Al-Baqarah ayat 102

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 102by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 102SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 102   وَاتَّبَعُواْ مَا تَتْلُواْ الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَـكِنَّ الشَّيْاطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 102

 

وَاتَّبَعُواْ مَا تَتْلُواْ الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَـكِنَّ الشَّيْاطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُواْ لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْاْ بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ

[Dan mereka (Bani Israil) mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dengan mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dapat menceraikan antara seseorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Dan sungguh mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah dengan sihir), maka tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka (dengan) menjual dirinya dengan (sihir) itu, andai mereka mengetahui.]

[And they followed what the Shaitans chanted of sorcery in the reign of Sulaiman, and Sulaiman was not an unbeliever, but the Shaitans disbelieved, they taught men sorcery and that was sent down to the two angels at Babel, Harut and Marut, yet these two taught no man until they had said, "Surely we are only a trial, therefore do not be a disbeliever." Even then men learned from these two, magic by which they might cause a separation between a man and his wife; and they cannot hurt with it any one except with Allah's permission, and they learned what harmed them and did not profit them, and certainly they know that he who bought it should have no share of good in the hereafter and evil was the price for which they sold their souls, had they but known this.]

 

1.  Sebelum kita bahas lebih lanjut ayat ini, mari kita bandingkan terlebih dahulu dua ayat berikut ini:

Dan setelah datang kepada mereka Kitab Suci (al-Qur’an) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (dengan perantaraan Nabi yang akan datang) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (2:89)

Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (Kitab Suci) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab Suci (tersebut) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung)-nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah).” (2:101)

Artinya, al-Qur’an dan Rasulullah Muhammad saw. adalah dua hal yang tak terpisahkan fungsinya; yaitu sama-sama—dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan—datang sebagai perwujudan nubuwat Kitab Suci mereka, yang ajarannya benar-benar bukan baru. Ajarannya “membenarkan apa yang ada pada mereka” sebagai pertanda yang jelas bahwa al-Qur’an dan Nabi Muhammad datang sebagai penyambung dan penyempurna dari ajaran-ajaran agama samawi sebelumnya. “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (4:163) Pertanyaannya, lalu kenapa mereka menolaknya? Jawabannya, karena iri hati dan dengki—seperti yang telah kita sebutkan berkali-kali. Hanya saja ayat ini menjelaskan penyebab timbulnya penyakit iri hati dan dengki tersebut. Yaitu ternyata karena “mereka (lebih senang) mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman”, ketimbang mengikuti apa yang diturunkan Jibril kepada para Nabi Allah. Jadi ayat 102 ini mempertegas dimana posisi sesungguhnya dari Bani Israil dan para penentang Nabi Muhammad saw sekaitan dengan perintah Allah kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam sebagai Khalifah Ilahi pertama: “Dan (ingatlah) tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kalian kepada Adam,’ maka mereka pun bersujud kecuali Iblis; ia enggan dan istikbar (arogan) dan ia (pun) menjadi kafir” (2:34). Perhatikanlah, para malaikat bersujud kepada Adam, Khalifah Ilahi, dan penghulu para malaikat itu ialah Jibril. Sementara Iblis adalah penghulu para syaitan yang tidak saja membangkang kepada Adam tapi kepada seluruh nabi dan rasul serta para pelanjut tugas risalah mereka.

 

