lain, tapi oleh diri mereka sendiri. “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Kitab Suci? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya. Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia. Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.” (4:51-54)

 

4). Kendati demikian, dari pihak orang beriman, cara menyikapinya ialah dengan membiarkan mereka. Menghormati pilihan mereka. Karena kalau tidak, kita pun bisa terhukumi seperti mereka. Yaitu memperjuangkan kebenaran dengan cara tidak benar. Kita serahkan semuanya kepada Allah. Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui. Allah berkuasa atas segala sesuatu. Sampai Allah sendiri yang menetapkan tindakan yang sesuai bagi mereka. فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (fa’fŭw wa-shfahŭw hattā ya’tiyallaɦu bi amriɦi, innallaɦa ‘alā kulli syay’in qadĭyr, Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu). Kenapa? Karena perbuatan mereka itu belum masuk ke dalam ranah kejahatan publik yang disebut kemungkaran. Persoalan keimanan dan kekufuran adalah persoalan pilihan yang murni bersifat individual. Nabi Nuh sekalipun tidak sanggup memaksakan keimanan itu kepada orang-orang dekatnya, kepada anak dan istrinya. Apabaila perbuatan mereka itu sudah masuk ke dalam wilayah kejahatan publik, maka mereka itu sudah pantas mendapatkan hukuman yang setimpal. Dengan catatan, yang berhak melaksanakan pengadilan dan eksekusi hukum itu hanya institusi negara. Bukan oleh kelompok atau perseorangan tertentu. Allah tidak pernah memberikan mandat seperti itu kepada kelompok atau perseorangan. Allah hanya memberikan mandat seperti itu kepada institusi negara. Di sinilah urgennya negara berada di dalam wilayah Khalifah Ilahi. Karena kalau tidak, maka mandat suci seperti itu mereka bisa salahgunakan. “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka yang berpaling dari kebenaran itu) dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.” (15:85-86)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Hasad dan dengki adalah dua penyakit jiwa yang sering membuat kita tidak senang kepada orang atau kelompok lain. Jadi sebetulnya bukan karena kita benar dan orang lain itu salah. Tetapi karena kita hasad dan dengki kepada mereka. Lalu bagaimana caranya agar kita tetap “benar” dalam kebenaran kita dan mereka tetap “salah” dalam kesalahannya? Berargumentasilah dengan tenang dan penuh persahabatan…!!!

Related Posts

Leave a Reply