Al-Baqarah ayat 106

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 106by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 106SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 106   مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللّهَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 106

 

مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللّهَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

[Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?]

[Whatever communications We abrogate or cause to be forgotten, We bring one better than it or like it. Do you not know that Allah has power over all things?]

 

1). Kita sekarang berjumpa dengan satu istilah baru yang sangat populer di kalangan ahli Ulumul Qur’an (Ilmu-ilmu al-Qur’an). Yaitu:  النَّسْــخ  (an-naskh, abrogation, annulment, penggantian, pembatalan, atau pemindahan). Tindakan النَّسْــخ  (an-naskh) tentu hanya bisa terjadi manakala ada dua komponen yang berserikat dalam satu kejadian: an-nāsikh (the abrogator, yang membatalkan) dan al-mansŭkh (the abrogated, yang dibatalkan). Menurut Imam as-Suyuthi dalam al-Itqān fĭy ‘ulŭm al-Qur’ān, kata النَّسْــخ  (an-naskh) mengandung beberapa pengertian:

a. Menghilangkan (al-izālah). Sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah swt: “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu (Muhammad) seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, maka syaitan memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, (tetapi) Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan tersebut, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”. (22:52)

b. Menggantikan (at-tabdĭl). Sebagaimana diisyaratkan ayat ini: “Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja’. Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.” (16:101)

c. Memindahkan (at-tahwĭl). Seperti memindahkan hak waris dari satu orang kepada yang lain (tanāsukh al-mawārĭts)

d. Memindahkan dari satu tempat ke tempat lain (an-naql). Umpamanya, kita mengatakan “nasakhtul-kitāb” (aku telah memindahkan buku itu). Dalam pengertian, “aku telah mengutip apa yang ada di dalam buku tersebut, baik kata maupun tulisannya”.

Karena النَّسْــخ  (an-naskh) ini adalah masalah keagamaan, tentu tidak bisa diterapkan secara serampangan. Menurut Manna’ Khalil al-Qattan dalam Mabāhits fĭy ‘Ulum al-Qur’ān, setidaknya ada tiga syarat yang harus dipenuhi. Satu, hukum yang mansŭkh adalah hukum syara’. Dua, dalil hukum nāsikh adalah subyek syar’i yang datang belakangan daripada subyek hukum yang mansŭkh. Tiga, subyek yang mansŭkh, hukumnya tidak terikat atau dibatasi oleh waktu tertentu. Sebab kalau tidak, maka hukum tersebut akan berakhir dengan berakhirnya waktu tersebut. Dan yang demikian tidak dinamakan النَّسْــخ  (an-naskh).

 

2). Beberapa problem dalam soal النَّسْــخ  (an-naskh). Kritik yang paling banyak adalah dalam bidang teologi. Dengan menganggap bahwa konsep النَّسْــخ  (an-naskh) ini bertentangan dengan ke-Mahatahu-an Allah. Menurut pendapat ini, manakala Allah membatalkan atau mengganti suatu ayat atau suatu hukum berarti Allah sebelumnya tidak tahu kalau ayat atau hukum yang diganti tersebut suatu saat tidak cocok dengan kondisi dan keadaan di masanya. Pendapat ini jelas tidak punya landasan yang kuat. Karena menyamakan pengetahuan Allah dengan pengetahuan manusia. Pengetahuan manusia terkadang—terutama yang bersifat empirik—timbul nanti setelah mengalaminya sendiri. Sebelum mengalaminya, manusia benar-benar jaɦl (bodoh) terhadap suatu fakta dan kejadian obyektif. Inilah yang Allah maksud dengan: “Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan dan sukma, agar kalian bersyukur.” (16:78) Bahkan pengetahuan rasional pun begitu. Karena yang disebut “berfikir” ialah gerak fikiran dari hal-hal yang sudah ma’lŭm (yang sudah diketahui) menuju ke yang majɦŭl (yang belum diketahui) untuk merubahnya menjadi ma’lŭm baru. Artinya, ketika sesuatu masih majɦŭl maka manusia betul-betul tidak punya gambaran apapun tentangnya. Sehingga, bagi manusia, jaɦl (bodoh) itu adalah hijab yang melindunginya dari ‘ilm (pengetahuan). Namun, menyamakan keadaan ini dengan Allah, tentu suatu kesalahan fatal. Karena Allah sendiri tidak bisa disamakan dengan apapun, termasuk cara-Nya berpengetahuan.  (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kalian dari jenismu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kalian berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (42:11)

Lalu untuk apa Allah melakukan النَّسْــخ  (an-naskh) kalau memang pengetahuan-Nya tidak berubah-ubah (dari tidak tahu menjadi tahu)? Karena kehidupan ini, tak terkecuali kehidupan manusia, memang mempunyai dua macam unsurnya: yang berubah dan yang tidak berubah. Yang tidak berubah ialah keinginan manusia untuk mencari Yang Tunggal, Yang Maha Sempurna. Untuk yang ini, Allah menjawabnya dengan: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” (21:25) Sedangkan yang berubah ialah jalan hidup (syari’at, millah) yang manusia harus tempuh, menurut masa dan perkembangan sosialitas kolektifnya masing-masing. Tetapi perubahan ini selalu bersifat gradatif dan kontinus dari apa yang sudah ada sebelumnya. Sehingga yang datang belakangan tidak mungkin sepenuhnya baru. Juga yang datang kemudian tidak mungikin lebih buruk dari sebelumnya: “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.”.  Dalam kaitan inilah Allah berfirman: Dan Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan Kitab-Kitab sebelumnya dan penjaga terhadapnya. Maka putuskanlah perkara manusia menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembalimu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kalian perselisihkan itu.” (5:48)