2). Lalu apa hubungan antara Nabi Sulaiman dan syaitan-syaitan itu? Telah masyhur diketahui bahwa Nabi Sulaiman diberi mukjizat yang agak ‘eksentrik’ ketimbang nabi-nabi lainnya. Putra Nabi Dawud ini bisa berbicara dan memerintah burung-burung, angin, dan jin. “Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu; dan adalah Kami memelihara mereka itu.” (21:81:82) Lalu siapakah syaitan-syaitan itu? Ayat berikut ini menjawabnya: “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: ‘Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata’. Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).” (27:16-17) Ayat selanjutnya: “Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.” (34:12-13) Sehingga kesimpulannya: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kalian kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia (Iblis) adalah dari golongan jin, maka ia fasik terhadap perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai wali bagi orang-orang yang zalim.” (18:50) Dengan demikian jelas kini bahwa syaitan-syaitan yang digunakan Nabi Sulaiman adalah dari kalangan jin yang diinduki oleh Iblis. Persoalannya ialah, bukankah telah dikatakan di poin 1 bahwa Iblis sebagai penghulu para syaitan tidak saja membangkan kepada Adam tapi juga kepada seluruh nabi dan rasul serta para pelanjut tugas risalah mereka? Pembangkangan Iblis dan kawan-kawan syaitannya, namun gagal pemperdayai para Khalifah Ilahi, menunjukkan dua hal: satu, mukjizat tidak mampu ditaklukkan oleh siapapun, termasuk oleh Iblis dan kawan-kawannya sekalipun; dan dua, pembuktian ayat ini: “Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, maka pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan buruk mereka) di bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka’. Allah berfirman: ‘Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya (terhadap) hamba-hamba-Ku (niscaya) tidak ada kekuasaan bagimu atas mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat’.” (15:39-42)

 

3). Mereka mengaku mengikuti syaitan-syaitan itu dengan alasan bahwa Nabi Sulaiman pun melakukan hal yang sama. Dan karena mereka selalu mengklaim diri sebagai pelanjut risalah dan cita-cita ilahiah Nabi Sulaiman, maka, bagi mereka, tidak ada yang salah di sana. Itu sebabnya, melalui ayat ini, Allah langsung menjawab alasan dan klaim mereka: “padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir).”.  Dengan begitu, bisa dipastikan, ada yang salah dari pernyataan mereka itu. Nabi Sulaiman jelas tidak melakukan sihir. Semua yang dilakukan Nabi Sulaiman (mulai dari berbicara dengan burung, menaklukkan jin jahat atau syaitan, memerintah angin untuk menerbangkannya ke mana saja yang ia suka, dan sebagainya) adalah mukjizat bagi dirinya. Dan mukjizat bukanlah perbuatan Sang Nabi. Mukjizat adalah perbuatan Tuhan melalui Sang Nabi. Bahwa para tukang sihir belajar dari syaitan-syaitan dari kalangan jin, itu benar. Tapi tidak lantas beralasan untuk mengidentikkan mukjizat Nabi Sulaiman sebagai sihir hanya karena Nabi Allah itu kuasa mengendalikan syaitan-syaitan dari kalangan jin. Merekalah (Bani Israil) bersama syaitan-syaitan itu yang melakukan sihir. Pengalamatan sihir kepada Nabi Sulaiman adalah pertanda mereka tidak mengimaninya. “Bahkan (sebenarnya) sebahagian besar mereka tidak beriman.” (2:100) Bukankah tuduhan yang paling sering dilontarkan oleh para penentang Nabi ialah: “…Dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka: ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata’.” (34:43)

 

4). Kalau bukan dari Nabi Sulaiman, lalu dari mana gerangan sumber (atau guru) sihir Bani Israil itu? “…mereka (Bani Israil) mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (Kemudian) mereka mengajarkan sihir (tersebut) kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut”. Jelas: mereka mempelajarinya ‘dari’ syaitan-syaitan yang kemungkinan juga dipekerjakan oleh Nabi Sulaiman dan ‘dari’ dua malaikat yang Allah turunkan di negeri Babilonia, Harut dan Marut. Kalau kita berpatokan dari pernyataan Allah, “…Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan (semua) ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka jauhkanlah kami dari siksa neraka,” (3:191) maka sihir itu pada hakikatnya tidak ada. Sihir adalah kebatilan, sedangkan Allah tidak pernah menciptakan kebatilan. Sihir hanyalah penyalahgunaan dari kebaikan-kebaikan yang Allah anugrahkan kepada hamba-hamba-Nya. Dan diantara makhluk-Nya yang bisa melakukan penyalahgunaan itu hanyalah dari kalangan manusia dan jin. Malaikat tidak. Karena malaikat—dalam pengertiannya sebagai suatu jenis makhluk—kendati juga diberi kehendak bebas oleh Allah (ingat 2:30), tidak pernah mendurhakai perintah Tuhannya, bagaimanapun kasar dan sangarnya penampilan malaikat tersebut. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari (azab) api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak (pernah) mendurhakai Allah dari apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (66:6)

 

