Al-Baqarah ayat 1

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 1by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 1SURAT AL-BAQARAH Ayat 1 alif-laam-miim   1). Dari sisi bahasa tidak ada artinya karena tidak terangkai menjadi satu kata yang utuh. Sehingga diperlakukan sebagai kumpulan huruf (alif, laam, dan miim) belaka; namanya huruf muqattha’ah (terpisah-pisah). Persoalannya, apakah semua (terutama bunyi) yang bukan kata lantas absah untuk disebut tidak berarti? Lalu bagaimana dengan desir angin, siulan […]

SURAT AL-BAQARAH Ayat 1

alif-laam-miim

 

1). Dari sisi bahasa tidak ada artinya karena tidak terangkai menjadi satu kata yang utuh. Sehingga diperlakukan sebagai kumpulan huruf (alif, laam, dan miim) belaka; namanya huruf muqattha’ah (terpisah-pisah). Persoalannya, apakah semua (terutama bunyi) yang bukan kata lantas absah untuk disebut tidak berarti? Lalu bagaimana dengan desir angin, siulan burung, suara ombak, auman harimau, ringkik kuda, kotek ayam, tangisan manusia, bunyi sirine, alarem mobil, rintik hujan, dan sebagainya? Bukankah semuanya itu tidak membentuk satu kata yang sempurna? Dan ternyata—seperti telah menjadi pengetahuan umum—semuanya punya arti. Bahkan mereka bisa membentuk orkestra alam yang indah yang tak mampu disaingi oleh konduktor manapun. Bukan hanya itu, semua realitas pasti punya arti, minimal menjadi identitas atas diri mereka masing-masing. Firman Allah: “…Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan (semua) ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka jauhkanlah kami dari siksa neraka.” (3:191)

 

2). Jika ada artinya, lalu? Artinya: tidak ada satu kejadian pun yang luput dari wilayah pemerintahan Allah. Karena kalau ada satupun kejadian—betapapun kecilnya—yang lepas dari kontrol Allah, maka kejadian itu berada dalam wilayah pemerintahan Tuhan yang lain atau, kalau tidak, kejadian itu berdiri dengan sendirinya (qiyamuhu bi nafsihi). Kedua kemungkinan itu mustahil. Yang masuk akal ialah: “Tidak ada suatu kejadian pun yang terjadi (misalnya terdengar, terlihat, teraba, terasakan, terpikirkan) pada seseorang kecuali dengan izin Allah…” (64:11) Penjelasannya: seperti diterangkan di Surat al-Fatihah (1) ayat 3 bahwa semua realitas yang ada adalah merupakan jelmaan dari Rahman-Nya. Sehingga bunyi (suara, apalagi suara seorang Qori’/Qori’ah) indah yang tersembul dari huruf-huruf alif-laam-miim tak lain dan tak bukan adalah pancaran Kasih-Nya yang dimaksudkan agar merambat masuk ke relung-relung sukma seseorang sebelum melanjtkan membaca al-Qur’an. Itu sebabnya huruf muqattha’ah seperti ini selalu terletak di awal surat. Dan tiap kali muncul, kecuali surat ar-Rum (Surat 30), selalu disusul dengan kata tunjuk (isim isyarah) kepada atau berita (khabar) tentang al-Qur’an.

 

3). Dengan demikian, bisa dimaknai bahwa penempatan huruf muqattha’ah di awal surat berfungsi semacam ‘musik’ instrumentalia untuk membuat terkesiap pikiran dan sukma calon pembacanya. Sebab membaca al-Qur’an harus melibatkan secara serentak dua fakultas sekaligus: intelektual dan spiritual. Intelektual untuk menangkap kebenaran-Nya, spiritual untuk merasakan kehadiran-Nya. Sehingga tidak tersisa ruang hampa di antara keduanya (antara kebenaran-Nya dan kehadiran-Nya). Karena keduanya memang menyatu dalam Rahman-Nya. Harapannya, setelah menyimak Kitab Suci samawi terakhir ini, seseorang bagai bermandi Kasih yang berbuntut pada: logis dalam berfikir, arif dalam betindak; tangkas dalam bernalar, santun dalam berakhlak. Logikanya menyatu padu dengan etikanya. Tidak ada ruang hampa di antara keduanya (antara logikanya dan etikanya).

 

4). Di Surat ar-Rum (30), huruf muqattha’ah ini memang tidak disertai dengan kata tunjuk dan kalimat berita tentang al-Qur’an. Tetapi berisi tentang ‘ramalan’ al-Qur’an seputar hasil akhir perang terbuka antara Romawi dan Persia, yang ternyata benar. Dari situ Allah hendak mengatakan bahwa al-Qur’an sebagai mukjizat akan meniscayakan benarnya semua ‘ramalan’ futuristiknya, baik di dunia maupun di akhirat. Ini sangat penting sebab bila al-Qur’an kehilangan kebenaran ‘ramalan’ masa depannya, runtuhlah semua ajaran yang dibangunnya. Sosoknya tak lebih dari sekedar “asātirul awwalyn” (dongeng orang-orang terdahulu) saja, seperti yg dituduhkan oleh mereka yang tidak mempercayainya (6:25; 8:31; 16:24; 23:83, dst).

 

AMALAN PRAKTIS

Saat Anda membaca alif-laam-miim atau huruf muqattha’ah semacamnya, bacalah menurut petunjuk qiraatnya atau tanda-tanda bacanya. Sebisa mungkin dengan suara yang merdu, lantas rasakan keindahannya seraya menghayati bahwa itu adalah alunan Rahman-Nya yang merambat dari Diri-Nya menyeruak masuk ke kedalaman lipatan-lipatan pikiran dan hati Anda.

Related Posts

Leave a Reply