 

3). Lalu apa yang dimaksud النَّسْــخ  (an-naskh) di ayat 106 ini? Pertama, pengertian khusus. Yakni dengan menyadari bahwa ayat ini adalah rangkaian dari ayat-ayat yang berbicara tentang Bani Israil sejak dari kebersamaannya dengan Nabi Musa hingga sikap resistensinya terhadap kenabian Muhammad saw dan Kitab Suci yang dibawahnya. Sehingga bisa dipastikan bahwa dalam konteks inilah Allah berbicara secara khusus soal النَّسْــخ  (an-naskh) di ayat ini. Yakni bahwa penolakan mereka (Bani Israil) kepada Nabi Muhammad dengan alasan me-nasakh ajaran sebelumnya, maka bukankah kedatangan Nabi Musa juga me-nasakh ajaran Nabi Ibrahim, begitu juga Nabi Ibrahim kepada Nabi Nuh? [dengan catatan, me-nasakh di sini adalah dalam pengertian “menghilangkan” (yang dipandang tidak perlu), “mengganti” (dengan yang lebih baik), dan “memindahkan” (ke risalah berikutnya yang dipandang masih perlu)].

Kedua, pengertian umum. Yakni bahwa terapan konsep النَّسْــخ  (an-naskh) ini berlaku secara umum, antara satu Kitab Suci dengan Kitab Suci sebelumnya, bahkan antara satu ayat atau hukum dengan ayat atau hukum yang lainnya di dalam Kitab Suci yang sama. Ini bisa difahami dengan menyadari bahwa gradasi bukan hanya terjadi dalam lintas umat, tapi juga dalam tiap individu. Misalnya hukum minuman keras (khamr); ada tiga ayat dan dengan tiga jenis hukum yang berkenaan dengannya: 4:43, 2:219; 5:90-91. Ayat 4:43 masih membiarkan umat untuk meminumnya, asal jangan salat ketika sedang mabuk. Di ayat 2:219, Allah sudah mempersuasi mereka untuk meninggalkannya, dengan alasan keburukannya lebih besar daripada manfaatnya. Terakhir, ayat 5:90-91 dengan tegas menyuruh menghentikan dan meninggalkannya, dengan menyebut itu sebagai perbuatan syaitan.

 

4). Apakah ayat atau hukum yang sudah di-mansŭkh secara otomatis juga sudah tidak berlaku lagi untuk selamanya? Kalau pertanyaan ini kita afirmasi, berarti ada ayat (atau beberapa ayat) yang sudah tidak berlaku lagi. Di sinilah muncul beberapa sarjana Muslim yang menolak konsep النَّسْــخ  (an-naskh). Bagaimana mungkin Kitab Suci yang dipersiapkan Allah untuk berlaku hingga Hari Kiamat—karena tidak adanya lagi nabi yang menyusul Nabi Muhammad—tiba-tiba terhenti keberlakuan beberapa ayatnya hanya beberapa saat setelah turun! Untuk keluar dari kesulitan ini, perlu kita lihat dua sisi dari al-Qur’an. Sisi pertama, adalah fakta bahwa konsep النَّسْــخ  (an-naskh) adalah diperkenalkan oleh al-Qur’an sendiri, dan bukan oleh Nabi secara personal atau oleh para ulama. Sisi kedua, adalah juga fakta bahwa al-Qur’an sendiri mengakui kalau di dalam dirinya (yaitu antara ayat-ayatnya) tidak ada kontradiksi (4:82). Sehingga seyogyanya konsep النَّسْــخ  (an-naskh) berlaku pada obyek hukum yang sama di waktu yang sama dan dengan keadaan yang sama. Dalam pengertian ini, ayat 4:43 selayaknya masih berlaku bagi orang atau sekelompok orang yang baru sekali mengenal Islam di suatu wilayah yang pemerintahannya belum mengadopsi hukum syari’at sebagai hukum negaranya.

 

5). Kata kunci untuk memahami konsep النَّسْــخ  (an-naskh) ini adalah buntut ayat: أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللّهَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (alam ta’lam annallāɦa ‘alā kulli syayin qadĭr, tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?). Kalau Allah tidak bisa melakukan perubahan atas ciptaan-Nya, berarti Dia tidak Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

 

 

AMALAN PRAKTIS

Bagi mereka yang baru belajar Islam, kata syari’at terkadang kurang berkenan di telinganya. Kalau Anda termasuk salah satu di antaranya, ketahuilah bahwa diantara hikmah adanya konsep النَّسْــخ  (an-naskh, penggantian hukum) ialah agar tiap individu berproses secara gradatif menurut tahapan perkembangan jiwanya masing-masing. Yang salah kalau Anda berhenti di suatu ‘stasiun’ tertentu.

Related Posts

Tinggalkan Balasan