5). Siapakah Harut dan Marut itu? Banyak silang pendapat tentang kedua sosok ini. Kalau kita murni berpegang kepada ayat 102 ini saja, ditambah penjelasan-penjelasan dari ayat-ayat lain, sebetulnya tidak perlu muncul hiruk-pikuk perbedaan itu. Karena masalahnya sudah sangat jelas. Namanya jelas: Harut dan Marut. Jenis entitasnya jelas: Malaikat. Tempat kejadiannya jelas: Babilonia. Mengajarkan sihir? Tidak mungkin. Karena tadi (di poin 4) sudah dijelaskan bahwa sihir itu pada hakikatnya tidak ada. Mana mungkin malaikat yang suci mengajarkan sihir. Tidak ada indikasi dari ayat 102 ini bahwa malaikat Harut dan Marut mengajarkan sihir. “…sedang keduanya (Malaikat Harut dan Marut) tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir’….” Pernyataan harut dan Marut ini mengandung makna yang sangat mirip dengan pernyataan Khidhr saat diminta Musa mengajarinya ilmu: “Musa berkata kepada Khidhr: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia (Khidhr) menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?’.” (18:66-68) Dari ayat 68 dapat kita lihat bahwa suatu terapan ilmu (dalam bentuk perbuatan) hanya bisa diinterpretasi dengan benar apabila penginterpretasi memiliki pengetahuan yang komprehensif terhadap perbuatan dan pelaku perbuatannya. Jikalau tidak, maka sangat mungkin ilmu (yang benar) diubah menjadi sihir yang diniatkan untuk mencelakai orang lain. Bagaimanapun ganjilnya tindakan-tindakan Khidhr (membocori perahu, membunuh anak-anak, merenovasi rumah rusak), tetapi ternyata semua adalah atas perintah Allah sehingga pada hakikatnya sama saja kalau itu perbuatan Allah. Ujar Khidhr di akhir penjelasannya: “…’…dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya’.” (18:82) Dengan demikian yang sering tak tertangkap dari suatu perbuatan—yang memunculkan ketidaksabaran dan penyalahgunaan—adalah tujuan ilahi dari perbuatan tersebut. Dari sinilah pangkalnya yang membuat apa yang diajarkan Harut dan Marut, oleh Bani Israil, diubah jadi sihir. Itu sebabnya, dari awal, Harut dan Marut sudah mengingatkan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir’….”.  Sehingga bisa dipastikan bahwa مَا (mā, apa) maushulah (penyambung) di penggalan ayat berikut ini tidak secara otomatis bisa diiinterpretasikan sebagai “sihir”: Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dapat menceraikan antara seseorang (suami) dengan isterinya. Agaknya, kata مَا (mā, apa) di sini lebih tepat diartikan sebagai “ilmu yang diajarkan Harut dan Marut”, yang kemudian mereka ubah menjadi sihir “yang dapat menceraikan antara seseorang (suami) dengan isterinya”.

 

6). Apakah mungkin malaikat berwujud manusia dan berbicara langsung kepada manusia? Menurut akal, bisa. Cara penalarannya sederhana. Sebelum alam material ini tercipta ia hanyalah sebuah gagasan (yang potensial) di dalam ‘pikiran’ Tuhan, dan karenanya murni bersifat nonmaterial. Setelah itu, alam material ini ditiadakannya lagi (istilah agamanya: kiamat). Kemana? Kembali ke sifat nonmaterialnya. Dengan begitu, yang nonmateri bisa mengambil ‘tempat’ di alam materi, lalu kembali lagi ‘menjadi’ nonmateri. Malaikat pun bisa mengambil ‘wujud’ manusia biologis, lalu kembali lagi ‘menjadi’ malaikat. Menurut al-Qur’an juga bisa. Simak dua ayat berikut ini:

Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka ia (Jibril) menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.” (19:16-17)

Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim (dengan wujud manusia) dengan membawa kabar gembira; mereka mengucapkan: ‘Salaman’ (Selamat). Ibrahim menjawab: ‘Salamun’ (Selamatlah), maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.” (11:69)

 

7). Bisakah sihir mencelakai manusia? Bisa…., dengan catatan. Yaitu selama Allah mengizinkannya. “…Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah.” Izin Allah ada dua macam: yang konstan dan yang spontan. Yang konstan adalah hukum alam yang dikenal dengan sunnatullah. Sementara yang spontan adalah mukjizat. Karena tidak mungkin Allah memberikan mukjizat kepada tukang sihir, maka yang mungkin ialah melalui hukum alam. Lalu bagaimana sihir bisa terjadi melalui hukum alam? Ilmu psikologilah yang bisa menjawabnya. Yakni melalui apa yang disebut “sugesti”. Maka terkena tidaknya seseorang sihir sangat tergantung pada apa yang disebut “belief” (kepercayaan). Itu sebabnya, sihir tidak akan pernah mujarab pada dua golongan manusia: Golongan pertama, orang ateis dan siapa saja yang tidak meyakini efektivitas sihir. Golongan kedua, orang yang menggantungkan dirinya sepenuhnya kepada Tuhannya. “Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Rab-nya subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul’.” (113:1-3)

 

8). Dari anak kalimat ini: “Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat”,  dapat dirumuskan adanya empat jenis ilmu:

a). Ilmu yang memberi manfaat tapi tidak memberi mudharat (contohnya: ilmu kalam, ilmu irfan, ilmu syari’at).

b). Ilmu yang memberi manfaat dan juga memberi mudharat (contohnya: sains dan teknologi—nuklir bisa buat pembangkit listrik, tapi bisa juga dijadikan bom untuk dijatuhkan di tengah-tengah penduduk sipil).

c). Ilmu yang tidak memberi manfaat dan juga tidak memberi mudharat (contohnya: ilmu sulap)

d). Ilmu yang tidak memberi manfaat tapi memberi mudharat (contohnya: ilmu sihir, ilmu nujum).

Karena sihir masuk ke dalam kategori yang paling bawah, “yang tidak memberi manfaat tapi memberi mudharat,” maka Allah menjuluki Bani Israil—yang memilih sihir ketimbang Kitab Suci—sebagai “amat jahatlah perbuatan mereka (dengan) menjual dirinya dengan (sihir) itu, andai mereka mengetahui.” Sebabnya, karena “…sungguh mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang menukar Kitab Allah itu (dengan sihir), maka tiadalah baginya keuntungan di akhirat.” Dan dengan begitu, Allah memaklumatkan bahwa manfaat terbesar yang dikandung suatu ilmu ialah apabila memberikan keuntungan bagi pemiliknya kelak di akhirat.

 

9). Mohn maaf, pembahasan kali ini lebih panjang dua kali dari pembahasan-pembahasan sebelumnya. Karena ayat 102 ini memang merupakan ayat terpanjang kedua setelah ayat 282 di Surat (al-Baqarah) ini. Di sinilah menariknya al-Qur’an. Karena ayat 102 membahas tentang golongan manusia yang lebih memilih sihir ketimbang Kitab Suci, sementara bahasan ayat 182 ialah soal pentingnya mencatat setiap transaksi berajangka (termasuk tentunya wasiat) sebagai saksi hidup dan bukti kebenaran di masa-masa mendatang. Bani Israil mencampakkan Kitab Suci, sebagai saksi hidup dan bukti kebenaran atas kedatangan Nabi Muhammad serta al-Qur’an, ke belakang punggung-punggung mereka. Sebab dengan begitu, mereka tetap bisa menjadi Khalifah Duniawi atau ‘memelihara’ Khalifah Duniawi sebagai perpanjangan tangan kepentingan ekonomi dan politik mereka. Hari ini pun kita menyaksikan bagaimana Bani Israil telah mencampakkan ajaran Kitab Sucinya seraya memilih ‘sihir’ teknologi persenjataan untuk membunuh dan menteror penduduk Palestina.

 

 

AMALAN PRAKTIS

Islam mengajarkan pentingnya kebergantungan sempurna kepada Allah. Sayangnya, masyarakat Muslim kita masih banyak percaya kepada sihir ketimbang percaya kepada Allah. Kalau Anda termasuk diantaranya, yakinilah bahwa seandainya sihir itu mujarab, maka kita tidak dijajah oleh Belanda selama 350 tahun.

Related Posts

Tinggalkan Balasan